Advokat / Pengacara dan Konsultan Hukum

SILVIA

Didaerah terpencil bagian timur kota Jakarta, terletak suatu perkampungan suku asli dari daerah tersebut tepatnya di Ujung aspal Pondok Gede. Kehidupan mereka sangat dekat satu sama lain. Maklum saja mereka masih memiliki hubungan kerabat satu sama lain. Tanah yang mereka tempati tersebut murni milik leluhur mereka, dan mungkin sudah dibagi-bagi untuk adik atau kakak dan saudara-saudara mereka sehingga saat ini walaupun tanahnya luas tapi ada beberapa patok kayu yang membatasi tanah satu dengan yang lain.
Disalah satu keluarga tersebut tinggal seorang kakek. Ditengah keluarga yang banyak memiliki keturunan, hanya orang tua ini saja yang tinggal sendiri. Kemanakah keluarganya? Oohh..ternyata beliau tidak menikah sampai seumur sekarang ini. Kira-kira umurnya sudah mencapai 89 tahun. Hhhmmm..sudah lumayan tua juga ya umur beliau. Kalo dihitung mundur dari tahun sekarang 2008 ke 89 tahun yang lalu berarti beliau lahir di tahun 1919. Wow…itu sich masih zaman belande gigit sepatu kuda. Orang-orang didaerah tersebut biasa memanggil kakek ini dengan sebutan Babeh Uban.
Pada zamannya dulu buyut dari Babeh Uban lumayan berpengaruh terhadap penduduk sekitar, karena kedekatannya dengan Tuan-tuan dan Noni dari Belanda, lagi pula banyak tengkulak-tengkulak dari Arab yang melakukan penjelajahan dari Sunda kelapa untuk melakukan transaksi jual beli di daerah tersebut yang menumpang beristirahat di rumah orang tuanya. Sebenarnya hal itu dilarang oleh bangsa Belanda, karena mereka takut perniagaan di kota Batavia di kuasai oleh bangsa dari Timur Tengah tersebut. Belum lagi bangsa cina yang lumayan merajalela. Pada tahun 1800an, Belanda sempat melakukan aksi pembunuhan terhadap bangsa-bangsa dari Cina. Karena ketakutannya terhadap penguasaan ekonomi Batavia diambil oleh Cina. Pembatasan-pembatasan wilayah satu dengan yang lainnya. Dibuat seperti benteng-benteng, yang sampai saat ini masih ada beberapa benteng yang masih berdiri di daerah Kota tua Jakarta. Seperti museum Fatahillah yang dulu merupakan
tempat tinggal dari salah satu Gubernur Belanda pada tahun 1800an. Maksud dari pendirian benteng itu dikarenakan untuk mempermudah pihak Belanda melakukan pengawasan.
Pada tahun 1919 kelahirannya yang penuh dengan suka mewarnai keluarganya pada zaman itu. Walaupun lahir ditengah kemelut peperangan orang tuanya tetap bahagia menerima anugerah ini. Ayah dan Ibu dari Babeh Uban bekerja sebagai pembantu rumah tangga di suatu keluarga Belanda yang dulunya buyut dari keluarga belanda tersebut adalah sahabat dari buyut Babeh Uban. Beliau memiliki 3 orang kakak dan 7 orang adik. Diantaranya 2 orang kakak laki-laki dan 1 orang kakak perempuan. Sedangkan adik-adiknya semua laki-laki.
Ayah dan ibu Babeh Uban bekerja dengan keluarga Belanda yang sangat dermawan. Beberapa tahun setelah kemerdekaan, kira-kira ditahun 1946 keluarga belanda tersebut meninggalkan Indonesia dan memberikan rumah dan tanah mereka Kepada keluarga Babeh Uban. Itulah awal keluarga Babeh Uban memiliki tanah yang seluas seperti sekarang ini.
Setelah orang tua, kakak dan adiknya lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Babeh Uban tinggal hanya sendiri bersama keturunan-keturunan dari saudara-saudaranya itu.
Kesendiriannya ini bukan tidak beralasan. Babeh uban ada seorang yang memiliki kelebihan, ia dapat merasakan hati menjadi seorang wanita, diapun dapat merasakan buang air kecil layaknya laki-laki. “ Ya..Babeh Uban adalah seorang setengah pria setengah wanita”. Pada zamanya dulu itu merupakan suatu aib bagi keluarga. Cacian dan makian yang keluar dari mulut saudara-saudaranya. Kata-kata penyesalan untuk kelahirannya yang keluar dari mulut orang tuanya, merupakan suatu sambaran kilat disiang hari baginya. Betapa tidak, itu bukan merupakan pilihannya. Dilahirkan normal sebagai seorang laki-laki lengkap dengan memiliki alat kelamin pria. Tetapi kenapa, wajahnya yang putih bersih, bentuk tubuhnya yang tinggi langsing bak nonni-nonni dari Belanda. Warna rambut yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Itu yang menjadikan dirinya seperti seorang wanita seutuhnya. Perilakunya yang halus, berbeda dengan pria pada umumnya. Masih tersirat sampai diusianya yang
sudah udzur ini.
Dimasa-masa mudanya Babeh Uban kerap berdandan seperti seorang wanita. Banyak pria-pria sebangsanya ataupun dari bangsa lain yang tertarik karena kecantikannya. Banyak yang mengagumi Babeh Uban layaknya bidadari. Mereka tidak mengetahui sebenarnya Babeh Uban.
"Silvia", itulah nama yang ia gunakan kala itu, beliau memilih nama itu dikarenakan penampilan dirinya yang persis seperti nonni dari Belanda.
Tuan-Tuan Belanda sudah banyak yang datang kepadanya untuk mempersuntingnya sebagai istri mereka. Dikala itu Babeh Uban alias Silvia, masih merasakan kesenangan dalam mempermainkan perasaan para laki-laki. Sedikitpun pria-pria itu tak ada yang mengetahui sebenarnya Silvia. Hubungan yang sangat dijaga oleh Silvia untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkannya. Keluarga Silvia sudah menyerah dengan perilaku Silvia. Mereka hanya menutup mulut mereka rapat-rapat. Silvia nama yang digunakan Babeh Uban pada saat di luar daerah tempat tinggalnya. Jika dirumah nama dari orangtuannya lah yang digunakan “Hasan” itulah nama aslinya.
Kehidupan ini terus berlangsung, hingga Silvia menemukan seorang pria yang membuat hatinya penuh dengan gejolak. “Amir” nama lelaki keturunan dari Arab. Dialah yang telah mencuri hati Silvia. Hari demi hari mereka jalani percintaan itu. Silvia masih terus bisa menjaga dan menahan kerap kali Amir meminta “itu..” kepadanya. Beribu alasan Silvia sampaikan untuk menolaknya. Pernah suatu saat, Amir penasaran dengan perilaku Silvia yang begitu menjaga sekali kewanitaannya, Amir tidak sengaja memegang alat kemaluan Silvia, tapi apa yang terjadi??’ Silvia menampar pipi pria itu, dan selama beberapa hari ia selalu menghindari dari Amir. Silvia sangat takut sekali kedoknya akan terbuka karena perilaku Amir kemarin. Sebenarnya, bukan ketakutan itu yang ia rasakan dengan sangat, melainkan Seilvia takut kehilangan cinta dari Amir.
Beberpa kali Amir berusaha meminta maaf Kepada Silvia, yang pada akhirnya Silvia mau memaafkannya. Amir berjanji untuk tidak mengulangi hal itu lagi. Mereka pun melanjutkan hubungan mereka seperti biasa.
Hubungan Silvia dan Amir sudah berjalan cukup lama, dan membuat Amir bertekad untuk segera mempersunting Silvia.

Pada suatu malam, Amir dan Silvia berjalan berdua beriringan sambil bergandengan tangan. Saat itu suasana sangat romantis sekali, ditengah redup cahaya bulan yang mengintip dari balik pohon yang tumbuh disepanjang jalan. Tempat itu sekarang jalan raya yang menuju lubang buaya kalau dari arah pasar pondok gede.
Di sepanjang jalan itu niat Amir bulat untuk melamar Silvia. Dengan terbata-bata Amir memberanikan diri mengatakan hal itu,
“Sil…vii..a.., aa..aakk..ku meen..ciiin…taimmuu…!!! kata-kata awal yang terucap dari Amir, Silviapun membalas, aku juga mencintaimu mas. Lalu sambil memegang ranting pohon kering, kepalanya yang terus menunduk seperti takut menerima kekecewaan jika Silvia menolaknya. Amir melanjutkan kembali kata-katanya.., ‘Sil…kkaa…mmmuu…, hhhmmmaauuu.. jadi..iiiss..ttteeerr…rii aku ga?
Silvia yang begitu kaget mendengar kata-kata dari Amir, seperti tak pernah menyangka dirinya akan dipersunting. Semuanya hilang sekejap, karena begitu gembiranya Silvia lupa dengan keberadaannya saat itu. Status yang tidak jelas dalam dirinya, hanya akan mengecewakan banyak orang. Amir yang begitu dalam mencintainya, membuatnya tak kuasa menahan segala penyesalan. Silvia hanya bisa tertunduk dan tak dapat mengeluarkan sedikitpun kata-kata. Apa yang bisa ia perbuat hanyalah memohon maaf Kepada Amir atas segala kebohongan yang telah ia lakukan. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi dengan sampah-sampah bekas daun kering, Amir terus menunggu jawaban dari Silvia.
Sampai akhir diujung jalan dekat rumah Silvia, Silvia membuka semua jati dirinya. Dengan ragu-ragu silvia mulai angkat bicara “Mas, maafkan aku…,”
“aku tidak pantas untuk mas miliki”.
“Aku telah banyak melakukan kesalahan,
“aku telah berdosa
‘Aku telah membohongi mu selama ini.

Pada saat itu Amir bingung dengan jawaban Silvia,” maksud kamu apa Sil “?.

“ Mas, aku adalah bukan seperti yang saat ini kau lihat.
Amir “ ????
Seorang wanita….??? ‘bukan mas…!!!,
Silvia menunduk tidak berani menatap mata Amir, “ aku adalah seorang lelaki, sama sepertimu mas..’’!!

Amir tidak percaya dengan kata-kata Silvia.
Dengan terpaksa Silvia membuktikan perkataanya ia angkat rok yang ia gunakan dihadapan Amir, “ ini mas lihat.., aku juga punya sama dengan yang kamu miliki”
Amir tersentak bagai di sambar gledek!!’’. Amir tidak dapat menerima perlakuan Silvia terhadap dirinya. Kemarahan yang keluar dari mulut Amir, sudah Silvia maklumi. Dibiarkannya kata-kata kasar keluar dari mulut Amir. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Amir marah seperti itu. Silvia takut melihatnya. Lambat laun, amarah Amir mereda setelah melihat Silvia menangis terduduk dipinggir jalan. Amir menyadari karena dasar cinta yang begitu mendalam dari dalam hatinya untuk Silvia, Amirpun bersedia untuk tetap mencintai Silvia, sebagai sosok Silvia biasa yang ia kenal. Tidak melihat siapakah dibalik Silvia. Cinta itu tak dapat disatukan karena memang tidak akan mungkin.
Silvia berjanji pada Amir, sampai akhir hayatnya cintanya tetap untuk Amir. Dan Amir pun berjanji yang sama dengan Silvia.
Diujung jalan itupun akhirnya Silvia dan Amir mengucapkan janji setia, dan saat itu pun akhir dari sebuah hubungan sepasang kekasih Silvia dan Amir.
Setelah kejadian itu Silvia kembali lagi menjadi “Hasan”, sosok lelaki yang penuh dengan kelembutan bak seorang wanita pada umumnya. Janjinya itu terus ia pegang sampai saat ia berumur 89 tahun seperti saat ini. Semua kejadian itu ia alami pada saat usia remaja.
Sampai saat ini, Silvia alias Hasan alias Babeh Uban tetap menyimpan cintanya, dan akan terus ia bawa sampai akhir hayat hidupnya. Itulah alasan kesendirian Babeh Uban sampai saat ini.
Dimana Amir dan bagaimana kabarnyapun tak pernah ia ketahui lagi.
Buatnya, Cinta adalah suatu keindahan yang tak terlukiskan , cinta adalah suatu anugrah yang tidak dapat di ungkapkan, dan cinta itu adalah kekasih hati.
Dengan kekurangannya seperti ini, Babeh Uban tak pernah menyesali, karena dengan dia seperti ini, menjadi seorang setengah wanita dan setengah laki-laki ia dapat merasakan cinta dari Amir.



Shena
Depok Agust 08

Tidak ada komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.