Advokat / Pengacara dan Konsultan Hukum

Buku Generasi MTV

sepertinya buku anda sangat menarik, tapi kalau saya lihat dari
sinopsis yang anda opinikan, buat saya yang awam dan sebagai aktivis
marketing adalah sesuatu yang konyol.

justru kita harus menyisiati dengan strategi yang tidak
fundamentalis, melainkan dengan filterisasi secara persuasi para
anak muda gen MTV. globalilasi tidak dapat dipungkiri, dan MTV sudah
menjadi dogma budaya global bagi anak muda [urban] dimana mereka
dituntut kreativitas [kompetisi]yang tinggi [gila] untuk mencari
jati diri mereka dengan cara menghibur atau dihibur.MTV sudah
menular ke ratusan negara dengan pemirsa anak muda seluruh dunia
yang hampir milyaran jumlahnya. ini bukan masalah perang barat dan
timur, lebih kompleks lagi dan ini berhubungan dengan para
marketing/produsen dunia dalam memasarkan produk-produk unggulan
mereka untuk para anak muda.

dan sangat dangkal kalau anda mulai menggalinya dari ikon-ikon pop
semata, anda harus lebih luas membaha/mengamati dari berbagai segi
juga. baik negatif atau positifnya.

justru banyak produk lahir karena terinspirasi dari MTV itu sendiri.
ini berarti banyak sekali/jutaan tenaga kerja yang bergantung dari
eksistensi gen MTV

cheers!

--- In penulislepas@ yahoogroups. com, Dadang Rush
wrote:
>
> Telah Terbit Buku Baru
> Judul : Genersi MTV
> Penerbit :
> Jalasutra
> Bulan terbit :
> Agustus 2008
> Penulis :
> Dadang Rusbiantoro
> Buku ini merupakan wujud kegelisahaan saya melihat banyaknya
> anak muda saat ini, terutama di daerah perkotaan, yang dihegemoni
dan terjajah
> oleh kebudayaan Barat. Terutama, dalam buku ini, oleh MTV. Mereka
dijejali
> berbagai macam tayangan yang membuatnya menjadi tak kritis atas
segala
> permasalahan sosial yang terjadi saat ini, dan menerima segalanya
tanpa ada
> kekuatan menolak. Dalam tingkatan tertentu, MTV berhasil membujuk
remaja agar
> meniru pakaian dan gaya hidup para ikon pop. Dengan tayangan 24
jam tanpa
> henti, proses pembentukan remaja generasi MTV ini dilakukan secara
efektif dan
> efesien. MTV bisa menentukan ikon apa yang remaja harus kultuskan,
pakaian dan
> gaya rambut apa yang harus ditiru, dan gaya hidup macam apa yang
harus
> direproduksi remaja sehari-hari, agar mereka selalu mengikuti
trend dan tidak
> ketinggalan zaman. Di sinilah kita melihat bahwa MTV telah menjadi
mesin
> raksaksa penghancur identitas dan pabrik yang memproduksi tiruan,
imitasi, atau
> replika dari para ikon pop.
> Oleh karena itu, sudah menjadi
> kewajiban kita untuk memberikan informasi dan kritik, terutama
bagi budaya
> populer saat ini, yang nyaris jarang diteliti secara ilmiah. Di
dalam buku ini,
> saya mencoba memaparkan sejarah kelahiran budaya populer yang
dimulai pada
> tahun 60-an, ketika flower generation (generasi bunga) tumbuh dan
> berkembang, munculnya kaum hippies, third great awakening
(kebangkitan besar ketiga), counter culture (budaya tanding), new
> left (kiri baru), dan perkembangan musik pop. Di zaman ini, muncul
> gerakan perlawan atas budaya dominan, budaya konsumerisme, dan
kapitalisme Barat
> yang hanya mementingkan kesejahteraan dan pencapaian status sosial
yang tinggi,
> sehingga menciptakan individualisme serta materialisme untuk
mencapai
> kesejahteraan dan kekuasaan, salah satunya berupa penerimaan
spiritualitas Asia
> sebagai penangkal budaya Barat tersebut. Gerakan ini dipelopori
oleh kaum
> Hippies dan SDS (Student for a Democratic Society) atau new left
dengan cara mengkritisi ketidakmampuan pemerintah Amerika mengatasi
penyakit
> sosial yang terjadi pada saat itu, seperti rasisme, materialisme,
militerisme,
> kemiskinan dan eksploitasi, serta memperjuangkan hak-hak sipil dan
menentang
> perang Vietnam.
> Tapi sejak munculnya MTV, atau
> singkatan dari ¡Music Television¢, kini budaya anak muda (youth
> culture) ini sengaja dieksploitasi oleh MTV sebagai industri
hiburan yang
> hanya bertujuan meraih keuntungan komersil semata, dan hanya
menguntungkan kaum
> kapitalis, serta bukan lahir dari pembrontakan kaum remaja itu
sendiri. Oleh
> karena itu, kita harus mengetahui sejarah lahirnya MTV dan mengapa
MTV bisa
> lahir, siapa yang memiliki MTV (Viacom yang menjadi pemilik MTV,
juga memiliki
> Block Buster Video, CBS, Showtime, Paramount, Nicklodeon, TNN, dan
UPN),
> bagaimana cara MTV mencuci otak para remaja dengan segala
tayangan, pesan,
> iklan, musik, dan gaya hidup yang mereka sampaikan kepada pemirsa
televisi
> untuk direproduksi di dalam kehidupannya sehari-hari, tanpa adanya
daya kritik
> untuk menolak atau mengelak.
> Di dalam buku ini, saya juga mencoba
> menganalisis ideologi dari para ikon pop, mulai dari gerakan flower
> generation, punk, reggae, gothic, new wave, heavy metal, hip hop,
gangsta
> rap, dan grunge melalui pakaian yang mereka kenakan. Saya juga
mencoba
> memaparkan bagaimana peran ikon (khususnya ikon pop) sebagai
simbol perlawanan
> dari komunitas tertentu terhadap budaya dominan dan otoritas
kekuasaan kelas
> atas dengan cara menciptakan subkultur yang menjadi identitas
kulturalnya, dia
> juga harus mampu merepresentasikan hegemoni tandingan
(counterhegemoni) ,
> pemberontakan, dan kemarahan dari komunitasnya melalui musik,
fashion,
> tingkah laku, dan gaya hidup yang diciptakannya. Seorang ikon yang
menjadi agen
> dari perubahan harus mampu menjadi juru bicara dan memperjuangkan
ideologi dari
> komunitasnya, sehingga dia akan menjadi tokoh panutan bagi para
pengikutnya.
> Untuk melawan arus globalisasi dan
> hegemoni MTV ini, kita memerlukan strategi kebudayaan. Strategi
ini adalah: budaya
> tanding (counterculture) , renaisans, budaya campur sari, dan
menciptakan
> ikon. Gerakan budaya tanding ini melakukan perlawanan dengan
memadukan tiga
> unsur penting: budaya, agama, dan seni. Di dalam budaya, kaum
hippie menciptakan komunitas seperti di zaman prasejarah yang
komunal, nomaden, dan
> mencukupi hidupnya sendiri, sehingga mencoba untuk tidak
mengkomsumsi
> barang-barang dari luar. Mereka juga sangat toleran,
memperjuangkan hak-hak
> sipil dan demokrasi dengan gerakan tanpa kekerasan (non violence)
> seperti Mahatma Gandhi. Berbeda dengan reformasi yang kita lakukan
saat ini
> yang meninggalkan atau melupakan unsur budaya, sehingga tak ada
perubahan
> mendasar yang benar-benar dapat kita rasakan. Di dalam Renaisans,
kami mencoba
> mempertanyakan dan membahas apakah kita perlu melakukan renaisans
untuk mencari
> akar budaya kita, seperti orang Eropa yang menemukan budaya Yunani
dan Romawi
> kuno sebagai akar budayanya. Di dalam musik campur sari, dikotomi
antara Barat
> dan Timur yang kita anggap sebagai dua kutub yang tak pernah akan
bisa bertemu,
> tetapi kenyataannya di dalam kesenian, terutama musik, dapat
menjadi sintesis
> yang harmonis. Yang satu bukan menindas dan menjajah yang lain,
tapi sebaliknya,
> saling mengisi dan memberikan warna dan teksturnya masing-masing.
Yang terakhir
> adalah kita harus menciptakan ikon-ikon pop baru yang autentik dan
bukan
> plagiat dari ikon-ikon pop di Barat.[]
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

Tidak ada komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.