Advokat / Pengacara dan Konsultan Hukum

Tanah Air Indonesia

Muhammad Sirul Haq

Adakalanya perjuangan berhasil dengan tetesan darah, berjuang demi suatu perubahan negara. Kita sama –sama pernah tau dan mungkin lupa akan penindasan yang terjadi di negeri ini yang selalu menyisahkan kepedihan dan kemelaratan yang teramat sangat.

Orang-orang berlalu lalang begitu saja tanpa merasa terbebani, bahkan seiring waktu bermasa bodoh akan keadaan tertindas yang selalu terjadi. Kita pun tak dapat bertahan tanpa ikut kedalam lamunan tersebut, seakan terus menggoda dan membayangi akan takdir bahwa kita tak akan pernah menemukan kebebasan dialam yang tak pernah merdeka ini.

Lahir pertanyaan besar, seberapa banyakkah luapan perhatian negara terhadap rakyatnya yang sampai hari ini tetap dalam kondisi tertindas. Bahkan, penindasan itu ternyata dilakukan oleh negara melalui tangan-tangan pemerintah dan agen-agen kapitalis yang meringsuk ke berbagai sendi tulang sum-sum.

Betulkah masih ada kebebasan akan jaminan kemerdekaan berdaulat, tentu tidak! Sangat lacur bila kemudian menyatakan perlindungan dan pemeliharan rakyat dilakukan oleh negara, toh ternyata pemerkosa rakyat adalah negara itu sendiri.

Dimanakah keadilan itu sekarang? Apakah telah berwujud abu yang siap terbang dihempas kekuatan angin sepoi, ataukah tersembunyi dalam di balik renung hati yang tak mampu berucap lagi akan kondisi kebobrokan negara yang sampai hari ini tidak bisa memberikan apa-apa selain kebodohan.

Kawan, mungkin hari ini adalah kebodohan yang terpelihara dengan menyembunyikan kebenaran.

Pembohongan besar-besaran pun terjadi, pemerintah berkoalisi dengan militer, dan media melakukan propaganda akan kemakmuran yang ternyata kemelaratan. Penindasan yang terjadi diselubungkan dengan ketenteraman akan konser-konser banci pemusik metal, rock n roll, slow pop dan punk. Seakan negara ini aman sentaosa, padahal yang terjadi kebijakan sistematis yang melahirkan keterpenjaraan rakyat dalam ruang bui yang dibuat sendiri yang dirancang pemerintah.

Percayakah kita dengan media hari ini, demi status quo melanggengkan kekuasaan yang ada, menyembunyikan kebenaran, dan demi kepentingan kapital menjual kepala rakyatnya demi gagasan hedonisme dan konsumerisme yang menggejala dan menggrogoti tarikan nafas insan pembangunan Indonesia.

Media telah melakukan pelacuran, menjual idealismenya, independensinya dan parahnya lagi tidur seranjang dengan kekuatan kapital pemodal yang telah menggadaikan rakyatnya sendiri demi sesuap nasi. Media telah melakukan hegemoni kekuasaannya sendiri, demi kelanggengan hidupnya rela melakukan pembelotan propaganda perlawanan rakyat menjadi propaganda rakyat sapi perah.

Media telah menggadaikan dirinya, dengan bermasa bodoh dan mungkin pura-pura lupa dengan keberadaan rakyatnya. Menghilangkan sikap kritis akan berbagai kebijakan negara yang menyengsarakan rakyat, terlebih lagi media menjadi mandul oleh sogokan kekuasaan dan materi untuk tegas menyatakan bahwa sampai hari ini rakyat belum merdeka, penindasan terus berlanjut dan pembodohan yang tanpa henti menggrayangi rakyat.

Dimanakah media berpijak, ketika negara melalui tangan-tangan pemerintah mengeluarkan kebijakan swastanisasi kampus dan berapa kemudian anak-anak bangsa yang tak dapat mengenyam pendidikan yang semakin mahal mencekik. Buta huruf dan kebodohan bangsa tak terelakkan lagi. Parahnya lagi, kebijakan pendidikan yang katanya alokasi 20 persen dari APBN ternyata habis di korupsi tanpa mampu media mengungkapnya.

Media kemudian hanya menampilkan berita-berita ceremonial yang melahirkan wartawan-wartawan ceremonial yang meliput berdasarkan pesanan dan berita yang dibuat hanya pepesan kosong belaka. Tanpa mampu membangkitkan perlawanan rakyat yang selama ini tertindas akan kebijakan negara yang terus menekan tanpa mengenal rasa belas asih.

Kemandulan media pun terjadi pada persoalan kenaikan BBM, media hanya secara hambar memberitakan kenaikan tersebut tanpa mengkritisi lebih dalam demi munculnya kesadaran bahwa naiknya BBM lebih disebabkan penjajahan global yang dilakukan Amerika melalui tangan-tangan IMF, Bank Dunia dan CGI menekan demi menghilangkan subsidi untuk rakyat miskin.

Anehnya lagi, media mendukung kebijakan pemerintah dengan penayangan propaganda kenaikan BBM yang sangat tidak irrasional. Media mementingkan kapital perusahaan akan keuntungan dari penayangan itu, tanpa berfikir lebih jauh pada persoalan seberapa parah dampaknya terhadap rakyat yang harus dibayar dengan harga mahal.

Media pun tak mampu mengkritisi kebijakan negara yang melakukan deal-deal politik dan kekuasaan dengan pihak Amerika. Demi kekuasaan pemerintah rela menggadaikan tanah rakyat untuk dijadikan lahan tambang, dan ternyata kemudian rakyat sekitar yang menjadi korban contoh kasus Teluk Buyat di minahasa, masyarakat Timika oleh pertambangan PT. Freeport, Exxon Mobil terhadap persoalan blok Cepu, PT. Arun di Aceh yang telah merampok gas alam milik rakyat Indonesia. Wajarlah bila kemudian masyarkata Aceh memilih memberontak akan kebijakan negara tersebut.

Menolak Ampao dan Gerakan Banci

Tidak ada komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.