Advokat / Pengacara dan Konsultan Hukum

OBAMA TUDUH HAMAS TIDAK DEMOKRATIS TERHADAP ISRAEL : Terkait Pidato Obama Mengomentari Peluncuran Roket Hamas


DUI – Presiden AS ke-44 Barack Husein Obama, Jumat Siang waktu Indonesia, mengomentari peluncuran roket Hamas yang menjadikan sasaran warga sipil Israel. Obama menganggap Hamas telah melakukan tindakan yang tidak demokratis dengan melakukan tindakan peluncuran roket, apalagi menjadikan pemukiman penduduk dan warga sipil Israel sebagai sasaran. Obama juga turut mendukung setiap tindakan yang dilakukan Israel, dan siap melindungi untuk memastikan Israel aman dari serangan Hamas.
Terkait berita diatas yang dilansir berbagai stasiun televisi di Indonesia tentang pemberitaan opini Obama dalam kapasitas sebagai presiden AS. Secara jelas terlihat bahwa dukungan AS terhadap Israel tidak mengalami perubahan signifikan setelah Obama memimpin Amerika, dan dikwatirkan pernyataan Obama menambah kekecewaan Hamas untuk melakukan tindakan yang lebih radikal.
Hal yang paling menarik untuk dianalisa lebih lanjut, pernyataan Obama yang menyatakan tindakan Hamas menyerang pemukiman di Israel merupakan sikap mengacuhkan Demokrasi internasional. Lantas demokrasi seperti apa yang dipahami Obama, bahwa kerugian Palestina dan sekitar 1.300 nyawa akibat ulah Israel bukan sebuah tindakan tidak demokratis dan melanggar HAM Internasional serta Hukum Humaniter Internasional.
Demokrasi Menurut Obama/AS
Demokrasi yang dilontarkan Obama/AS terkait incident peluncuran roket Hamas, menandakan bahwa kepentingan politik sesaat dan oportunis yang sangat kental melekat. AS menggunakan hak vetonya di PBB dengan alasan demokrasi bahwa Hamas juga harus melucuti roketnya bukan Cuma Israel. Lantas dimana persamaan hak diantara Negara – Bangsa yang dipahami Obama, Kemerdekaan setiap individu, Kedaulatan Negara dan perlindungan dari tindakan sewenang-wenang.
Hal yang sangat mengecewakan, ternyata demokrasi yang didengungkan AS hanya merupakan isapan jempol semata. Demokrasi hanya dijadikan alat penekan saja bagi Negara-negara ketiga yang tidak menguntungkan AS, ataupun untuk mematikan kedaulatan suatu Negara – bangsa. Lihat saja kasus Afganistan, Irak dan sekarang Palestina. Demokrasi juga hanya dijadikan tameng bagi AS dan sekutunya untuk melindungi diri dari sikap yang dianggap mereka radikal, yang kemudian lahirlah isu terorisme yang diciptakan untuk mengejar dan menangkap setiap yang dianggap ancaman. Padahal ancaman terbesar tidak terwujudnya demokrasi di dunia, tak lain adalah Israel dan AS itu sendiri.
Demokrasi di Indonesia
Indonesia selayaknya mengambil sikap perlawanan terhadap kondisi ini, secara internasional Indonesia didudukan pada Negara yang tidak memiliki power. Indonesia belum menjadi perhitungan Israel dan AS sebagai penekan kebijakan mereka, yang sebenarnya melanggar aturan main demokrasi global.
Saatnya Indonesia, berada pada kondisi membangun demokrasi tanpa perlu pelibatan lebih jauh AS di Negara ini. Karena demokrasi yang dianggap AS paling betul yang dijalankan di Negara mereka ternyata hanya apologi semata, dan tak lebih hanya alat imperialisme AS.
Indonesia dalam membangun demokrasinya tidak perlu berharap banyak bahkan menghilangkan pengaruh AS, termasuk harapan baik terhadap Obama bagi untuk merubah keadaan di Indonesia. Membuat kebijakan nasionalisasi asset – layaknya di Bolivia – menghilangkan ketergantungan asing dengan mendorong kekuatan ekonomi rakyat. Dan kebijakan ekonomi, politik, social , budaya dan keamanan lainnya.
Saatnya kemandirian bangsa digerakkan secara dinamis, dan jadikan momentum pemilu 2009 sebagai perubahan mengarah ke yang lebih baik. Dengan tidak memilih politisi busuk, korup, dan beralih pada wajah baru yang tercerahkan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Tidak ada komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.