Advokat / Pengacara dan Konsultan Hukum

Sang Gadis Amurang

Muh Sirul Haq

Dia terduduk di pojok pub, sambil mengutak atik HP nya dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulut seksinya. Ditambah dengan balutan tank top putih ketat yang minim menambah gairah bagi pria yang melihatnya. Sesekali kepulan asap rokok itu keluar dari mulutnya, seakan tanpa ada pria hidung belang yang menatapnya tajam.
Tampak sepintas lalu aku pun memperhatikannya, laganya hidung belang lainnya. Mencari mangsa di deretan restroom menatap setiap wanita yang ada di dalam duduk berbaris sambil mengisap rokok dengan pakaian minim. Tak ada yang manis diantara deretan gadis seksi itu, dan lagi-lagi si gadis yang duduk di pojok pub itu yang jadi pilihan. Dengan gaya malasnya, dia dipanggil sang mami untuk masuk ke dalam dan duduk bersama yang lain. Dan akhirnya dengan wajah malasnya itu, dia menjadi pilihan kami.
Tanpa basa basi dia ikut bersama kami duduk di sofa, dan duduk diantara kami. Saya dan jefri pun mulai berkenalan dengan dia dan tanpa ada basa basi mulailah pertanyaan demi pertanyaan kami ungkapkan. Mulai dari nama hingga kenapa menjadi pelayan pub menjadi pilihannya. Dialogpun berjalan waktu demi waktu dan tak terasa 3 jam terlewati dan seakan sulit untuk dihentikan.

Namanya Linda, tinggal di Amurang umur 23 tahun. Dia menjadi gadis pelayan pub sudah berjalan 6 bulan yang dulunya pelaya di sebuah mall di Manado. Keberadaannya tidak diketahui orang tuanya, bersama dengan teman se profesinyasebanyak 30 gadis belia. Tanpa henti menemani sepinya malam sang hidung belang, dan gadis ini tanpa mengenal malu lagi mendekati sang mangsa, sang laki-laki hidung belang. Ya gadis Manado ini mendapatkan setengah dari biaya menemani kami, sekitar 90 ribu dan ini berarti linda hanya memperoleh 45 ribu aja. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan tapi itu pilihan hidup baginya. Saya sempat menanyakan cita-citanya, ya katanya mau jadi ibu yang baik. Sebuah kondisi kontras antara keinginan dan kenyataan hidup yang harus dilaluinya.

Ya kami bermain pancasila, mungkin dia tidak tau kalo pancasila itu sudah di luar kepalaku. Dan hadiah yang kudapat darinya yaitu pelukan, ciuman di pipi dan dahi. Tepat jam 1 kami bertiga keluar dari tempat tersebut, dengan menggaruk kocek kami senilai 200 ribu rupiah.

Tidak ada komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Diberdayakan oleh Blogger.