From: Erwin Arianto <erwinarianto@ gmail.com>
To: ruangdiskusi@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, August 5, 2008, 11:09 PM
Dalam kehidupan kita saat ini banyak kita temui korupsi dan saat ini semakin
gencar bangsa Indonesia melakukan pemberantasan korupsi. tetapi anehnya
semakin di brantas semakin banyak korupsi yang tumbuh, mungkin istilahnya
mati satu tumbuh seribu, lalu kenapa hal ini bisa terjadi karena pemerintah
tidak membuat aturan yang mendasar untuk memberantas korupsi.
Apasih yang dimaksud dengan kebijakan mendasar untuk memberantas korupsi,
mungkin salah satunya adalah tidak bergaya hidup mewah atau bergaya hidup
sederhana, apa hubungan korupsi dan gaya hidup mewah?, hubungannya adalah
jika seseorang bergaya hidup mewah lalu hal itu akan membuat orang lain
disekitarnya akan iri akan kemewahan yang diberikan lalu mereka berusaha
dengan sekuat tenaga dan berbagai cara untuk bisa seperti orang yang
memiliki gaya hidup mewah.
Tapi ironinya masyarakat Indonesia, yang pada umumnya suka memamerkan apa
yang dimilikinya di tambah memiliki gaya hidup yang mewah, hal ini
menyebabkan suburnya praktek korupsi di Indonesia, dari para pejabat, para
pegawai negeri dan swasta, sampai tinggat RT/RW, karena saat ini masyarakat
Indonesia melihat orang bukan dari kepribadianya, tetapi apa yang
dimilikinya. berapa banyak harta yang dimilikinya.
Ada pepetah dari manado (kalau tidak salah) "Lebih Baik kalah nasi, Dari
pada Kalah aksi" artinya walau di rumah atau kebutuhan hidup kekurangan,
tetapi di luar kita harus terlihat wah, hal ini sungguh berbahaya, kita
menghalalkan segala cara untuk mendapat kemewahan, agar bisa di pandang
orang, walau dengan cara korupsi atau berhutang.
Seandainya pemerintah mau menerapkan gaya hidup sederhana, tidak dengan
mobil mewah, rumah dinas yang mewah, mungkin korupsi bisa ditekan, kita
ambil contoh India, Mereka menerapkan fasilitas yang tidak mewah untuk
negaranya, saat ini india bisa maju. Diluar itu kalau pejabat tidak bergaya
hidup mewah berapa Devisa Negara bisa terselamatkan, yang selama ini Pajak
yang kita bayar (Pajak kendaraan, Pajak Penghasilan, PPN/PPnBM, pajak
restoran, dan berbagai jenis pajak lainya) di pergunakan untuk menghidupi
para pejabat yang katanya wakil rakyat.
Semua fasilitas dan gratifikasi yang di berikan oleh rakyat lewat pajak yang
diberikan di pergunakan oleh para wakil yang tidak mewakilkan untuk dapat
bergaya hidup mewah, Kita yang bayarin para DPR/MPR/DPD untuk jalan-jalan
keluar negeri, Fasilitas Kendaraan mewah keluaran terbaru, Fasilitas Rumah
dinas, Fasilitas yang katanya pembahasan UU/UUD, SBY menekankan kita untuk
Berhemat, dan alasan ini juga di pakai dalam kebijakan Saat Penaikan BBM.
Kenapa selalu rakyat yang diminta berhemat, lalu apakah pejabat boleh
bergaya hidup glamor?, karena kebiasaan hidup mewah yang di contohkan oleh
pejabat maka hampir seluruh rakyat Indonesia Melakukan gaya hidup mewah dan
Pamer harta atau kekayaan, di tunjang dengan maraknya pusat perbelanjaan
yang memamerkan barang-barang yang eksklusif yang tidak terjangkau oleh
masyarakat, sehingga untuk mendapatkan barang-barang yang eksklusif
masyarakat dan pegawai rendahan melakukan korupsi atau berhutang agar mereka
bisa seperti para pejabat.
Coba bayangkan kalau semua pejabat tidak bergaya hidup mewah dan tidak
menghambur-hamburka n uang negara, berapa banyak pendapatan yang bisa
dimanfaatkan untuk rakyat yang membutuhkan, seandainya tunjangan yang
diberikan kepada pejabat yang nilainya Milyaran Rupiah dimanfaatkan
membangun sekolah-sekolah yang hampir ambruk, berapa banyak sekolah yang
bisa dibangun, Seandainya ongkos studi banding yang luar biasa mahalnya, di
tiadakan dan di gantikan dengan pemberian benih padi gratis bukankah akan
mensejahterakan petani kita
Apakah para pejabat membutuhkan mobil dinas yang harganya Milyaran,
jawabanya tidak meraka bisa menggunakan produk alternatif, seharusnya yang
mendapat eksklusifitas adalah Rakyat bukan pejabat, karena rakyat lebih
membutuhkan, lihat dan buka mata kita, berapa banyak rakyat miskin secara
aktual bukan data statistik pemerintah yang telah di manipulasi, berapa
banyak korban gizi buruk, berapa banyak anak-anak tidak sekolah, sebuah hal
yang kontras kalau kita melongok ke gedung MPR, atau Kantor-kantor Instansi
Pemerintah, Disana Kita bisa menemukan Mobil Plat merah yang berupa Mobil
Mewah, Mereka cuma bisa bersilat lidah, semua pejabat sama dengan penjahat.
Saya mencoba mengajak seluruh sahabat untuk tidak bergaya hidup mewah,
karena hidup sedarhana lebih membawa kedamaian, dan kedamaian lebih membawa
kebahagian, Dalam hal ini juga saya mengingatkan kembali kepada semua
sahabat, agar dalam pemilihan-pemilihan umum kita harus memilih wakil kita
dengan tepat, Bukan karena dia populer atau terkenal, bukan karena seorang
artis, atau pilotikus yang mapan. dan jangan juga mau memilih karena di beri
uang ratusan ribu, atau baju. karena jangan lupa apa yang kita dapat pasti
ada ongkosnya, pasti ada udang di balik batu, pasti ada maksud jahat di
balik muka manis yang dicitraknya, pilih yang bisa membangun rakyat, pilih
yang mempunyai integritas, pilih yang mempunyai rekam jejak yang baik, kalau
anda tidak menemukan tidak memilih mungkin bisa menjadi alternatif, hal ini
bisa menjadi pelajaran kepada Para penjahat politik, bahwa rakyat tidak
bodoh, dan rakyat Indoesia tidak mau di bodohi, dan rakyat tidak mau memilih
para Koruptor.
http://erwin- arianto.blogspot .com/2008/ 08/gaya-hidup- mewah-penyebab- korupsi.html
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
[PKS] Gaya Hidup Mewah penyebab Korupsi
Diposting oleh sirulhaq
Belajar Menulis Non Fiksi
Mungkin Anda pernah membaca tulisan
saya yang berjudul "Energi Alternatif Dan Political Will Pemerintah
(Tulisan gagal/baca sampai habis!)". Tulisan ini diawali dengan kalimat "Buah
jarak mampu menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar".
Tulisan ini juga dilengkapi dengan berbagai data yang diketahui dan hasil
pencarian penulis terkait dengan informasi mengenai energi alternatif.
Kesimpulan bahwa buah jarak mampu menggantikan peran solar berdasarkan penelitian
yang dilakukan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Robert Manurung,
bekerja sama dengan Mitsubishi Research Institute, Jepang.
Data lainnya adalah Jepang
pada saat Perang Dunia II sudah menggunakan minyak dari buah jarak sebagai
bahan bakar pesawat tempur dan peralatan perang lainnya.
Energi Alternatif lainnya yang saya angkat dalam tulisan itu adalah
kotoran hewan ternak. Energi biogas dapat diproduksi dari kotoran hewan ternak.
Informasi mengenai biogas ini juga dilengkapi dengan data-data yang saya
peroleh.
Melihat adanya peluang memproduksi
energi alternatif ini, saya mencoba untuk berkomentar. Potensi ini tidak akan
terwujud secara massal, bila tidak didukung oleh political will pemerintah.
Oleh karena itu, saya mengusulkan untuk membentuk "gerakan penanaman
sejuta pohon jarak" serta "program penggalakkan peternakan
berorientasi biogas metan".
Tapi ternyata "gerakan
penanaman sejuta pohon jarak" tidak mungkin dilakukan. Karena berdasarkan
data seorang teman, seluruh lahan di Indonesia telah ditanami oleh sawah.
Sehingga tidak mungkin lahan persawahan diganti dengan lahan pohon jarak. Masih
berdasarkan data teman ini, pohon jarak hanya dapat tumbuh sendiri dan tidak
dapat ditumpangi oleh tanaman sayur atau tanaman lainnya. Jika gerakan
penanaman sejuta pohon jarak ini dilakukan, maka mau tidak mau harus
mengorbankan lahan persawahan. Suatu hal yang tidak mungkin, mengorbankan lahan
persawahan.
Teman ini juga menginformasikan
bahwa ada upaya untuk mengembangkan energi alternatif yang berasal dari pohon
jarak. Ada 3 daerah yang menjadi sasaran. Tapi agar rencana ini bejalan lancar,
3 kepala daerah yang menjadi sasaran ini mendapat suap. Mengapa? Karena dia
harus mengorbankan lahan persawahan untuk diganti dengan lahan tanaman pohon
jarak.
Mendengar data dan informasi inilah,
saya berkesimpulan bahwa tulisan yang berjudul "Energi Alternatif Dan Political Will
Pemerintah" merupakan tulisan yang gagal. Karena tulisan ini dibuat
berdasarkan informasi dan data yang kurang lengkap. Oleh karenanya, -sebelum
membuat tulisan non fiksi- seorang penulis non fiksi harus memiliki informasi
dan data yang kurang lengkap.
Walaupun gagal, tulisan ini
memberikan pelajaran penting pada saya, terlebih khusus berkaitan dengan
tulisan non fiksi.
Anda mungkin pernah membaca tulisan
tentang sebuah Harian ibu kota yang konon kecolongan dengan masuknya
seorang Yahudi menjadi salah satu pemegang saham harian tersebut. Tulisan
mengenai hal ini ditulis oleh sebuah situs. Beberapa hari kemudian, Harian yang
dituduh telah kecolongan itu, melayangkan surat protes dan meminta situs tersebut
mencabut tulisan dan memohon maaf atas kekeliruan yang telah ditulisnya.
Penulis yang bersangkutan dengan
tulisan tersebut memohon maaf atas kekeliruannya.
Terlepas dari siapa yang benar,
tetap saja peristiwa ini merupakan pelajaran penting bagi penulis non fiksi.
Coba Anda bayangkan, bagaimana jika seseorang membuat tulisan non fiksi
berdasarkan informasi yang keliru? Tulisan itu akan menyesatkan masyarakat.
Oleh karenanya, -sebelum membuat tulisan non fiksi- seorang penulis non fiksi
harus memiliki informasi yang benar, benar sesuai dengan faktanya.
Senada dengan kejadian di atas, saya
pernah membuat tulisan yang berjudul "KASUS KECELAKAAN ITU BERULANG KEMBALI".
Di dalam tulisan itu terdapat alenia berikut; Hari ini ada sebuah berita duka
cita. Seorang artis senior Sophan Sophian mengalami kecelakaan. Katanya
penyebab kecelakaannya, motor besar yang sedang dikendarainya masuk lubang.
Coba perhatikan! Adakah hal yang
janggal? Ya, kejanggalan terletak pada ungkapan 'katanya' (tulisan yang di-bold).
Ungkapan ini mengesankan bahwa saya belum yakin dengan informasi itu. Di
sinilah letak kesalahannya. Bagaimana jika informasi yang dicantumkan dalam
tulisan, ternyata tidak benar? Sekali lagi, tulisan itu dapat dikategorikan
sebagai tulisan yang menyesatkan.
arnabgaizir. blogspot. com
arnab20.multiply. com
saya yang berjudul "Energi Alternatif Dan Political Will Pemerintah
(Tulisan gagal/baca sampai habis!)". Tulisan ini diawali dengan kalimat "Buah
jarak mampu menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar".
Tulisan ini juga dilengkapi dengan berbagai data yang diketahui dan hasil
pencarian penulis terkait dengan informasi mengenai energi alternatif.
Kesimpulan bahwa buah jarak mampu menggantikan peran solar berdasarkan penelitian
yang dilakukan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Robert Manurung,
bekerja sama dengan Mitsubishi Research Institute, Jepang.
Data lainnya adalah Jepang
pada saat Perang Dunia II sudah menggunakan minyak dari buah jarak sebagai
bahan bakar pesawat tempur dan peralatan perang lainnya.
Energi Alternatif lainnya yang saya angkat dalam tulisan itu adalah
kotoran hewan ternak. Energi biogas dapat diproduksi dari kotoran hewan ternak.
Informasi mengenai biogas ini juga dilengkapi dengan data-data yang saya
peroleh.
Melihat adanya peluang memproduksi
energi alternatif ini, saya mencoba untuk berkomentar. Potensi ini tidak akan
terwujud secara massal, bila tidak didukung oleh political will pemerintah.
Oleh karena itu, saya mengusulkan untuk membentuk "gerakan penanaman
sejuta pohon jarak" serta "program penggalakkan peternakan
berorientasi biogas metan".
Tapi ternyata "gerakan
penanaman sejuta pohon jarak" tidak mungkin dilakukan. Karena berdasarkan
data seorang teman, seluruh lahan di Indonesia telah ditanami oleh sawah.
Sehingga tidak mungkin lahan persawahan diganti dengan lahan pohon jarak. Masih
berdasarkan data teman ini, pohon jarak hanya dapat tumbuh sendiri dan tidak
dapat ditumpangi oleh tanaman sayur atau tanaman lainnya. Jika gerakan
penanaman sejuta pohon jarak ini dilakukan, maka mau tidak mau harus
mengorbankan lahan persawahan. Suatu hal yang tidak mungkin, mengorbankan lahan
persawahan.
Teman ini juga menginformasikan
bahwa ada upaya untuk mengembangkan energi alternatif yang berasal dari pohon
jarak. Ada 3 daerah yang menjadi sasaran. Tapi agar rencana ini bejalan lancar,
3 kepala daerah yang menjadi sasaran ini mendapat suap. Mengapa? Karena dia
harus mengorbankan lahan persawahan untuk diganti dengan lahan tanaman pohon
jarak.
Mendengar data dan informasi inilah,
saya berkesimpulan bahwa tulisan yang berjudul "Energi Alternatif Dan Political Will
Pemerintah" merupakan tulisan yang gagal. Karena tulisan ini dibuat
berdasarkan informasi dan data yang kurang lengkap. Oleh karenanya, -sebelum
membuat tulisan non fiksi- seorang penulis non fiksi harus memiliki informasi
dan data yang kurang lengkap.
Walaupun gagal, tulisan ini
memberikan pelajaran penting pada saya, terlebih khusus berkaitan dengan
tulisan non fiksi.
Anda mungkin pernah membaca tulisan
tentang sebuah Harian ibu kota yang konon kecolongan dengan masuknya
seorang Yahudi menjadi salah satu pemegang saham harian tersebut. Tulisan
mengenai hal ini ditulis oleh sebuah situs. Beberapa hari kemudian, Harian yang
dituduh telah kecolongan itu, melayangkan surat protes dan meminta situs tersebut
mencabut tulisan dan memohon maaf atas kekeliruan yang telah ditulisnya.
Penulis yang bersangkutan dengan
tulisan tersebut memohon maaf atas kekeliruannya.
Terlepas dari siapa yang benar,
tetap saja peristiwa ini merupakan pelajaran penting bagi penulis non fiksi.
Coba Anda bayangkan, bagaimana jika seseorang membuat tulisan non fiksi
berdasarkan informasi yang keliru? Tulisan itu akan menyesatkan masyarakat.
Oleh karenanya, -sebelum membuat tulisan non fiksi- seorang penulis non fiksi
harus memiliki informasi yang benar, benar sesuai dengan faktanya.
Senada dengan kejadian di atas, saya
pernah membuat tulisan yang berjudul "KASUS KECELAKAAN ITU BERULANG KEMBALI".
Di dalam tulisan itu terdapat alenia berikut; Hari ini ada sebuah berita duka
cita. Seorang artis senior Sophan Sophian mengalami kecelakaan. Katanya
penyebab kecelakaannya, motor besar yang sedang dikendarainya masuk lubang.
Coba perhatikan! Adakah hal yang
janggal? Ya, kejanggalan terletak pada ungkapan 'katanya' (tulisan yang di-bold).
Ungkapan ini mengesankan bahwa saya belum yakin dengan informasi itu. Di
sinilah letak kesalahannya. Bagaimana jika informasi yang dicantumkan dalam
tulisan, ternyata tidak benar? Sekali lagi, tulisan itu dapat dikategorikan
sebagai tulisan yang menyesatkan.
arnabgaizir. blogspot. com
arnab20.multiply. com
Artikel
Ranjau Paku di Jalan
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis di blog saya tentang keheranan dan keprihatinan saya akan banyaknya paku yang bertebaran di jalan-jalan. Dalam tulisan saya waktu itu, saya menceritakan bahwa setiap kali perjalanan pulang pergi kerja, saya selalu saja menemukan paku-paku di jalanan. Di sepanjang Rute perjalanan yang tidak lebih dari 1 (satu) KM yang saya lalui dengan berjalan kaki, saya bisa temukan empat atau lima paku setiap hari.
Jika saya tidak sedang terburu-buru, saya sempatkan untuk memungut dan menyingkirkan paku tersebut. Tetapi, saya selalu dibuat heran karena sekian langkah berikutnya, lagi-lagi saya temukan paku tergeletak di sana. Begitu juga di hari lain, saya temukan paku, lagi dan lagi. Sungguh mengherankan sekaligus memprihatinkan.
Keheranan saya akan banyaknya paku-paku di jalanan memang bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan. Harian Republika terbitan Selasa, 5 Agustus 2008 di halaman depan memuat berita berjudul “Ranjau Paku yang Merajalela”. Republika menulis, “Jalan-jalan di Ibu Kota yang terlihat halus dan mulus, sering membuat pemakai jalan tak waspada. Di balik jalan aspal hitam yang kerap menggoda untuk ngebut itu, ada ranjau yang ditebar. Tapi, bukan ranjaunya yang meledak saat terinjak, melainkan ban kendaraan Anda”. Dalam berita itu, Republika juga memuat foto yang memperlihatkan seorang petugas polisi yang sedang membersihkan paku di salah satu ruas jalan di Jakarta. Dalam sekali pembersihan, polisi bisa mendapatkan satu sampai tiga kilo gram paku.
Wow, sungguh luar biasa!
Lantas, siapa yang menebar ranjau itu dan apa motivnya. Seandainya hal itu dilakukan oleh saudara kita dengan maksud agar ada orang mengalami bocor ban dan kemudian menambal ban di tempat atau bengkel mereka, maka ingat dan sadarlah wahai saudara!
Carilah rizki yang halal, yang tidak merugikan orang lain. Rizki yang halal insya Allah akan membawa keberkahan. Dengan keberkahan insya Allah, diri kita, anak, istri, dan segenap keluarga kita akan sehat, aman dan sentosa dan insya Allah akan terhindar serta jauh dari musibah.
Mungkin ada diantara saudara kita yang mengatakan bahwa untuk mencari rizki yang haram saja susah apalagi yang halal. Kalau menurut saya sih, justru cari rizki haram saja susah, ngapain cari yang haram. Sudah susah nyarinya, dosa lagi. Mending cari yang halal, meski susah dapatnya tapi tidak berdosa dan tidak merugikan orang lain. Bahkan konon, upaya kita dalam mencari rizki yang halal untuk keluarga adalah salah satu jihad. Betapa besar pahalanya.
Sebaliknya rizki yang haram, selain merugikan orang lain juga berdosa dan sesungguhnya merugikan diri sendiri dan keluarga. Suatu ketika saya pernah ceramah AA Gym. Beliau mengingatkan bahwa memberi nafkah kepada anak istri dengan rizki yang haram sama saja meracuni mereka. Na’udzubillah min dzalik.
Maka, sekali lagi marilah wahai saudara kita semua, carilah rizki yang halal lagi thayib. Dengan rizki yang halal dan thayib, insya Allah diri dan keluarga akan selalu dalam perlindungan Allah SWT.
Dan, ingatlah saudara kita, menyusahkan orang lain itu sama dengan menyusahkan diri sendiri. Mencelakakan orang lain sama dengan mencelakakan diri sendiri.
Salam,
Badiyo
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis di blog saya tentang keheranan dan keprihatinan saya akan banyaknya paku yang bertebaran di jalan-jalan. Dalam tulisan saya waktu itu, saya menceritakan bahwa setiap kali perjalanan pulang pergi kerja, saya selalu saja menemukan paku-paku di jalanan. Di sepanjang Rute perjalanan yang tidak lebih dari 1 (satu) KM yang saya lalui dengan berjalan kaki, saya bisa temukan empat atau lima paku setiap hari.
Jika saya tidak sedang terburu-buru, saya sempatkan untuk memungut dan menyingkirkan paku tersebut. Tetapi, saya selalu dibuat heran karena sekian langkah berikutnya, lagi-lagi saya temukan paku tergeletak di sana. Begitu juga di hari lain, saya temukan paku, lagi dan lagi. Sungguh mengherankan sekaligus memprihatinkan.
Keheranan saya akan banyaknya paku-paku di jalanan memang bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan. Harian Republika terbitan Selasa, 5 Agustus 2008 di halaman depan memuat berita berjudul “Ranjau Paku yang Merajalela”. Republika menulis, “Jalan-jalan di Ibu Kota yang terlihat halus dan mulus, sering membuat pemakai jalan tak waspada. Di balik jalan aspal hitam yang kerap menggoda untuk ngebut itu, ada ranjau yang ditebar. Tapi, bukan ranjaunya yang meledak saat terinjak, melainkan ban kendaraan Anda”. Dalam berita itu, Republika juga memuat foto yang memperlihatkan seorang petugas polisi yang sedang membersihkan paku di salah satu ruas jalan di Jakarta. Dalam sekali pembersihan, polisi bisa mendapatkan satu sampai tiga kilo gram paku.
Wow, sungguh luar biasa!
Lantas, siapa yang menebar ranjau itu dan apa motivnya. Seandainya hal itu dilakukan oleh saudara kita dengan maksud agar ada orang mengalami bocor ban dan kemudian menambal ban di tempat atau bengkel mereka, maka ingat dan sadarlah wahai saudara!
Carilah rizki yang halal, yang tidak merugikan orang lain. Rizki yang halal insya Allah akan membawa keberkahan. Dengan keberkahan insya Allah, diri kita, anak, istri, dan segenap keluarga kita akan sehat, aman dan sentosa dan insya Allah akan terhindar serta jauh dari musibah.
Mungkin ada diantara saudara kita yang mengatakan bahwa untuk mencari rizki yang haram saja susah apalagi yang halal. Kalau menurut saya sih, justru cari rizki haram saja susah, ngapain cari yang haram. Sudah susah nyarinya, dosa lagi. Mending cari yang halal, meski susah dapatnya tapi tidak berdosa dan tidak merugikan orang lain. Bahkan konon, upaya kita dalam mencari rizki yang halal untuk keluarga adalah salah satu jihad. Betapa besar pahalanya.
Sebaliknya rizki yang haram, selain merugikan orang lain juga berdosa dan sesungguhnya merugikan diri sendiri dan keluarga. Suatu ketika saya pernah ceramah AA Gym. Beliau mengingatkan bahwa memberi nafkah kepada anak istri dengan rizki yang haram sama saja meracuni mereka. Na’udzubillah min dzalik.
Maka, sekali lagi marilah wahai saudara kita semua, carilah rizki yang halal lagi thayib. Dengan rizki yang halal dan thayib, insya Allah diri dan keluarga akan selalu dalam perlindungan Allah SWT.
Dan, ingatlah saudara kita, menyusahkan orang lain itu sama dengan menyusahkan diri sendiri. Mencelakakan orang lain sama dengan mencelakakan diri sendiri.
Salam,
Badiyo
Artikel
Dua Hati, Satu Cinta
Penulis:
Sismanto
Email: sirilwafa@ gmail.com
Tanggal 14 Juli 2008 adalah hari bersejarah bagi para guru dan murid di
sekolah saya. Karena pada tanggal itu para murid di sekolah dengan
senangnya memasuki sekolah dengan tas baru, sepatu baru, buku baru, dan
semangat baru. Kebanyakan mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari
untuk menghadapi tanggal tersebut, dan memang kebanyakan anak didik di
sekolah saya menggunakan perlengkapan sekolah dengan perlangkapan yang
relatif baru. Mereka ingin dengan alat dan perlengkapan sekolah yang
baru akan ada harapan baru dalam asa mereka sebaru perlengkapannya.
Bagi anak TK yang naik tentu akan senang karena pada tanggal ini dia
tidak lagi disebut sebagai anak TK, rasanya mereka akan protes jika
masih dipanggil anak TK. Padahal, terkadang ada juga baju yang mereka
gunakan adalah baju TK, maklum saja jahitan baju yang digunakan untuk
seragam SD belum jadi.
Bagi anak SD yang kemarin kelas enam, tentu hari ini juga akan bersorak
gembira karena dia juga tidak disebut sebagai anak SD, dia menjadi anak
SMP. Baju seragamnya pun tidak mau "merah putih", anak ini akan
selalu menggunakan seragam "biru putih", karena dia ingin
disebut sebagai anak SMP bukan anak SD lagi. Sementara bagi para guru
juga tak kalah senangnya, karena pada tanggal itu juga para guru akan
menyambut kedatangan murid-murid baru di kelasnya. Murid-murid yang
sebelumnya tidak dia kenal, nantinya akan dianggap seperti anaknya
sendiri.
Pun demikian dengan tugas guru di awal tahun pembelajaran, misalnya saja
tahun ini sebelum menyambut kehadiran anak didik yang baru. Saya harus
menyiapkan semua administrasi pembelajaran mulai dari program tahunan
(prota), program semester (promes), sampai pada rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Untuk RPP, dulu kita kenal dengan istilah Rencana
Pembelajaran (RP). hal ini belum lagi pada analis butir soal, analisis
ketuntasan belajar, dan jika kita sebagai wali kelas maka di akhir
semester kita akan menuliskan rapor (hasil belajar) bagi anak didik
kita.
Tentu, hal ini semakin menjadikan saya bersemangat menempuh awal tahun
pembelajaran ini. Berbeda halnya dengan guru yang punya kharakter lain
dalam hal ini saya menyebut dengan istilah "teacher post power
syndrome", jika dulunya dia sebagai guru yang luar biasa di
jamannya, namun tidak pada jaman sekarang. Semoga saja asumsi saya salah
bahwa tidak ada post power syndrom bagi guru. "Anakku, Guru tetaplah
guru dari dulu sampai akhir hayatnya, boleh seorang peserta didiknya
menjadi presiden, menteri, gubernur, tapi guru tetap menjadi guru. Guru
bukanlah Panglima Besar Jenderal Sudirman, pemimpin perang gerilya yang
mempertahankan kedaulatan negara dari para penjajah. Sudirman yang kala
itu berasal dari kalangan guru menjadi tentang. Anakku, gurumu bukanlah
Panglima Sudirman, Gurumu akan tetap menjadi gurumu meskipun engkau
kelak menjadi guru". Sebuah pelajaran terakhir yang saya terima dari
Pak Markidjan, kepala sekolah SD di pelosok pesisir utara dulu ketika
saya di wisuda dari SD.
Hal ini juga mengingatkan saya beberapa bulan yang lalu, tepatnya
Nopember 2007 ketika saya menyampaikan presentasi di depan juri dalam
lomba karya tulis nasional di Jakarta, ada peserta lomba yang mengusung
tema menarik saya kira, namun dia menyampaikan kurang maksimal sehingga
dia tidak bisa lolos sebagai juara pertama dalam perlombaan tersebut.
Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni seputar keteladanan guru
yang kemudian dikerucutkan dengan guru muda dan guru tua (seperti wacana
pilpres 2009 saja, ada istilah calon presiden tuda dan calon presiden
muda). Calon yang terakhir ini yang kemudian disebut dengan calon
alternatif dan terkadang berasal dari calon independen.
Salah seorang juri menanyakan kepada nominator yang menyampaikan
presentasi tadi dengan agak sedikit tertawa "lho, masa ada guru koq
di kotak-kotakkan menjadi guru muda dan guru tua. Berarti seperti saya
dan juga juri di sebelah saya yang tergolong berusia tua juga
digolongkan sebagai guru tua?". tanya seorang juri.
Nominator tadi menjawab dengan agak malu-malu, malu kalau jawabannya
salah atau memang malu belum ada konsepsi itu dalam pendidikan kita.
Tapi nyatanya memang ada. "Bapak, saya memberi label begini ini
hanya untuk menjustifikasi bahwa guru tua itu identik dengan
keengganannya untuk mempersiapkan administrasi pembelajaran,
ketidaksiapannya menghadapi peserta didiknya di kelas, dan keengggananya
meluangkan waktu semenit saja untuk anak didiknya. Guru-guru tua hanya
memperhatikan waktu tugasnya saja di sekolah, ketika masa tugasnya
selesai maka dia akan pulang kerumahnya sebelum anak didiknya sampai di
rumahnya masing-masing. Dan bahkan, bagi guru-guru yang sudah mapan
(katakanlah beberapa oknum guru PNS) ada juga yang hanya datang pada
jam-jam pelajaran yang diampunya saja".
Begitulah pelajaran yang saya ambil hari itu dari salah seorang peserta
lomba dari Sumatera, meski dia masih fresh gradued tapi pemikirannya
luar bisa dan saya memberikan apresiasi atas pemikirannya. Kini hari
ini, hari kali pertama pembelajaran di sekolah mudah-mudahan menjadi
titik awal perjuangan bagi para guru dengan menyatukan dua hati, dua
cinta antara anak didik dengan gurunya di tengah kebanggaan para orang
tua yang melepas anaknya untuk sekolah, di tengah kepercayaan orang tua
menyerahkan amanahnya kepada sekolah lewat anaknya untuk dididik menjadi
generasi penerus bangsa ini, menjadi generasi yang Rabbani menjadi
jiwa-jiwa yang ululu albab.
Semoga saja, kelak jika saya diberi umur panjang dan tetap diberi
kesempatan menjadi guru bagi anak didik saya, keluarga, dan minimal guru
bagi diri saya sendiri, saya menjadi guru yang terus mempertahankan
keteladanan, guru yang selalu menyiapkan waktu dua puluh empat jam untuk
melayani anak didik di tengah kesibukan bersama keluarga. Meski berada
pada pertentangan dinamika profesionalisme guru, saya akan tetap menjadi
pelayan yang baik bagi anak didik saya.
Bagaimana dengan Bapak/Ibu guru?
PS: saya tuliskan cinta ini buat para guru, semoga menjadi guru yang
dapat menyatukan cinta dengan anak didiknya.
Sangatta, 13 Juni 2008
"Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain
Penulis:
Sismanto
Email: sirilwafa@ gmail.com
Tanggal 14 Juli 2008 adalah hari bersejarah bagi para guru dan murid di
sekolah saya. Karena pada tanggal itu para murid di sekolah dengan
senangnya memasuki sekolah dengan tas baru, sepatu baru, buku baru, dan
semangat baru. Kebanyakan mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari
untuk menghadapi tanggal tersebut, dan memang kebanyakan anak didik di
sekolah saya menggunakan perlengkapan sekolah dengan perlangkapan yang
relatif baru. Mereka ingin dengan alat dan perlengkapan sekolah yang
baru akan ada harapan baru dalam asa mereka sebaru perlengkapannya.
Bagi anak TK yang naik tentu akan senang karena pada tanggal ini dia
tidak lagi disebut sebagai anak TK, rasanya mereka akan protes jika
masih dipanggil anak TK. Padahal, terkadang ada juga baju yang mereka
gunakan adalah baju TK, maklum saja jahitan baju yang digunakan untuk
seragam SD belum jadi.
Bagi anak SD yang kemarin kelas enam, tentu hari ini juga akan bersorak
gembira karena dia juga tidak disebut sebagai anak SD, dia menjadi anak
SMP. Baju seragamnya pun tidak mau "merah putih", anak ini akan
selalu menggunakan seragam "biru putih", karena dia ingin
disebut sebagai anak SMP bukan anak SD lagi. Sementara bagi para guru
juga tak kalah senangnya, karena pada tanggal itu juga para guru akan
menyambut kedatangan murid-murid baru di kelasnya. Murid-murid yang
sebelumnya tidak dia kenal, nantinya akan dianggap seperti anaknya
sendiri.
Pun demikian dengan tugas guru di awal tahun pembelajaran, misalnya saja
tahun ini sebelum menyambut kehadiran anak didik yang baru. Saya harus
menyiapkan semua administrasi pembelajaran mulai dari program tahunan
(prota), program semester (promes), sampai pada rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Untuk RPP, dulu kita kenal dengan istilah Rencana
Pembelajaran (RP). hal ini belum lagi pada analis butir soal, analisis
ketuntasan belajar, dan jika kita sebagai wali kelas maka di akhir
semester kita akan menuliskan rapor (hasil belajar) bagi anak didik
kita.
Tentu, hal ini semakin menjadikan saya bersemangat menempuh awal tahun
pembelajaran ini. Berbeda halnya dengan guru yang punya kharakter lain
dalam hal ini saya menyebut dengan istilah "teacher post power
syndrome", jika dulunya dia sebagai guru yang luar biasa di
jamannya, namun tidak pada jaman sekarang. Semoga saja asumsi saya salah
bahwa tidak ada post power syndrom bagi guru. "Anakku, Guru tetaplah
guru dari dulu sampai akhir hayatnya, boleh seorang peserta didiknya
menjadi presiden, menteri, gubernur, tapi guru tetap menjadi guru. Guru
bukanlah Panglima Besar Jenderal Sudirman, pemimpin perang gerilya yang
mempertahankan kedaulatan negara dari para penjajah. Sudirman yang kala
itu berasal dari kalangan guru menjadi tentang. Anakku, gurumu bukanlah
Panglima Sudirman, Gurumu akan tetap menjadi gurumu meskipun engkau
kelak menjadi guru". Sebuah pelajaran terakhir yang saya terima dari
Pak Markidjan, kepala sekolah SD di pelosok pesisir utara dulu ketika
saya di wisuda dari SD.
Hal ini juga mengingatkan saya beberapa bulan yang lalu, tepatnya
Nopember 2007 ketika saya menyampaikan presentasi di depan juri dalam
lomba karya tulis nasional di Jakarta, ada peserta lomba yang mengusung
tema menarik saya kira, namun dia menyampaikan kurang maksimal sehingga
dia tidak bisa lolos sebagai juara pertama dalam perlombaan tersebut.
Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni seputar keteladanan guru
yang kemudian dikerucutkan dengan guru muda dan guru tua (seperti wacana
pilpres 2009 saja, ada istilah calon presiden tuda dan calon presiden
muda). Calon yang terakhir ini yang kemudian disebut dengan calon
alternatif dan terkadang berasal dari calon independen.
Salah seorang juri menanyakan kepada nominator yang menyampaikan
presentasi tadi dengan agak sedikit tertawa "lho, masa ada guru koq
di kotak-kotakkan menjadi guru muda dan guru tua. Berarti seperti saya
dan juga juri di sebelah saya yang tergolong berusia tua juga
digolongkan sebagai guru tua?". tanya seorang juri.
Nominator tadi menjawab dengan agak malu-malu, malu kalau jawabannya
salah atau memang malu belum ada konsepsi itu dalam pendidikan kita.
Tapi nyatanya memang ada. "Bapak, saya memberi label begini ini
hanya untuk menjustifikasi bahwa guru tua itu identik dengan
keengganannya untuk mempersiapkan administrasi pembelajaran,
ketidaksiapannya menghadapi peserta didiknya di kelas, dan keengggananya
meluangkan waktu semenit saja untuk anak didiknya. Guru-guru tua hanya
memperhatikan waktu tugasnya saja di sekolah, ketika masa tugasnya
selesai maka dia akan pulang kerumahnya sebelum anak didiknya sampai di
rumahnya masing-masing. Dan bahkan, bagi guru-guru yang sudah mapan
(katakanlah beberapa oknum guru PNS) ada juga yang hanya datang pada
jam-jam pelajaran yang diampunya saja".
Begitulah pelajaran yang saya ambil hari itu dari salah seorang peserta
lomba dari Sumatera, meski dia masih fresh gradued tapi pemikirannya
luar bisa dan saya memberikan apresiasi atas pemikirannya. Kini hari
ini, hari kali pertama pembelajaran di sekolah mudah-mudahan menjadi
titik awal perjuangan bagi para guru dengan menyatukan dua hati, dua
cinta antara anak didik dengan gurunya di tengah kebanggaan para orang
tua yang melepas anaknya untuk sekolah, di tengah kepercayaan orang tua
menyerahkan amanahnya kepada sekolah lewat anaknya untuk dididik menjadi
generasi penerus bangsa ini, menjadi generasi yang Rabbani menjadi
jiwa-jiwa yang ululu albab.
Semoga saja, kelak jika saya diberi umur panjang dan tetap diberi
kesempatan menjadi guru bagi anak didik saya, keluarga, dan minimal guru
bagi diri saya sendiri, saya menjadi guru yang terus mempertahankan
keteladanan, guru yang selalu menyiapkan waktu dua puluh empat jam untuk
melayani anak didik di tengah kesibukan bersama keluarga. Meski berada
pada pertentangan dinamika profesionalisme guru, saya akan tetap menjadi
pelayan yang baik bagi anak didik saya.
Bagaimana dengan Bapak/Ibu guru?
PS: saya tuliskan cinta ini buat para guru, semoga menjadi guru yang
dapat menyatukan cinta dengan anak didiknya.
Sangatta, 13 Juni 2008
"Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain
Artikel
Proper Hijau Newmont, Proper Greenwash
Siaran Pers JATAM, 7 Agustus 2008
Saat nelayan sekitar pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengeluhkan pendapatannya menurun drastis, karena sulit menangkap ikan sejak limbah tailing dibuang ke laut. Dan petani lingkar tambang mengeluhkan krisis air. PT NNT, tambang emas milik Amerika Serikat, yang telah membuang 400 juta ton lebih limbah tailing ke laut ini malah mendapat Proper hijau dari Menteri Lingkungan Hidup.
Bagaimana Menteri LH bisa menjelaskan hal diatas? Proper Hijau yang diberikan KLH ini sama sekali tak menyinggung masalah-masalah lingkungan tersebut, khususnya krisis akibat menurunnya kualitas lingkungan yang dialami warga sekitar tambang PT NNT.
Di Pulau Sumbawa, mulai pantai Sagena, Labuhan Lalar, Benete, Rantung, Snutuk hingga Tolanang, para nelayan mengeluhkan menurunnnya hasil tangkap ikan Cumi dan Tongkol, sejak tailing Newmont dibuang. Sementara di pulau Lombok ? berdekatan dengan lokasi pembuangan tailing, nelayan Tanjung luar dan pulau Maringik melaporkan hal yang sama.
Di pantai Rantung , tempat pipa Newmont memuntahkan limbah 120 ribu ton perhari ke laut, lebih parah lagi. Nener mulai berkurang sejak awal PT NNT membuang tailingnya. Makin lama, Nener menghilang dan tak sulit dijumpai di kawasan tersebut. Padahal dulunya, warga bisa menangkap ratusan hingga ratusan ribu nener dalam sehari. Sekarang, mencari nener tak bisa lagi jadi mata pencaharian.
Nelayan pantai Snutuk, yang dulunya cukup mencari ikan di sekitar pantai Snutuk Sumbawa, kini harus melaut ke Labuan Lombok hingga Labuan Tano. Waktu melaut menjadi lebih panjang. Tapi ikan yang didapat juga tak sebanyak dulu. Mereka menuding tailing PT Newmont lah peyebabnya. Sementara nelayan pulau Maringik Labuan luar Lombok Timur, yang hasil tangkapnya terus menurun, kini harus melaut hingga berhari-hari ke pesisir pulau Sumba Nusa Tenggara Timur, untuk menangkap Cumi.
Warga sekitar tambang juga mengeluhkan krisis air dari waktu ke waktu. sungai Lebuhan, yang bermuara di sekitar Tongoloka, beberapa tahun terakhir, debet airnya menurun drastis. Kini musim kemarau, jangankan berharap mencari ikan di sungai, airpun hanya genangan-genangan air disana-sini dan tak mengalir lancar.
?Pemberian Proper Hijau PT Newmont memperlihatkan rendahnya rasa kirisis (sense of crisis) Menteri Lingkungan Hidup, ditengah ketidakmampuannya melakukan pemulihan, apalagi menurunkan laju kerusakan lingkungan?, ujar Siti Maemunah, koordinator nasional JATAM, menaggapi hal diatas.
Alih-alih mendorong perbaikan kondisi lingkungan di sekitar industri pertambangan, Proper akan dipakai perusahaan melegitimasi tindakannya merusak lingkungan dan memperbaiki citra hijaunya disaat yang sama. Proper telah menjadi alat Greenwash industri tambang. ?Kementrian Lingkungan Hidup harus membatalkan hasil Proper 2008. Dan mengggantinya dengan program yang lebih bermanfaat untuk rakyat banyak, terutama di sekitar industri. Mestinya KLH mendorong program-program yang menguatkan kapasitas warga memantau pencemaran atau perusakan lingkungan, serta menguatkan penegakan hukum?, tambahnya.
Kontak Media : Luluk Uliyah 0815 948 0246
Siaran Pers JATAM, 7 Agustus 2008
Saat nelayan sekitar pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengeluhkan pendapatannya menurun drastis, karena sulit menangkap ikan sejak limbah tailing dibuang ke laut. Dan petani lingkar tambang mengeluhkan krisis air. PT NNT, tambang emas milik Amerika Serikat, yang telah membuang 400 juta ton lebih limbah tailing ke laut ini malah mendapat Proper hijau dari Menteri Lingkungan Hidup.
Bagaimana Menteri LH bisa menjelaskan hal diatas? Proper Hijau yang diberikan KLH ini sama sekali tak menyinggung masalah-masalah lingkungan tersebut, khususnya krisis akibat menurunnya kualitas lingkungan yang dialami warga sekitar tambang PT NNT.
Di Pulau Sumbawa, mulai pantai Sagena, Labuhan Lalar, Benete, Rantung, Snutuk hingga Tolanang, para nelayan mengeluhkan menurunnnya hasil tangkap ikan Cumi dan Tongkol, sejak tailing Newmont dibuang. Sementara di pulau Lombok ? berdekatan dengan lokasi pembuangan tailing, nelayan Tanjung luar dan pulau Maringik melaporkan hal yang sama.
Di pantai Rantung , tempat pipa Newmont memuntahkan limbah 120 ribu ton perhari ke laut, lebih parah lagi. Nener mulai berkurang sejak awal PT NNT membuang tailingnya. Makin lama, Nener menghilang dan tak sulit dijumpai di kawasan tersebut. Padahal dulunya, warga bisa menangkap ratusan hingga ratusan ribu nener dalam sehari. Sekarang, mencari nener tak bisa lagi jadi mata pencaharian.
Nelayan pantai Snutuk, yang dulunya cukup mencari ikan di sekitar pantai Snutuk Sumbawa, kini harus melaut ke Labuan Lombok hingga Labuan Tano. Waktu melaut menjadi lebih panjang. Tapi ikan yang didapat juga tak sebanyak dulu. Mereka menuding tailing PT Newmont lah peyebabnya. Sementara nelayan pulau Maringik Labuan luar Lombok Timur, yang hasil tangkapnya terus menurun, kini harus melaut hingga berhari-hari ke pesisir pulau Sumba Nusa Tenggara Timur, untuk menangkap Cumi.
Warga sekitar tambang juga mengeluhkan krisis air dari waktu ke waktu. sungai Lebuhan, yang bermuara di sekitar Tongoloka, beberapa tahun terakhir, debet airnya menurun drastis. Kini musim kemarau, jangankan berharap mencari ikan di sungai, airpun hanya genangan-genangan air disana-sini dan tak mengalir lancar.
?Pemberian Proper Hijau PT Newmont memperlihatkan rendahnya rasa kirisis (sense of crisis) Menteri Lingkungan Hidup, ditengah ketidakmampuannya melakukan pemulihan, apalagi menurunkan laju kerusakan lingkungan?, ujar Siti Maemunah, koordinator nasional JATAM, menaggapi hal diatas.
Alih-alih mendorong perbaikan kondisi lingkungan di sekitar industri pertambangan, Proper akan dipakai perusahaan melegitimasi tindakannya merusak lingkungan dan memperbaiki citra hijaunya disaat yang sama. Proper telah menjadi alat Greenwash industri tambang. ?Kementrian Lingkungan Hidup harus membatalkan hasil Proper 2008. Dan mengggantinya dengan program yang lebih bermanfaat untuk rakyat banyak, terutama di sekitar industri. Mestinya KLH mendorong program-program yang menguatkan kapasitas warga memantau pencemaran atau perusakan lingkungan, serta menguatkan penegakan hukum?, tambahnya.
Kontak Media : Luluk Uliyah 0815 948 0246
agenda
*Undangan*
INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008.
* *
Kepada Yang Terhormat
Masyarakat Pertambangan dan Energi
Akademisi dan Mahasiswa Pertambangan
Media
Para Pengambil Keputusan yang berhubungan dengan bisnis Pertambangan dan
Energi
Pengacara yang memiliki klien dari bisnis Pertambangan dan Energi
Masyarakat umum, pemerhati bisnis Pertambangan dan Energi
* *
Kami, panitia dari INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008,
event yang digagas oleh *Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas
Bumi - Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral*, mengundang Anda untuk
hadir pada *konferensi* dan *pameran* yang akan kami gelar pada:
Hari: Selasa-Rabu
Tanggal/Jam: 12 Agustus 2008, 08.30 - 18.00 dan 13 Agustus 2008, 08.30 –
21.00
Lokasi: Shangri-La Hotel, Jakarta
Tiket Masuk: *Gratis*
RSVP: Zulfikar Latif (081398975576) ,
zulfikar.latif@ globalsarana. com
Lila (0817827455) ,
hilila.achmad@ globalsarana. com
Dress Code: Rapi
Kami sangat mengharapkan kehadiran Anda untuk dapat berbagi bersama pada
event tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, Agustus 2008
Hormat kami,
Panitia INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008.
Sekretariat:
Gedung Direktorat Pembinaan Pengusahaan Mineral dan Barubara
Jl. Prof. Dr. Supomo, SH No. 10, Jakarta 12870
Tel/Fax: 021 831 4586
Email: info@ime-convex. com
Website: www.ime-convex. com
INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008.
* *
Kepada Yang Terhormat
Masyarakat Pertambangan dan Energi
Akademisi dan Mahasiswa Pertambangan
Media
Para Pengambil Keputusan yang berhubungan dengan bisnis Pertambangan dan
Energi
Pengacara yang memiliki klien dari bisnis Pertambangan dan Energi
Masyarakat umum, pemerhati bisnis Pertambangan dan Energi
* *
Kami, panitia dari INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008,
event yang digagas oleh *Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas
Bumi - Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral*, mengundang Anda untuk
hadir pada *konferensi* dan *pameran* yang akan kami gelar pada:
Hari: Selasa-Rabu
Tanggal/Jam: 12 Agustus 2008, 08.30 - 18.00 dan 13 Agustus 2008, 08.30 –
21.00
Lokasi: Shangri-La Hotel, Jakarta
Tiket Masuk: *Gratis*
RSVP: Zulfikar Latif (081398975576) ,
zulfikar.latif@ globalsarana. com
Lila (0817827455) ,
hilila.achmad@ globalsarana. com
Dress Code: Rapi
Kami sangat mengharapkan kehadiran Anda untuk dapat berbagi bersama pada
event tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, Agustus 2008
Hormat kami,
Panitia INDO-MINING AND ENERGY CONFERENCE & EXHIBITION 2008.
Sekretariat:
Gedung Direktorat Pembinaan Pengusahaan Mineral dan Barubara
Jl. Prof. Dr. Supomo, SH No. 10, Jakarta 12870
Tel/Fax: 021 831 4586
Email: info@ime-convex. com
Website: www.ime-convex. com
Artikel
*Euphoria MSG*
*Kamiliyah Basith, 07 Aug 2008*
Sore hari, matahari terik sedang lucu-lucunya dan kamar kerja terasa begitu
panas di atas ini. Saya mencoba menyelesaikan beberapa sketsa desain
pakaian. *Really hard to concentrate*. Segerombolan ibu-ibu tetangga sedang
betah nongkrong di depan rumah, sejak rumah ini dibeli orangtua dan
merenovasinya menjadi bertingkat, rumah kami menjadi begitu mencolok karena
beberapa deret rumah di sebelahnya hanya satu tingkat. Jadi begitu sinar
matahari sore dinas, tetangga suka berteduh ngerumpi di depan rumah.
"Ih BBM naik lagi, saya bingung semua serba naik", cetus salah seorang ibu.
"Iya, saya berasa banget, susu naik. Udah ganti macam-macam, kalau pas cocok
sama anak *sih ngga* apa-apa, lha kalau *ngga* cocok, susah juga *berasa*.
Gaji mending naik." Saya mendengarkan dari atas, suara mereka jadi semakin
jelas karena pintu ke arah balkon saya buka.
"Mai…Shoouu…Mai" teriak abang somay beberapa meter dari rumah, dan "Beli dua
ya Mas, *ngga* pakai pare. Saosnya banyakin". Terdengar beberapa ibu juga
ikut membeli somay, "hari ini ngga masak saya, eh tanyain dulu anak-anak
pada mau *ngga* ya" dan berlari ke arah rumahnya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara lagu anak dari odong-odong, dan
makin mendekat dan suara dekatnya bertahan sekitar lima belas menit di depan
rumah. Beberapa ibu terdengar momong cucu yang sedang duduk di bangku
odong-odong dengan ekspresi kosong. Jelas sekali kalau sebenarnya si anak
tidak begitu menikmati, tetapi para ibu dan nenek yang begitu ingin
memanjakan anak atau ingin melepas lelah memangku dan merelakan sehelai dua
helai seribuan untuk hiburan odong-odong.
Hampir pukul enam dan tukang sate padang pertama mulai lewat di depan gang
"Teee…Padeaaang…Saaateeee…Padeang". "Sate Bang.." teriak salah seorang
tetangga yang masih nongrong di luar meski magrib mulai menjelang.
Sejenak saya terpikir, kira-kira berapa banyak orang belanja sehari dengan
gaya hidup jajan seperti itu. Saya memang tidak terbiasa dan mememang tidak
dibiasakan jajan sedari kecil. Sedikit terkesan ironi ketika mereka
mengeluhkan kenaikan harga BBM yang efek dominonya turut menaikkan harga
barang di pasar lainnya. Terlebih, *frankly to tell*, lingkungan rumah saya
terisi oleh masyarakat kelas menengah, yang bisa dipastikan sepertiganya
adalah menengah ke bawah dengan kelas masyarakat lulusan SMU bekerja pada
perusahaan dan membawa hasil kurang lebih Rp 1.500.000,00 per bulan,
bekeluarga dan memiliki beberapa orang anak.
Beberapa waktu lalu ketika ngobrol dengan pembantu, Si Tante sempat cerita
kalau tetangga kami yang punya anak hampir selalu menjatahkan Rp 10.000
untuk belanja tiap anak setiap harinya. Ada lagi yang punya kebiasaan tidak
bisa kalau sehari tidak makan mie ayam baso.
And *I say to myself, what an increadable life!*
Kalau saja dalam sebuah rumah tangga ada 2-3 orang anak yang harus disiapkan
uang jajannya berarti setiap harinya harus mengeluarkan antara Rp
20.000-30.000 hanya untuk jajan yang mungkin memang sebagiannya merupakan
ongkos transport anak. Tetapi bayangkan kalau nominal tersebut kita kalikan
dengan 30 hari dalam sebulan, berarti biaya yang dikeluarkan sekitar
600.000-900.000 hanya untuk belanja yang akan menguap begitu saja.
Bagaimana mereka bisa *survive*? Dan kalau pun *survive*, kehidupan seperti
apa yang mereka jalani. Ironi ketika mengeluhkan naiknya harga susu untuk
anak yang selisih kenaikannya sekitar Rp 1.500-3.000 per kilogram susu,
tetapi ada budget untuk jajan yang terkadang pada orang tertentu seperti
keharusan dengan nominal yang sangat tinggi untuk kondisi pas-pasan dan
mengeluhkan kenaikan harga.
Kalau melihat bagaimana teriak suara penolakan rakyat atas kenaikan harga
BBM yang diputuskan pemerintah boleh ngga ya kalau kita simpulkan bahwa
sebenarnya rakyat tidak terlalu merasakan itu sebenarnya. Karena gaya hidup
rakyat, bahkan di porsi dominan (menengah ke bawah) sebenarnya tidak
berhubungan langsung dengan barang-barang tersebut. Karena rakyat tidak
masak, tetapi jajan, rakyat tidak minum susu dan membeli bahan mentah
seperti tulang untuk kaldu, tetapi memakan larutan MSG (*monosodium
glutamate*) yang sudah larut dalam mangkok mie ayam baso. Rakyat lebih suka
membiarkan anaknya menonton televisi dengan segala macam siaran yang
sebenarnya tidak mendidik daripada membeli buku karena alasannya beli buku
jadi mahal sekarang karena harga kertas naik dan lebih rela mengusahakan
apapun jalannya untuk mendapatkan sebuah TV seharga sebulan gaji.
Pemerintah tidak mungkin menurunkan harga BBM secara mendadak, kita pun
tidak begitu tahu apa yang dikerjakan pemerintah dalam mengurus hal itu.
Tetapi satu hal yang pasti, setiap perubahan yang terjadi pasti perlu
penyesuaian. Penyesuaian yang ideal adalah bagaimana menjadi bijak terhadap
situasi. Kita tidak perlu membahas skenario kelas masyarakat menengah ke
atas, karena *opportunity cost * yang dimiliki oleh masyarakat kelas dan
kondisi supportif sudah jelas. Tetapi berbeda dengan masyarakat kelas
menengah ke bawah yang dikelilingi pilihan-pilihan hampir simalakama.
Tipe gaya hidup konsumtif masyarakat kita boleh dikatakan kental dan ini
yang kadang membuat kita terlambat selangkah meski kita menguasai satu hal.
Andaikan setiap rumah di Indonesia mengkonsumsi susu dan berhenti
mengkonsumsi MSG dan berhemat dari godaan jajan, rakyat Indonesia bisa
menabung setidaknya 30% dari pendapatan dan kalau ada pun teriak penolakan
kenaikan harga BBM tentunya bukan dari suara orang penikmat MSG seumur hidup
yang bereuphoria. -liaB-
*Kamiliyah Basith, 07 Aug 2008*
Sore hari, matahari terik sedang lucu-lucunya dan kamar kerja terasa begitu
panas di atas ini. Saya mencoba menyelesaikan beberapa sketsa desain
pakaian. *Really hard to concentrate*. Segerombolan ibu-ibu tetangga sedang
betah nongkrong di depan rumah, sejak rumah ini dibeli orangtua dan
merenovasinya menjadi bertingkat, rumah kami menjadi begitu mencolok karena
beberapa deret rumah di sebelahnya hanya satu tingkat. Jadi begitu sinar
matahari sore dinas, tetangga suka berteduh ngerumpi di depan rumah.
"Ih BBM naik lagi, saya bingung semua serba naik", cetus salah seorang ibu.
"Iya, saya berasa banget, susu naik. Udah ganti macam-macam, kalau pas cocok
sama anak *sih ngga* apa-apa, lha kalau *ngga* cocok, susah juga *berasa*.
Gaji mending naik." Saya mendengarkan dari atas, suara mereka jadi semakin
jelas karena pintu ke arah balkon saya buka.
"Mai…Shoouu…Mai" teriak abang somay beberapa meter dari rumah, dan "Beli dua
ya Mas, *ngga* pakai pare. Saosnya banyakin". Terdengar beberapa ibu juga
ikut membeli somay, "hari ini ngga masak saya, eh tanyain dulu anak-anak
pada mau *ngga* ya" dan berlari ke arah rumahnya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara lagu anak dari odong-odong, dan
makin mendekat dan suara dekatnya bertahan sekitar lima belas menit di depan
rumah. Beberapa ibu terdengar momong cucu yang sedang duduk di bangku
odong-odong dengan ekspresi kosong. Jelas sekali kalau sebenarnya si anak
tidak begitu menikmati, tetapi para ibu dan nenek yang begitu ingin
memanjakan anak atau ingin melepas lelah memangku dan merelakan sehelai dua
helai seribuan untuk hiburan odong-odong.
Hampir pukul enam dan tukang sate padang pertama mulai lewat di depan gang
"Teee…Padeaaang…Saaateeee…Padeang". "Sate Bang.." teriak salah seorang
tetangga yang masih nongrong di luar meski magrib mulai menjelang.
Sejenak saya terpikir, kira-kira berapa banyak orang belanja sehari dengan
gaya hidup jajan seperti itu. Saya memang tidak terbiasa dan mememang tidak
dibiasakan jajan sedari kecil. Sedikit terkesan ironi ketika mereka
mengeluhkan kenaikan harga BBM yang efek dominonya turut menaikkan harga
barang di pasar lainnya. Terlebih, *frankly to tell*, lingkungan rumah saya
terisi oleh masyarakat kelas menengah, yang bisa dipastikan sepertiganya
adalah menengah ke bawah dengan kelas masyarakat lulusan SMU bekerja pada
perusahaan dan membawa hasil kurang lebih Rp 1.500.000,00 per bulan,
bekeluarga dan memiliki beberapa orang anak.
Beberapa waktu lalu ketika ngobrol dengan pembantu, Si Tante sempat cerita
kalau tetangga kami yang punya anak hampir selalu menjatahkan Rp 10.000
untuk belanja tiap anak setiap harinya. Ada lagi yang punya kebiasaan tidak
bisa kalau sehari tidak makan mie ayam baso.
And *I say to myself, what an increadable life!*
Kalau saja dalam sebuah rumah tangga ada 2-3 orang anak yang harus disiapkan
uang jajannya berarti setiap harinya harus mengeluarkan antara Rp
20.000-30.000 hanya untuk jajan yang mungkin memang sebagiannya merupakan
ongkos transport anak. Tetapi bayangkan kalau nominal tersebut kita kalikan
dengan 30 hari dalam sebulan, berarti biaya yang dikeluarkan sekitar
600.000-900.000 hanya untuk belanja yang akan menguap begitu saja.
Bagaimana mereka bisa *survive*? Dan kalau pun *survive*, kehidupan seperti
apa yang mereka jalani. Ironi ketika mengeluhkan naiknya harga susu untuk
anak yang selisih kenaikannya sekitar Rp 1.500-3.000 per kilogram susu,
tetapi ada budget untuk jajan yang terkadang pada orang tertentu seperti
keharusan dengan nominal yang sangat tinggi untuk kondisi pas-pasan dan
mengeluhkan kenaikan harga.
Kalau melihat bagaimana teriak suara penolakan rakyat atas kenaikan harga
BBM yang diputuskan pemerintah boleh ngga ya kalau kita simpulkan bahwa
sebenarnya rakyat tidak terlalu merasakan itu sebenarnya. Karena gaya hidup
rakyat, bahkan di porsi dominan (menengah ke bawah) sebenarnya tidak
berhubungan langsung dengan barang-barang tersebut. Karena rakyat tidak
masak, tetapi jajan, rakyat tidak minum susu dan membeli bahan mentah
seperti tulang untuk kaldu, tetapi memakan larutan MSG (*monosodium
glutamate*) yang sudah larut dalam mangkok mie ayam baso. Rakyat lebih suka
membiarkan anaknya menonton televisi dengan segala macam siaran yang
sebenarnya tidak mendidik daripada membeli buku karena alasannya beli buku
jadi mahal sekarang karena harga kertas naik dan lebih rela mengusahakan
apapun jalannya untuk mendapatkan sebuah TV seharga sebulan gaji.
Pemerintah tidak mungkin menurunkan harga BBM secara mendadak, kita pun
tidak begitu tahu apa yang dikerjakan pemerintah dalam mengurus hal itu.
Tetapi satu hal yang pasti, setiap perubahan yang terjadi pasti perlu
penyesuaian. Penyesuaian yang ideal adalah bagaimana menjadi bijak terhadap
situasi. Kita tidak perlu membahas skenario kelas masyarakat menengah ke
atas, karena *opportunity cost * yang dimiliki oleh masyarakat kelas dan
kondisi supportif sudah jelas. Tetapi berbeda dengan masyarakat kelas
menengah ke bawah yang dikelilingi pilihan-pilihan hampir simalakama.
Tipe gaya hidup konsumtif masyarakat kita boleh dikatakan kental dan ini
yang kadang membuat kita terlambat selangkah meski kita menguasai satu hal.
Andaikan setiap rumah di Indonesia mengkonsumsi susu dan berhenti
mengkonsumsi MSG dan berhemat dari godaan jajan, rakyat Indonesia bisa
menabung setidaknya 30% dari pendapatan dan kalau ada pun teriak penolakan
kenaikan harga BBM tentunya bukan dari suara orang penikmat MSG seumur hidup
yang bereuphoria. -liaB-
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.