Memperjuangkan Kebenaran dan Keadilan

Perempuan dalam Perenungan


Muhammad Sirul Haq

Duduk tersandar kaku pada tiang mati
Merasakan kesedihan pilu diterpa badai
Semua telah menghilang leyap tersapu angin
Hanya kepedihan tersisa mendalam

Siang malam tak lagi nampak dipelupuk
Mata membengkak meratapi kesedihan mendalam
Anai- anai beterbangan menutupi piluh
Hati tersapu badai menyisahkan lara

Waktu tak mungkin berputar balik
Kekuasaan tak lagi menemani keperkasaan
Ruang menjadi hampa hening tak bermakan
Gitar tak berdawai kehilangan nada

Bernyanyi kini tak mengeluarkan suara
Menari tak elok dipandang rupa oleh lunglai
Ukiran kanvas hanya menyisahkan putih
Goresan tinta meninggalkan jejak duka

Tak ada malam yang perlu ditangisi
Kau dalam sejatimu
Kini tinggal kenangan
Berbuah bui dilautan
Tersapu ombak hilang sekejap

Malam rindu buat perempuanku, puisi ini tuk mengisi pilumu yang tak terobati zaman.

Malam


Muhammad Sirul Haq

nikmatilah malam dalam kesejatianmu
Nikmatilah hidup bagaikan seribu tahun kedepan
Ingatlah mati seakan menantinya esok hari

biarkan malam terlelap menemanimu
sebab IA akan menemanimu
Dikala terjaga dan tidurmu
Dialah sang pemilik jagad semesta

Semua Binasa


Muhammad Sirul Haq

Tak ada tersisa
Tujuh petala langit tergunjang
Tiupan bersautan penanda
Menandai hancurnya segala

Tak ada tersisa
Keangkuhan manusia pun sirna
Sebiji zharra pun luluh lantah
Hanya keping bercak darah
dari sebuah kesombongan zaman

Menunggu
Hari dibalasnya semua kesalahan
Tak ada elakan dari kebohongan
Taka ada dusta penyeka kejahatan
Hanya berserah diri jawabnya
Ketika keheningan menghampiri

Benda

Benda

Muhammad Sirul Haq

Menyimpan beribu makna dalam bentuk
Meninggalkan jejak ruang dan waktu
Memberikan pesan kehadirannya
Mengundang beribu pandang berbeda

Kesannya selalu berbeda pada setiap orang
Ada yang mengatakannya biasa saja
Ada yang merelakan jiwa raganya
Tuk melindungi dan menjaganya

Karenanya pula,
Banyak yang pilu berkalang tanah
Ada pula yang tenar karenanya
Entah karena kekuatan gaib yang dimilikinya
Mengejar demi kesembuhan, kebaikan ataupun keberuntungan
Terkadang pula disembah oleh sebab tak tentu

Selalu terikat dengan arenanya
Dibahasakan seribu kata berbeda
Padahal ia adalah ia
Intrepretasi tak membuatnya bergeming

Apa yang selalu dipikirkan tentangnya
Sesungguhnya tidak mewakili esensinya
Dia adalah dia

Manusialah yang membuatnya dependen
Padahal ia independen bagi dirinya sendiri
Ia adalah Penanda
Pikiran manusialah yang petandanya

Lesung


Sebuah energi kehidupan
Lekukan kedalam penarik rezeki
Simbol perempuan bagi dunia barat
Melekat pada pangkat sersan pada kemiliteran

Terpapang pada bintang yahwe
Pertalian antar lelaki dan wanita
Rembulan senja pada umat muslim
Lambang perdamaian bagi setiap individu

Angkatlah tanganmu
Bentangkan dua jari, telunjuk dan tengahmu
Kepalkan jejarimu yang lain
sebutkanlah peace...

Pembangkit kehidupan bagi kebudayaan
Masyarakat agraris memakainya menghidupkan fajar
Bunyi bertalu tanda mentari telah bersinar

Lekat pada kehidupan perempuan desa
Penumbuk padi santapan keluarga
Simbol perayaan panen dan pesta kemenangan
Keceiraan tiada tara

Ia juga melekat pada pipi
Bila pada lelaki ia kemayu
Bila pada wanita ia manis menghanyutkan
Menggoda ampuh bagi setiap pria

Siapa yang tak tergoda olehnya
aduhai amboi merayu hati
Seribu pulau kan kuseberangi
Tuk mendapatkan gadis lesung pipi itu

Kepedihan


Muhammad Sirul Haq

begitu besarkah kepedihanmu
seberapa besarkah dosa yang kamu perbuat
sehingga pintu langit tertutup bagimu
apakah yang terjadi gerangan padamu

mungkin selama ini kamu telah lupa
tak pernah mengingatnya walau sejenak
ataukah dirimu tak sabar
menuju nirwana

tak perlu lah kamu risau
sebab bila sampai waktumu
ia akan mencarimu
menggirimu pada nirwana-Nya

Kasih Sayang

Muhammad Sirul Haq

Melintasi ruang tanpa batas
Melampaui waktu rotasi bumi
Mengelilingi setiap terkasih
Terpendam jauh di lubuk hati

Gejolaknya melebihi tsunami
Getarannya mengalahkan gempa
Panasnya menundukkan larva
Dinginnya membekukan kutub utara

Dapatkah diingkari
Bila pertemuan dua hati menggoncang bumi
Sembilu jiwa teriris bila jauh darinya
Bila dekapan tangan membara berkesumat
Ngilu sukma tersayat sedetik tanpanya

Aku ada
Untuk mengasihimu
Dalam rongga hati kerinduan mendalam
Inilah sayangku meluap dalam kasih
Bahwa aku dan kau, tenggelam dalam lumpur talian jiwa
Diberdayakan oleh Blogger.