Memperjuangkan Kebenaran dan Keadilan

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Tak Suka Diri

Tak Suka Diri

Aku tak suka basa basi yang basah

Aku tak suka bisu bisa yang pasrah

Aku tak suka bara biru yang parah

Aku tak suka bisa bara yang buncah

Basah yang membanjiri hingga hanyut

Pasrah yang masa bodoh hingga sesat

Parah yang merusak hingga reyot

Buncah yang mengganggu hingga pecat

Hanyut diri hingga lupa diri

Sesat diri hingga gelap diri

Reyot diri hingga rusak diri

Pecat diri hingga hilang diri

Sebab diri adalah yang paling berharga bagi diri

Maka dari itu perlu mawas diri

Agar menjadi manusia yang memiliki diri

Sebelum tak ada lagi kuasa bagi diri

Tamangapa

Angingmammiri

11 Mei 2009

Kerendahan

milikilah diriku apa adanya
bukan karena nafsu
bukan bula karena materi
sebab diriku adalah kerendahan

Tamangapa
Angingmammiri
10 Mei 2009

Ada Salam dari Tuhan Buatmu

Gerbang mesjid seakan menyapaku jumat itu
Mempersilahkanku masuk di istana Ilahi
Rasa lembut menyentuhku
Sumsum tulang terasa syahdu surgawi

Rasa dingin sejuk menerpa pori
Dekapan jiwa menghampiri diri
Tak sabar hati ini ingin segera bercakap
Mengisi naluri yang tak lagi senyap

Disetiap ruku dan sujudku
Selalu hadir namaMU
Menunddukkan diri dalam kerendahan hati
Mengharapkan kasih kerinduan sang ilahi

Sendu menyentuh membelai raga
Serasa nikmat sang ilahi menyapa
Tak lupa ku berdoa memohon ridha
Atas segala durjana duniawi fana

Tapi ditengah doa itu aku tersentak
Ku rasakan bisik doaku tersepak
Lirik lembut suara terdengar sontak
Siapakah pujaanmu yang membuat hatimu terkepak

Sebuah hati lembut rasa keibuan
Terasa jiwamu selalu mengalami pergolakan
Seistimewa itukah dirinya hadir dipikiran
Sehingga tak ada waktu selain dirinya walau tak ada rembulan

Aku Sang ilahi
Hanya menitip salam bagi empunya hati
Bahwa dia sangat berharga bagi dirimu
Hiduplah kekal dalam keabadian rindu

Tamangapa
24 April 2009

Hadir KU


Muhammad Sirul Haq

Imam ALi ra. berkata :
"Kenallah dirimu maka kau akan mengenalnya"

Maka diri dan Tuhan adalah satu
Dia hadir didiri kita
Lebih dekat dari urat leher
Dalam aliran darah
Disetiap denyut jantung

Telah kutiupkan roh ke jasadmu
Maka jagalah dirimu sebaik kamu menjaga-KU
Sebab pada dirimu AKU kan selalu ada

DIsetiap tarikan nafasmu
Disetiap basahan bibirmu
Disetiap Zikir dan doamu
Disetiap gerakmu
dan disetiap pikirmu
AKU kan selalu ada

Mendampingi
Mengawasi
Menghibur
Dan menemanimu ketika kau terlelap

Antang,
Makassar

Malam


Muhammad Sirul Haq

nikmatilah malam dalam kesejatianmu
Nikmatilah hidup bagaikan seribu tahun kedepan
Ingatlah mati seakan menantinya esok hari

biarkan malam terlelap menemanimu
sebab IA akan menemanimu
Dikala terjaga dan tidurmu
Dialah sang pemilik jagad semesta

Benda

Benda

Muhammad Sirul Haq

Menyimpan beribu makna dalam bentuk
Meninggalkan jejak ruang dan waktu
Memberikan pesan kehadirannya
Mengundang beribu pandang berbeda

Kesannya selalu berbeda pada setiap orang
Ada yang mengatakannya biasa saja
Ada yang merelakan jiwa raganya
Tuk melindungi dan menjaganya

Karenanya pula,
Banyak yang pilu berkalang tanah
Ada pula yang tenar karenanya
Entah karena kekuatan gaib yang dimilikinya
Mengejar demi kesembuhan, kebaikan ataupun keberuntungan
Terkadang pula disembah oleh sebab tak tentu

Selalu terikat dengan arenanya
Dibahasakan seribu kata berbeda
Padahal ia adalah ia
Intrepretasi tak membuatnya bergeming

Apa yang selalu dipikirkan tentangnya
Sesungguhnya tidak mewakili esensinya
Dia adalah dia

Manusialah yang membuatnya dependen
Padahal ia independen bagi dirinya sendiri
Ia adalah Penanda
Pikiran manusialah yang petandanya

Lesung


Sebuah energi kehidupan
Lekukan kedalam penarik rezeki
Simbol perempuan bagi dunia barat
Melekat pada pangkat sersan pada kemiliteran

Terpapang pada bintang yahwe
Pertalian antar lelaki dan wanita
Rembulan senja pada umat muslim
Lambang perdamaian bagi setiap individu

Angkatlah tanganmu
Bentangkan dua jari, telunjuk dan tengahmu
Kepalkan jejarimu yang lain
sebutkanlah peace...

Pembangkit kehidupan bagi kebudayaan
Masyarakat agraris memakainya menghidupkan fajar
Bunyi bertalu tanda mentari telah bersinar

Lekat pada kehidupan perempuan desa
Penumbuk padi santapan keluarga
Simbol perayaan panen dan pesta kemenangan
Keceiraan tiada tara

Ia juga melekat pada pipi
Bila pada lelaki ia kemayu
Bila pada wanita ia manis menghanyutkan
Menggoda ampuh bagi setiap pria

Siapa yang tak tergoda olehnya
aduhai amboi merayu hati
Seribu pulau kan kuseberangi
Tuk mendapatkan gadis lesung pipi itu

Kepedihan


Muhammad Sirul Haq

begitu besarkah kepedihanmu
seberapa besarkah dosa yang kamu perbuat
sehingga pintu langit tertutup bagimu
apakah yang terjadi gerangan padamu

mungkin selama ini kamu telah lupa
tak pernah mengingatnya walau sejenak
ataukah dirimu tak sabar
menuju nirwana

tak perlu lah kamu risau
sebab bila sampai waktumu
ia akan mencarimu
menggirimu pada nirwana-Nya

Kasih Sayang

Muhammad Sirul Haq

Melintasi ruang tanpa batas
Melampaui waktu rotasi bumi
Mengelilingi setiap terkasih
Terpendam jauh di lubuk hati

Gejolaknya melebihi tsunami
Getarannya mengalahkan gempa
Panasnya menundukkan larva
Dinginnya membekukan kutub utara

Dapatkah diingkari
Bila pertemuan dua hati menggoncang bumi
Sembilu jiwa teriris bila jauh darinya
Bila dekapan tangan membara berkesumat
Ngilu sukma tersayat sedetik tanpanya

Aku ada
Untuk mengasihimu
Dalam rongga hati kerinduan mendalam
Inilah sayangku meluap dalam kasih
Bahwa aku dan kau, tenggelam dalam lumpur talian jiwa

Pada akhirnya

Pada akhirnya

Kita harus merenung dan bertanya tentang diri

Sejauh mana perubahan yang kita inginkan

Ataukah sebenarnya kita hanya berjalan ditempat

Dan tak melakukan apa-apa selain diam

Terkadang,

Ruang hampa yang kita sisakan

Akan menjadi milik orang lain

Atau tak samasekali dimiliki

Karena kita tidak sempat mengisinya

Dan lebih parahnya ketika ia direbut orang lain

Perjalanan

Akan selalu berlalu

Meninggalkan jejak atau Nampak tak terjalani

Sebab diri kita akan meninggalkan bekas dalam ingatan

Hanya tersimpan dalam bawah sadar

Pada akhirnya menjalani tanpa menyadari

Bahwa teralami dan masa depan akan selalu hilang

Takdir

Sebuah bentuk perlawanan akan garis kehidupan

Pertanyaan pertanda yang tak jelas

Mengawang membabi buta tanpa kejelasan

Sebab tak ada kehidupan yang terencana

Yang ada adalah kekekalan keberuntungan atau tak sama sekali

Kita akan selalu berjalan

Walaupun akan menemukan kebingungan

Bahkan ketika senja menghampiri

Rasa penasaran tentang hidup tetap menyelimuti

Lantas

Rasa aman apa yang kita citakan

Ataukah keinginan selalu menjadi sumber derita

Begitupun tak berkeinginan lebih menderita lagi

Sebab derita tak berakhir

Hanya sepenggal kesialan yang menjadi lontaran penghibur

Ketika hati terluka, tersayat, pedih, terseduh dan hanya tinggal diam

Diam

Bukanlah kekalahan

Melainkan refleksi dan penyadaran diri

Untuk tak sementara bergerak

Dan bergerak dalam momentum waktu yang tepat

Bergerak dalam diam, sebab diam adalah gerak

Diam dalam kehampaan

Bukan berarti tanpa isi ataupun gerak

Tetapi perenungan untuk memperbaiki

Pembenahan akan kelemahan dan kerusakan

Menemukan keabadian dalam kepasrahan

Bahwa hari esok akan baik dan bersahaja

Manusia terbaik

Bukanlah yang hanyut akan keinginan

Tapi yang mampu memberikan jarak pada diri sendiri

Sebab lawan terberat setiap manusia adalah dirinya sendiri

Mencapai keabadian dalam kerendahan hati

Menyapa setiap kalbu dengan sentuhan jiwa

Bahwa hari esok kita akan selalu bersama dalam keabadian

Walau keinginan tak selamanya dipersatukan

Antang, 02.41 wita

10 Nopember 2008

M Sirul Haq

Senja Kian Memanas

senja kian memanas...
manakala kudengar kata " jancuk" disebut!
keringatku berkali-kali menetes hangat di pelupuk mata,
hei...ada yang janggal disela-selaa surabaya...
sesosok kai tangn basah merayap-rayap mnghampiri sebuah tandu
mayat yang tiba-tiba kosong..
sungguh tragis surabayaku.. ..

XXVI - VII

asharjunandar under ShorTime In HeaVen

Yang tak terhindarkan datang juga mengajak dialog dalam botol yang
menganga.

Malam yang membuka lebar-lebar mulutnya. Memamerkan jejeran gigi seri

kecoklatan rumput kemarau. "Kupinta api, kau datangkan angin
basah" keluhnya.

Hamzah telah berseru dalam "Seorang..

Angin berhembus sepoi basa"

Namun yang datang di shelter Velodrome ini, begitu beragam manusia,
rambut,

lipstick, rok, tas, juga bacaan atau obrolannya di dalam sinyal hand
phone

yang berbicara entah kepada siapa.

Ada yang marah, senyum-senyum, sedikit airmata hendak basah, atau
seseorang

yang tiba-tiba memencet tuts "No" dan menutup wajah dengan dua
telapak

tangannya.

Yang tak terhindarkan datang juga mengajak dialog dalam botol yang
menganga.

Tiang yang berjejer tinggi sepanjang badan jalan, sepanjang sejarah
selalu

menjinjing satu-satu neon listrik di dua rentang tangannya. Seperti
jalan

yang selalu berarah berlawanan.

Tak sempurna memang rasanya. Bila bebuih ini belum menunjukkan geliat
badan.

Tak sempurna, air yang akan membasahi kerongkongan kita. Jiwa-jiwa yang

selalu terkalahkan dan berdosa.

Baru pada pukul tujuh, sedikit jarum panjang akan melintasi arah ruas
pertama

enam jejeran garis kecil menjelang delapan.

Bus sudah tampak lagi dua lampu depan. Orang-orang bangkit dari kursi
tunggu.

Berjejer sembarang, tidak pernah sesuai antrian.

Satu arah yang terus dipaksakan. Benar-benar terbenamkan.

Terbungkam.

Rawamangun, Sabtu malam, 02082008
blalang_kupukupu
http://asharjunanda r.wordpress. com <http://asharjunanda r.wordpress. com>

NYANYIAN Hati

Di sana, di semburat langit jingga

Barisan camar meliuk
menebarkan pesona

Kutunggu lini langit
membentang memanjang

Dalam kesunyian ombak yang
membuncah



Lihatlah, kini dia tak
lagi terbungkus resah

Dalam syairnya mengalun
lembut pesona damai

Mengatupkan semua galau
merebak

Pagutan raga mengalir
mendesirkan peluh gelombang



Duh, paduka

Adakah keunikan yang lebih
indah dari itu?

Perbawa semangat mendukung
asa

Menjulur di hati liar
mencari sembunyi

Disetubuh uap gairah
meletup

Mengoyak dinding kepatuhan

Dengarlah, gemuruh kian
membahana

Di singgasana keagungan
yang luruh perlahan



Beranda Weni

5 Agustus 2008

Puisi

hari hari tua

hari hari kian menua
mentari tua membakar ladang ladang dan tanah rengkah
mahoni dan angsana gundul mencium tanah
daun mengering dijilat terik jadi santapan ulat ulat serakah

pagi ini rerumputan pun menangis pasrah
butir butir embun enggan turun basahi kerontang segala penjuru
akankah airmata petani pun kian mengering menjemput asa

hari hari yang kian menua
sisakan jejak jejak tertatih petani tua
merindu tetes tetes bening basahi kerongkongan yang lekang
dan mata sayu menyisir gundukan tanah di ladang gersang
sisakan asa dan tanya yang semakin panjang
:
kapankah Sang Maha Pemurah kembali menyiram tanah leluhur ini
membiarkan kupu kupu menari diantara kelopak dan bunga sawi
memupus cerita gersang hari hari tua dalam sunyinya mati



jonggol, medio jun'03

ODE CINTA KEKASIH SEJATI

Dikeluasan langit dan
bumi

Disemburat senja
merenda malam

Kaulah penyejukku,
penentram jiwaku

Yang senantiasa labil
ini

Bergelora

Mengembara

Berpetualang

Ke lautan luas tanpa
batas

Ke arena yang tak kau
mengerti, tak kau gumuli dan pahami

Mas………

Cinta sejatiku takkan
pernah padam untukmu

Kusimpan, kujaga

Kubawa sampai maut
memisahkan

Mas…. dibawah kendali
liarku

Kau tetap matahariku

Penentram gulita hatiku
dalam galau gulanaku

Yang tak pernah jemu
menunggu malam-malamku

Yang senantiasa
mengguratkan semarak kata

Mengukir sajak,
puisi, prosa, cerpen, dan keindahan sastra

Menjalin persahabatan
luas tanpa batas

Kemanapun kuterbang,
melanglang buana

Mencari secercah ruas
penghilang jemu

Kau tetap menjadi
tempat kembaliku

Pelabuhan terakhirku,
muara kasih hidupku

Dalam dekapmu aku
merasa aman, nyaman dan tentram

Dalam dekapmu aku
tahu bahwa cintamu untukku adalah segalanya

Bagai sumber air mengalir
yang tak pernah mati

Ibarat oase gurun
disaat aku merasa kerontang

Dengan kesabaran yang
tak pernah habis menyelimuti kehangatan jiwamu.

Kutatapi tidur
lelapmu melepas lelah…

Duh, rasa iba
menjalari seluruh sum-sum tulangku yang menggigil

Alangkah indahnya
pengertian antara kita

Meski kutahu kau
telah “terlalu” banyak mengalah

Demi kebahagiaanku.
Sungguh, aku gemetar mengingatnya

Mas…maafkan jika aku telah berkhianat

Maafkan aku jika
telah menelikungkan hati

Pada sesuatu yang
baru saja kutekuni kembali

Menulis, sastra, puisi,
sajak, cerpen,

Teman-teman di dunia
sastra…

Mas….airmataku
menggenangi sudut-sudut hatiku

Dalam kehangatan
kasih yang tak jemu kau beri

Mengarungi perjalanan
hidup bersama

Melewati pengalaman indah kita



Surat cintaku ini abadi untukmu

Selamanya…

Dalam kekokohan
kristal cinta yang tak mungkin retak



Izinkan aku menikmati
apa yang kutempuh saat ini

Izinkan aku meraih
mimpi mimpiku



I love you…from the bottom of my heart





2 Agustus 2008, 09.21
WIB

Puisi Kebebasan

Kebebasan
Melayang diantar puing keruntuhan budaya
Dunia social yang telah tergadaikan
Oleh serigala berbulu kelinci mengendus
Memangsa tanpa pandang bulu
Menghancurkan kawan sendiri

Maukah kebebasan ini berjalan
Diantara kepedihan diri yang entah kapan berakhir
Sementara waktu bergulir terus tanpa henti
Dilain sisi nasib tak menentu bergulir
Bahkan terkadang berhenti di salah satu titian
Titian itupun akan patah bila tak ada pergerakan

Sementara diri harus bergerak walaupun kosong
Berjalan walaupun tanpa tujuan pasti
Disisi lain, semua tampak menjengkelkan
Menggemaskan dengan keadaan yang miris
Selalu membawa kita pada kepedihan

Kunang-kunang kepedihan
Terbang bebas tanpa menemukan arah pasti
Berbicara, bergerak dan berfikir tanpa hasil
Selalu menuai badai yang menghantam
Seakan berkata kapan akan menemukan nasib yang baik

Cinta Sejati

Cinta Sejati

Pertemuan dua sejoli
Dua bagaikan Satu
Berpadu kedamaian abadi
Berjuang demi kebersamaan


Makassar, 11 Juni 2007


Mungkinkah kita bersatu lagi
Dalam ruang paduan cinta
Ataukah kita hanya belajar saling mencinta

Jujur saja
Aku kurang menemukan cinta dalam dirimu
Ya, aku serius
Walaupun kita telah 4 tahun lamanya
Tenggelam dalam pelukan asmara

Tapi serasa,
Ada yang hilang diantara kita berdua
Tidak ada lagi ruang dialog
Tidak ada kesatuan jiwa
Serasa hampa menghampiri

Ku belum menemukan cinta sejatiku
Dia hilang atau belum pernah menghampiri
Entah dimana gerangan berada sekarang
Mungkinkah dia hilang

Dimanakah kuharus mencarinya
Ketika kerinduan membara
Kesepian menghinggap
Diantara relung pikiran hati

Jiwa
Ragu dan bimbang
Teronggok dalam lamunan panjang
Betulkah jalan yang ku raih hari ini
Ataukah ada perubahan yang mesti ku jalin

Seberat itu kah mencapainya
Butuh perjuangan berapa lamakah
Ataukah kesabaranku yang telah sirna
Ataukah aku yang memang tindak ingin mengerjakannya
Setengah hati dan bermuram durja

Ya
Mungkin aku harus balik bertanya pada diri ini
Betulkah keinginan diri ini
Ataukah sekedar ilusi diri
Menghilang dan menjauh
Bagaikan tiupan angin
Terasa tapi tak terlihat
Hanya sekejap dan tak bermakna

Telah 8 tahun aku
Tanpa sadar telah kulalui
Sejak dibangku kuliah
Banyak sudah kepingan harapan
Perjuangan dan semangat membara

Namun kini
Seakan aku harus membangun dari awal
Segala bangunan kejiwaan dan cara berfikirku
Mungkinkah semua ini dapat aku lalui
Ataukah ini sekedar jalinan takdir

Hidup
Dalam perjuanganku melawan setiap cobaan
Masalah yang semakin bertumpuk
Menghampiri dan sulit dilepas
Sejauhmanakah aku harus bertahan

Kenapa
Aku sulit melawan diriku sendiri
Lawan terkuat adalah dirku
Saat ini aku kalah
Aku terbenang dalam lamunan panjang
Kemalasan dan kebebalan berfikir
Seakan aku harus lepas dari semua ini

Mungkinkah diriku harus melakukan perlawanan
Melepaskan belenggu kedunguanku
Dan tak tinggal dalam lamunan
Berjuang demi pencapaian keakuanku
Melawannya sekuat tenaga
Diberdayakan oleh Blogger.