Memperjuangkan Kebenaran dan Keadilan

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

cerpen

Cat in the Rain
- by Ernest Hemingway -


There were only two Americans stopping at the hotel. They did not know
any of the people they passed on the stairs on their way to and from
their room. Their room was on the second floor facing the sea. It also
faced the public garden and war monument. There were big palms and
green benches in the public garden. In the good weather there was
always an artist with his easel. Artists liked the way the palms grew
and the bright colors of the hotels facing the sea. Italians came from
a long way off to look up at the war monument. It was made of bronze
and glistened in the rain. It was raining. The rain dripped from the
palm trees. Water stood in pools on the gravel paths. The sea broke in
a long line in the rain. The motor cars were gone from the square by
the war monument. Across the square in the doorway of the cafe a
waiter stood looking out at the empty square.

The American wife stood at the window looking out. Outside right under
their window a cat was crouched under one of the dripping green
tables. The cat was trying to make herself so compact that she would
not be dripped on.

"I'm going down and get that kitty," the American wife said.

"I'll do it," her husband offered from the bed.

"No, I'll get it. The poor kitty is out trying to keep dry under the
table."

The husband went on reading, lying propped up with the two pillows at
the foot of the bed.

"Don't get wet," he said.

The wife went downstairs and the hotel owner stood up and bowed to her
as she passed the office. His desk was at the far end of the office.
He was an old man and very tall.

"Il piove," the wife said. She liked the hotelkeeper.

"Si, si, Signora, brutto tempo. It is very bad weather."

He stood behind his desk in the far end of the dim room. The wife
liked him. She liked the way he wanted to serve her. She liked the way
he felt about being a hotel-keeper. She liked his old, heavy face and
big hands.

Liking him she opened the door and looked out. It was raining harder.
A man in a rubber cape was crossing the empty square to the cafe. The
cat would be around to the right. Perhaps she could go along to the
eaves. As she stood in the doorway an umbrella opened behind her. It
was the maid who looked after their room.

"You must not get wet," she smiled, speaking Italian. Of course, the
hotel-keeper had sent her.

With the maid holding the umbrella over her, she walked along the
gravel path until she was under their window. The table was there,
washed bright green in the rain, but the cat was gone. She was
suddenly disappointed. The maid looked up at her.

"Ha perduto qualque cosa, Signora?"

"There was a cat," said the American girl.

"A cat?"

"Si, il gatto."

"A cat?" the maid laughed. "A cat in the rain?"

"Yes," she said, "under the table." Then, "Oh, I wanted it so much. I
wanted a kitty."

When she talked English the maid's face tightened.

"Come, Signora," she said. "We must get back inside. You will be wet."

"I suppose so," said the American girl.

They went back along the gravel path and passed in the door. The maid
stayed outside to close the umbrella. As the American girl passed the
office, the padrone bowed from his desk. Something felt very small and
tight inside the girl. The padrone made her feel very small and at the
same time really important. She had a momentary feeling of being of
supreme importance. She went on up the stairs. She opened the door of
the room. George was on the bed reading.

"Did you get the cat?" he asked, putting the book down.

"It was gone."

"Wonder where it went to," he said, resting his eyes from reading. She
sat down on the bed.

"I wanted it so much," she said. "I don't know why I wanted it so
much. I wanted that poor kitty. It isn't any fun to be a poor kitty
out in the rain."

George was reading again.

She went over and sat in front of the mirror of the dressing table
looking at herself with the hand glass. She studied her profile, first
one side and then the other. Then she studied the back of her head and
her neck.

"Don't you think it would be a good idea if I let my hair grow out?"
she asked, looking at her profile again.

George looked up and saw the back of her neck, clipped close like a boy's.

"I like it the way it is."

"I get so tired of it," she said. "I get so tired of looking like a boy."

George shifted his position in the bed. He hadn't looked away from her
since she started to speak.

"You look pretty darn nice," he said.

She laid the mirror down on the dresser and went over to the window
and looked out. It was getting dark.

"I want to pull my hair back tight and smooth and make a big knot at
the back that I can feel," she said. "I want to have a kitty to sit on
my lap and purr when I stroke her."

"Yeah?" George said from the bed.

"And I want to eat at a table with my own silver and I want candles.
And I want it to be spring and I want to brush my hair out in front of
a mirror and I want a kitty and I want some new clothes."

"Oh, shut up and get something to read," George said. He was reading
again.

His wife was looking out of the window. It was quite dark now and
still raining in the palm trees.

"Anyway, I want a cat," she said, "I want a cat. I want a cat now. If
I can't have long hair or any fun, I can have a cat."

George was not listening. He was reading his book. His wife looked out
of the window where the light had come on in the square.

Someone knocked at the door.

"Avanti," George said. He looked up from his book. In the doorway
stood the maid. She held a big tortoise-shell cat pressed tight
against her and swung down against her body.

"Excuse me," she said, "the padrone asked me to bring this for the
Signora.
--- In penulislepas@ yahoogroups. com, "Arman" wrote:
>
> Lebih baik lagi kalau disertakan contoh/ilustrasinya ....
> Mungkin ada yg berkenan
> Thanks,

__._,_.___

cerpen

Nilai Segelas Air



"Dan dari air
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup" (QS. 21:30)



Ayat ini
merupakan ayat popular. Kerap dikutip orang saat menyatakan betapa pentingnya
eksistensi air. Tidak satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak butuh air.
Bahkan komponen terbesar dalam tubuh manusia dan banyak makhluk lainnya adalah
air.

Air
merupakan nikmat yang tiada ternilai. Proses sebuah air hingga bisa dinikmati
oleh manusia sering digambarkan oleh Allah Swt dalam ayatNya dengan skema yang
tidak main-main. Negeri kering nan tandus, kemudian Allah Swt kumpulkan debit
air dalam sebuah wadah terbang-bergerak bernama awan. Lalu awan tersebut ditiup
dan digiring menuju negeri yang Dia Swt kehendaki. Maka atas izinNya hujan pun
turun membawa ribuan ton debit air. Membasahi bumi… lalu setelah itu manusia
menggunakannya untuk minum, mencuci, mandi, masak dan lain-lain. Duh andai saja
manusia menyadari proses ini, pasti mereka wajib bersyukur.



"Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau
Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak
bersyukur?" (QS. 56 : 68-70)



Seorang
raja bernama Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan melintasi sebuah
gurun pasir menunggangi unta. Bersamanya ada sebuah lelaki bijak sang penasehat
raja bernama Ibnu As Samak. Perjalanan panjang di siang yang panas. Terik
matahari membuat dehidrasi dan sang khalifah pun kehausan. Pada satu tempat
yang teduh, Harun ar Rasyid menepi. Disuruhnya As Samak untuk menggelar tikar
dan membawa minuman untuknya.

Ibnu Samak
menggelar tikar untuk sang raja dan menuangkan segelas air untuknya. Saat gelas
sudah terisi oleh air, lalu Ibnu As Samak berujar, "Khalifah…, dalam
kondisi panas dan tenggorokan kehausan seperti ini, andaikata bila kau tidak
dapatkan air untuk minum kecuali dengan harus mengeluarkan separuh kekayaanmu,
sudikah engkau membayar dan mengeluarkannya?!" Hari terik dan panas
mencekat kerongkongan, tanpa pikir panjang khalifah ar Rasyid menjawab,
"Saya bersedia membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!"

Maka usai
mendengarnya, Ibnus Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun tidak
lagi kehausan.

Ibnu Samak
lalu duduk di sisi khalifah Harun. Sejurus kemudian Ibnu Samak melontarkan
pertanyaan lagi, "Khalifah, andai air segelas yang kau minum tadi tidak
keluar dari lambungmu selama beberapa hari tentulah amat sakit rasanya. Perut
jadi gak keruan dan semua urusan jadi berantakan karenanya. Andai kata bila kau
berobat demi mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu
lagi, akankah kau sudi membayarnya?" Mendengar itu, sang khalifah
merenungi kondisi yang disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah
menjawab, "Saya akan membayarnya meski dengan separuh harta saya!"

Mendengar
jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang penasehat raja yang bijak
kemudian berkomentar, "O…., kalau begitu seluruh harta yang tuan khalifah
miliki itu rupanya hanya senilai segelas air saja!"



Saudaraku…,

Ramadhan
sebentar lagi akan kita jelang. Di sana
selama beberapa hari Anda akan merasakan betapa segelas air akan menjadi tiada
ternilai harganya. Setelah menahan haus dan lapar sehari penuh. Saat waktu
ifthar menjelang, maka segelas air putih pun akan menjadi sesuatu yang
bermakna. Saat air membasahi tenggorokan yang kering dan kehausan, maka Anda
pun akan bersyukur kepada Allah Swt dengan suara lantang dengan lantunan doa:

Allahumma
laka shumtu wa bika aamantu wa alaa rizqika afthartu birahmatika yaa Arhamar Rahimin.



Di bulan
ramadhan
segala nikmat menjadi indah terasa, demikian juga nikmat seteguk air.
Alangkah bagusnya bila ini terus berlangsung sepanjang masa.



Puji
syukur untukMu ya Rabb!



Wasalam,

Bobby
Herwibowo

www.kaunee.com

cerpen

Ernest Hemingway's Top 5 Tips for Writing Well

by Brian Clark

Who better?

Many business people faced with the task of writing for marketing
purposes are quick to say:

Hey, I'm no Hemingway!

But really, who better than Hemingway to emulate? Rather than
embracing the flowery prose of the literati, he chose to eschew
obfuscation at every turn and write simply and clearly.

So let's see what Ernest can teach us about effective writing.
1. Use short sentences.

Hemingway was famous for a terse minimalist style of writing that
dispensed with flowery adjectives and got straight to the point. In
short, Hemingway wrote with simple genius.

Perhaps his finest demonstration of short sentence prowess was when he
was challenged to tell an entire story in only 6 words:

For sale: baby shoes, never used.
2. Use short first paragraphs.

See opening.
3. Use vigorous English.

Here's David Garfinkel's take on this one:

It's muscular, forceful. Vigorous English comes from passion, focus
and intention. It's the difference between putting in a good effort
and TRYING to move a boulder… and actually sweating, grunting,
straining your muscles to the point of exhaustion… and MOVING the
freaking thing!
4. Be positive, not negative.

Since Hemingway was not necessarily the cheeriest guy in the world,
what does he mean by be positive? Basically, you should say what
something is rather than what it isn't.

This is what Michel Fortin calls using up words:

By stating what something isn't can be counterproductive since it is
still directing the mind, albeit in the opposite way. If I told you
that dental work is painless for example, you'll still focus on the
word "pain" in "painless."

• Instead of saying "inexpensive, " say "economical, "
• Instead of saying "this procedure is painless," say "there's little
discomfort" or "it's relatively comfortable, "
• And instead of saying "this software is error-free" or "foolproof,"
say "this software is consistent" or "stable."
5. Never have only 4 rules.

Actually, Hemingway did only have 4 rules for writing, and they were
those he was given as a cub reporter at the Kansas City Star in 1917.
But, as any blogger or copywriter knows, having only 4 rules will
never do.

So, in order to have 5, I had to dig a little deeper to get the most
important of Hemingway's writing tips of all:

"I write one page of masterpiece to ninety one pages of shit,"
Hemingway confided to F. Scott Fitzgerald in 1934. "I try to put the
shit in the wastebasket. "

Sumber :
http://www.copyblog ger.com/ernest- hemingway- top-5-tips- for-writing- well

cerpen

Jakarta Kota PKL

Jakartaitu kota unik. Bukan saja unik, tapi juga ironik. Mungkin mirip dengan konsep Yin Yang. Ada secuil hitam di dalam putih besar. Dan ada secuil putih di dalam hitam besar. Hanya sialnya, kadang yang hitam terlalugagah, sehingga mencaplok putih.
SAYA mengenal Jakarta sejak lahir. Saya makan, tumbuh, besar, dan menangis di kota ini. Mata saya tidak saja melihat kemewahan dan kemegahan, tapi juga kemelaratan dan airmata. Segalanya kontradiktif. Hitam dan putih saling tindih, berebut ruang. Bukan lagi warna-warni seperti pelangi yang menyenangkan, melainkan kekakuan cara pandang paradoksal seperti papan catur yang berkeinginan untuk memasang strategi demi melahap lawan.
Pembangunan kota yang demikian pesat duapuluh tahun terakhir ini, juga dikejar dengan pertumbuhan kemiskinan yang tak kalah dahsyatnya. Warga di sini tak pernah heran, mengapa 200 meter dari rumah supermewah ada kehidupan superkumuh di kolong jembatan. Mereka juga tak pernah bertanya-tanya, mengapa ada acara sekali duduk yang berbiaya jutaan rupiah, tapi di tempat lain ada pemuda yang pendapatannya per harinya tak lebih dari sepuluhribu. Atau tak terlalu hirau, ketika pejabat pemerintahan dengan asiknya memainkan perangkat komputer jinjing puluhan juta, sementara di luar mobilnya yang mengkilap, sepasang kakakadik dengan nyanyian sumbang mengharap receh dari balik kaca mobil.
Itulah unik dan ironiknya Jakarta . Anda boleh prihatin atau tertawa lucu sekalipun. Terserah nurani mengantar ke mana.
Potret Jakarta
Kota Jakarta punya seribu wajah. Terletak di Pulau Jawa, dengan luas kurang lebih 650 km2, kota ini dianugerahi banyak gelar. Dengan usianya yang sudah 480 tahun, Jakarta merupakanIbu Kota Republik Indonesia . Bukan itu saja, tapi Jakarta adalah juga pusat pemerintahan, pusat industri dan bisnis, sebagai kota transit dan penghubung ke mancanegara, sekaligus kota mandiri karena mempunyai otonomi sendiri. Gelar-gelar tersebut, seakan terlalu berat bila harus dipikul sendirian. Selain tidak mampu menunaikan perannya dengan maksimal, konsep sentralistik ini malah melahirkan kesenjangan bagi daerah-daerah di luar Jakarta . Karena pembangunan hanya dilakukan di satu kota , dan tidak diimbangi dengan pembangunan di daerah lain. Konsekuensinya, ketertinggalan kota lain melahirkan penduduk yang skeptis dan memaksa untuk hijrah ke Jakarta . Namun, kelima gelar utama inilah – di samping gelar-gelar lainnya – yang rupanya mengundang penduduk luar Jakarta untuk
berbondong-bondong hanyut dalam arus urbanisasi ke kota ini.
Para pendatang tersebut mempunyai paradigma bahwa di Jakarta mereka bisamembangun kehidupan yang jauh lebih baik. Lantas membuat mereka berani untuk mengadu nasib di Jakarta . Padahal kota ini dikenal dengan kehidupannya yang bringas. Bahkan bagi masyarakat Jakarta ada ungkapan seperti,‘Ibu Kota lebih kejam dari pada Ibu Tiri’ (dengan stigma bahwa ibu tiri mempunyai karakter yang jahat dan kejam).
Belum lagi ditambah berbagai wajah seram kota ini seperti kemacetan (salah satu kota termacet sedunia), banjir yang datang tiap tahun, kriminalitas, angka pengangguran yang tinggi, birokrasi pemerintahan yang berbelit, sarang narkoba, penanggulangan sampah yang buruk, mahalnya harga tanah, buruknya sistem transportasi, serta hal-hal menakutkan lain yang tak cukup tempat untuk ditulis semua. Namun itu semua tak mengurangi niat para pendatang untuk mencari untungdi kota ini.

Konsekuensi Pengangguran
Di dalam peta dunia, mungkin nama Jakarta jarang dilihat. Jangankan Jakarta , Indonesia sebagai negara saja mungkin hanyalah sebuah tempat yang asing dalam perbincangan warga dunia. Dunia lebih mengenalBali sebagai salah satu kota tujuan wisata ketimbang Indonesia sebagai negaranya. Namun di Jakartalah, segala babak kehidupan anak manusia Indonesia dipusatkan. Babak itu digelar dengan amat alotnya. Ada tragedi, pun ada pula kebahagiaan. Ada kesengsaraan dan lakon romantisme yang dipentaskan bersamaan.
Sangat beragam alasan para pendatang untuk datang ke Jakarta . Sebagian adayang melihat celah bisnis yang lebih baik dari kota lain, ada yang ingin mencari kehidupan yang lebih baik, ada yang berlomba untuk menjadi artis, ada yang diajak saudara atau teman, ada yang datang dengan alasan demi mendapatkan pendidikan berkualitas, bahkan ada yang datang untuk menjadi pengemis.
Kenekatan banyaknya pendatang yang bertaruh nasib rupanya tidak disertai dengan keahlian yang memadai. Banyak dari mereka yang hanya bermodalkan ijazah SD maupun SLTP. Yang SMU lebih sedikit. Itupun tidak disertai dengan keahlian khusus. Sehingga hanya tersedia lapangan kerja yang sempit bagi mereka. Pihak korporasi/lapangan pekerjaan lebih menyukai pekerja trampil yang siap pakai.
Keadaan ini memberikan konsekuensi yang menyakitkan, yakni dengan merebaknya pengangguran pada usia produktif. Bukanitu saja. Tumpahnya para kaum urban di Jakarta tidak diimbangi dengan meningkatnya fasilitas publik, baik secara kuantitas maupun kualitas. Fasilitas tersebut salah satunya adalah perumahan.
Parapengangguran tersebut karena desakan ekonomi, malah berpotensi melahirkan tindak kejahatan. Dan implikasinya sangat jelas, bahwa keamanan dan kenyamanan warga Jakarta terusik. Memaklumi ini oleh pemerintah, sama saja dengan mengabaikan hak warga negara untuk memperoleh rasa aman. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah pengangguran di Jakarta mencapai 552.ooo jiwa. Bayangkan bila jumlah ini melakukan aksi kriminal beramai-ramai.
Pada ranahfasilitas publik yang kebutuhannya tak terpenuhi, khususnya perumahan, malah menyebabkan lahirnya fasilitas publik kelas dua, kelas jongkok. Perumahan menjadi barang teramat mewah di perkotaan. Arus urbanisasi yang tak terkontrol menyebabkan lahan perumahan menjadi sempit, yang kemudian diikuti kenaikan harga.Sehingga, warga miskin memilih untuk mendirikan perumahan liar di bantaran kali, pinggir rel, dan lokasi ilegal lainnya. Semua ini malah melahirkan pemukiman kumuh yang merusak keindahan kota , mengadirkan berbagai penyakit karena lokasi perumahan yang tidak ideal (sulitnya mendapatkan air bersih, buruknya sistem sanitasi), serta menciptakan komunitas marjinal (pengemis, gelandangan, pemulung, Pekerja Seks Komersial, pelaku kejahatan).
Ekonomi Rakyat Kecil
Tulisan ini terlalu naif bila terobsesi untuk menawarkan banyak ide untuk menjawab permasalahan kota Jakarta yang begitu kompleks. Dengan demikian, tulisan ini ingin menawarkan ide tentang konsep memanfaatkan para pendatang yang terwujud dalam berbagai bentuk profesi. Profesi khas rakyat kecil.
Sebagai pusat bisnis dan industri, jumlah penduduk Jakarta mencapai 11 juta jiwa pada siang hari. Jumlah ini berkurang menjadi sekitar 8 juta jiwa pada malam hari. Hal ini terjadi karena selisih jumlah tersebut merupakan penglaju. Yakni penduduk yang berdomisili di luar Jakarta , yang pada siang hari bekerja di Jakarta .
Dari jumlah penduduk domisili Jakarta tersebut, hampir setengahnya dapat digolongkan warga miskin. Jadi, ada 4 juta lebih (versi BPS tahun 2007) warga miskin di Jakarta . Warga miskin inilah yang kemudian memadati Jakarta sebagai pengangguran.
Masalah mengenai angka-angka tersebut berujung pada sikap untuk melegalkan banyak hal. Salah satunya adalah Pedagang Kaki Lima (PKL). Mereka adalah penjaja barang, makanan/minuman, dan jasa yang memakai sebagian/seluruh lahan jalan/fasilitas publik (trotoar, halte, terminal, stasiun, jembatan penyebrangan, taman kota , dan sebagainya) secara liar (tak resmi).
Disebut begitu karena tempat berdagang mereka (seperti gerobak) yang berkaki tiga, ditambah dua kaki lagi milik sang pedagang. Maka terciptalah nama PKL tersebut.
Pada tahun 2007, jumlah PKL diperkirakan 150.000 orang. Kalau dibandingkan dengan jumlah pengangguran yang berkisar 552.ooo jiwa, berarti sekitar 27% jiwa mampu terserap ke bidang ini. Artinya, usaha khas rakyat kecil seperti PKL amat cocok untuk membantu mengatasi masalah pengangguran. Yang dengan sendirinya menaikkan tingkat perekonomian kota . Jumlah ini bisa terus bertambah asal ada pemberdayaan yang baik. Singkatnya, sudah tahu sebagian penduduk Jakarta adalah pedagang, lalu mengapa tidak dikuatkan saja sektor ini.
Ketakberpihakan Pemerintah
Selama ini, pemerintah kota Jakarta cenderung memandang sebelah mata pada usaha kerakyatan. Hal ini bisa dilihat bagaimana pemerintah lebihberpaham kapitalis dibanding paham ekonomi kerakyatan. Pemerintah dengan mudahnya memberi ijin bagi pasar-pasar modern, supermarket, pasar swalayan, mal, hypermart untuk tumbuh subur di berbagai badan kota .
Sebenarnya ada peraturan pemerintah yang mengatur hal ini, yakni bahwa pasar modern diizinkan beroperasi asal jaraknya tidak berdekatan dengan pasar tradisional. Namun hal ini tidak dipatuhi. Maka tak heran bila ditemui banyak mini market yang menjamur di lokasi pemukiman. Sehingga pelanggan warung-warung milik warga kecil beralih ke mini market yang lebih menawarkan kebersihan, produk yang beragam, dan harga murah. Ya, pemerintah lebih berpihak pada pemilik modal besar. Asal ada uang, peraturan masuk keranjang sampah.
Untuk pemilik modal besar, pemerintah rela memberikan jatah lahan serap air untuk didirikan bangunan. Contohnya kawasan Mangga Dua, Blok P, dan Tanah Abang yang diperuntukkan sebagai ruang hijau tertutup, tapi disulap menjadi bangunan mal dan kantor walikota. Bersamaan dengan itu, keamanan dan kebersihan juga diurus sedemikian apik. Tapi coba bandingkan dengan pasar tradisional yang gedungnya kotor dan tua, jalanan dibiarkan rusak dan becek, kebersihandan keamanan jauh dari rasa nyaman.
Masalah kemiskinan tak akan selesai kalau pemerintah tak pernah menolehkan perhatian serius pada perekonomian rakyat. Karena dengan paham kapitalis, pembangunan kota memang berkembang, namun yang kecil semakin kecil, yang besar semakin besar. Yang miskin semakin melarat, yang kaya semakin tambun.
Merubah Citra PKL: Penertiban Menuju Pemberdayaan
Kalau selama ini citra PKL hanyalah dipandang sebatas pelanggar ketertiban, perusak keindahan kota , biang kemacetan, maka pemerintah belum mengkategorikan PKL sebagai rakyat yang berhak atas kehidupan yang lebih baik. Dengan sikap seperti ini, otomatis pemerintah menaruh PKL di luar pikiran yang membutuhkan perhatian serius, dan sekaligus menafikan PKL sebagai rakyat yang butuh perlindungan dan pengayoman.
Padahal kehadiran PKL – bila diberdayakan dengan baik – bukan saja bisa menyerap tenaga pengangguran, tapi dapat menjadi cerminan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Selain itu, eksistensi PKL sekaligus ingin mengatakan sebuah refleksi kondisi ekonomi Indonesia .
PKL yang selama ini dipahami sebagai sesuatu yang buruk harus dimengerti dengan sudut pandang berbeda. Menjamurnya PKL jangan hanya dianggap sebagai masalah ketertiban belaka, yang pada akhirnya penangannya hanya bersifat seremonial – mengusir, menghancurkan, dan membiarkan berdagang kembali.
Paradigma ‘penertiban’ harus diubah menjadi ‘pemberdayaan’. Pemerintah dan masyarakat umum harus melihat potensi-potensi tersembunyi dari PKL. Potensi itu antara lain:
1. Sebagai penyerap lapangan kerja
2. Merayakan paham perekonomian rakyat
3. Daya tarik sektor pariwisata
4. Mitra polisi
Pada potensi pertama, sudah cukup jelas bahwa kemampuan modal yang dimiliki warga miskin kota Jakarta sangat terbatas. Sebagai usaha kecil, PKL mampu memberi peluang bagi mereka yang memiliki keterbatasan modal. Dan dengan sendirinya hal ini dapat membantu mengatasi pengangguran.
PKL, dalam potensi keduanya adalah merayakan paham ekonomi kerakyatan. Indonesia , dengan jumlah penduduk miskinnya hampir mencapai setengah jumlah keseluruhan, lebih cocok menggunakan paham yang ramah dan bersahabat ini. Paham yang berbasis dan berorientasi pada rakyat kecil yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia ini mampu menggelindingkan kemiskinan secara bertahap. Asal setiap PKL diberi wawasan tentang wirausaha. Atau dengan kata lain, PKL dapat menjadi batu loncatan bagi warga yang mau mulai berusaha dengan modal kecil.
Di banyak negara lain, PKL selalu ada. Berbeda dengan Jakarta , PKL di tempat lain diatur dan dibina dengan baik. Bila saja PKL Jakarta mampu diperlakukan serupa, bahkan lebih baik, maka mungkin saja bila berpotensi menjadi kegiatan budaya. Yang dengan sendirinya mendatangkan wisatawan untuk berkunjung.
Hal lain yang perlu ditinjau adalah peran PKL sebagai mitra polisi dalam menjaga keamanan kota . Jumlah PKL yang banyak dan tersebar di berbagai sudut kota , bahkan menempati gang-gang sempit yang tak terpantau dengan baik, dapat membantu polisi untuk mengawasi segala tindak kejahatan yang ada. Libatkan mereka dalam patroli. Fasilitasi mereka dengan alat komunikasi untuk melapor, serta wawasan tentang menjaga keamanan.
Solusi Buat PKL
Kesadaran pemerintah dan masyarakat akan potensi PKL yang demikian, harus disertakan dengan solusi yang tepat untuk mendukung usaha mereka. Hal pertama adalah masalah peraturan. Kalau selama ini para PKL terkesan sebagai tindak pelanggaran yang dilegalkan, sehingga menyebabkan sikap dilematis bagi PKL sendiri maupun petugas ketertiban, maka legalkan saja. Beri keputusan yang mendefinisikan mereka sebagai pengusaha kecil yang sah secara hukum.
Lalu, berikan para PKL tempat untuk berdagang yang sama strategisnya dengan tempat yang lama. Jatahkan mereka dengan kavling yang sudah ditentukan. Kelompokkan mereka dengan rapih sesuai barang/jasa yang didagangkan. Lalu pungutlah retribusi untuk membuat mereka merasa bertanggungjawab terhadap usaha sendiri.
Masalah yang sering menyulitkan para pengusaha dengan modal kecil adalah kelanggengan usaha. Maka, bantu mereka dalam peminjaman modal dengan suku bunga rendah. Kalau selama ini lembaga yang memberikan pinjaman modal selain bersuku bunga tinggi, juga meragukan pengajuan pinjaman oleh pengusaha kecil, maka perlulah didirikan lembaga yang bertujuan untuk memberi pinjaman bagi rakyat miskin sekalipun. Ide ini sudah diterapkan sang pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006, Muhammad Yunus lewat Grameen Bank.
Dilihat dari pertumbuhan ekonominya, selama ini motivasi para PKL berdagang hanya untuk bertahan hidup. Mereka sama sekali tidak punya wawasan tentang wirausaha. Jadi jelas saja jika nasib mereka tak pernah berubah. Stagnan. Adalah tugas pemerintah untuk membina mereka. Berikan penyuluhan tentang wawasan wirausaha. Giatkan seminar mengenai wirausaha. Pekerjakan para praktisi perencanaan keuangan sebagai mentor secara independen.
Keterlibatan Orang Muda
Orang muda, sebagai pemilik masa depan, tentunya harus menyadari perannya terlebih dahulu dalam pembangunan kota . Atau masa depan bukan lagi sebuah masa milik orang muda, karena gagal meletakkan pondasi.
Dalam program pemberdayaan PKL ini, tentulah para orang muda harus lebih kritis. Misalnya, bila selama ini, lewat bangku pendidikan, paham ekonomi kerakyatan dikesampingkan dan lebih mengusung paham kapatalis, maka mulai sekarang porsi paham ekonomi kerakyatan mesti ditambah. Atau, lebih bijak lagi, seraplah berbagai ilmu apa saja, dan mengkontekstualisas ikan dengan kondisi masyarakat Indonesia .
Galakkan kampanye untuk mendukung usaha PKL di kalangan orang muda. Ajak beberapa teman untuk mengorganisir kampanye yang berkelanjutan. Isi kampanye, misalnya, untuk selalu membeli produk/jasa para PKL ketimbang berbelanja di mal atau di pasar swalayan. Buka dialog antar orang muda untuk membicarakan masalah perkotaan secara rutin. Hadirkan suasana kritis yang berorientasi pada kepentingan publik.
Yang jelas, perlakukan diri untuk terus aktif dalam mengakses informasi mengenai rencana pembangunan kota . Sehingga dengan demikian, orang muda terlibat menjadi pengawas kalau terjadi penyelewengan, sekaligus mengoreksi kekeliruan-keliruan yang dilakukan pemerintah.
Intinya orang muda perlu terus menerus bergandengan tangan, kemudian menceburkan diri dalam perdebatan wacana, bergulat di dalamnya, lalu menangkap masalah dan membukanya ke publik yang lebih luas, yakni masyarakat.
Pada bentuk implementasi yang lebih nyata, orang muda bisa membentuk sebuah badan yang melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para PKL. Undang beberapa badan usaha yang tertarik untuk mendanai program. Libatkan institusi-institusi pendidikan untuk mengirim siswa didiknya menjadi tenaga relawan. Konsepkan program ini sebagai salah satu metode belajar siswa untuk mengenal langsung bidang pekerjaannya, sekaligus menyentuh kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Sebuah usaha yang positif, baik bagi PKL maupun bagi siswa dan institusinya.
Semoga saja, dengan pemembangun kota yang berpihak pada ekonomi kerakyatan, kota Jakarta tidak lagi hitam-putih seperti papan catur yang paradoksal, melainkan warna-warni yang memamerkan keindahan seperti pelangi. Di mana warna-warni tersebut saling menyulam, membentuk sebuah harmonisasi yang indah. Sebuah mimpi yang tak berlebihan untuk kota semanis Jakarta , bukan?

--
Posted By Roy Thaniago to Saung Kata at 8/06/2008 02:51:00 PM

cerpen

The Killers - by Ernest Hemingway

The door of Henry's lunchroom opened and two men came in. They sat
down at the counter.

"What's yours?" George asked them.

"I don't know," one of the men said. "What do you want to eat, Al?"

"I don't know," said Al. "I don't know what I want to eat."

Outside it was getting dark. The streetlight came on outside the
window. The two men at the counter read the menu. From the other end
of the counter Nick Adams watched them. He had been talking to George
when they came in.

"I'll have a roast pork tenderloin with apple sauce and mashed
potatoes," the first man said.

"It isn't ready yet."

"What the hell do you put it on the card for?"

"That's the dinner," George explained. "You can get that at six o'clock."

George looked at the clock on the wall behind the counter.

"It's five o'clock."

"The clock says twenty minutes past five," the second man said.

"It's twenty minutes fast."

"Oh, to hell with the clock," the first man said. "What have you got
to eat?"

"I can give you any kind of sandwiches," George said. "You can have
ham and eggs, bacon and eggs, liver and bacon, or a steak."

"Give me chicken croquettes with green peas and cream sauce and mashed
potatoes."

"That's the dinner."

"Everything we want's the dinner, eh? That's the way you work it."

"I can give you ham and eggs, bacon and eggs, liver-"

"I'll take ham and eggs," the man called Al said. He wore a derby hat
and a black overcoat buttoned across the chest. His face was small and
white and he had tight lips. He wore a silk muffler and gloves.

"Give me bacon and eggs," said the other man. He was about the same
size as Al. Their faces were different, but they were dressed like
twins. Both wore overcoats too tight for them. They sat leaning
forward, their elbows on the counter.

"Got anything to drink?" Al asked.

"Silver beer, bevo, ginger-ale," George said.

"I mean you got anything to drink?"

"Just those I said."

"This is a hot town," said the other. "What do they call it?"

"Summit."

"Ever hear of it?" Al asked his friend.

"No," said the friend.

"What do they do here nights?" Al asked.

"They eat the dinner," his friend said. "They all come here and eat
the big dinner."

"That's right," George said.

"So you think that's right?" Al asked George.

"Sure."

"You're a pretty bright boy, aren't you?"

"Sure," said George.

"Well, you're not," said the other little man. "Is he, Al?"

"He's dumb," said Al. He turned to Nick. "What's your name?"

"Adams."

"Another bright boy," Al said. "Ain't he a bright boy, Max?"

"The town's full of bright boys," Max said.

George put the two platters, one of ham and eggs, the other of bacon
and eggs, on the counter. He set down two side dishes of fried
potatoes and closed the wicket into the kitchen.

"Which is yours?" he asked Al.

"Don't you remember?"

"Ham and eggs."

"Just a bright boy," Max said. He leaned forward and took the ham and
eggs. Both men ate with their gloves on. George watched them eat.

"What are you looking at?" Max looked at George.

"Nothing."

"The hell you were. You were looking at me."

"Maybe the boy meant it for a joke, Max," Al said.

George laughed.

"You don't have to laugh," Max said to him. "You don't have to laugh
at all, see?'

"All right," said George.

"So he thinks it's all right." Max turned to Al. "He thinks it's all
right. That's a good one."

"Oh, he's a thinker," Al said. They went on eating.

"What's the bright boy's name down the counter?" Al asked Max.

"Hey, bright boy," Max said to Nick. "You go around on the other side
of the counter with your boy friend."

"What's the idea?" Nick asked.

"There isn't any idea."

"You better go around, bright boy," Al said. Nick went around behind
the counter.

"What's the idea?" George asked.

"None of your damned business," Al said. "Who's out in the kitchen?"

"The nigger."

"What do you mean the nigger?"

"The nigger that cooks."

"Tell him to come in."

"What's the idea?"

"Tell him to come in."

"Where do you think you are?"

"We know damn well where we are," the man called Max said. "Do we look
silly?"

"You talk silly," A1 said to him. "What the hell do you argue with
this kid for? Listen," he said to George, "tell the nigger to come
out here."

"What are you going to do to him?"

"Nothing. Use your head, bright boy. What would we do to a nigger?"

George opened the slit that Opened back into the kitchen. "Sam," he
called. "Come in here a minute."

The door to the kitchen opened and the nigger came in. "What was it?"
he asked. The two men at the counter took a look at him.

"All right, nigger. You stand right there," Al said.

Sam, the nigger, standing in his apron, looked at the two men sitting
at the counter. "Yes, sir," he said. Al got down from his stool.

"I'm going back to the kitchen with the nigger and bright boy," he
said. "Go on back to the kitchen, nigger. You go with him, bright
boy." The little man walked after Nick and Sam, the cook, back into
the kitchen. The door shut after them. The man called Max sat at the
counter opposite George. He didn't look at George but looked in the
mirror that ran along back of the counter. Henry's had been made over
from a saloon into a lunch counter.

"Well, bright boy," Max said, looking into the mirror, "why don't you
say something?"

"What's it all about?"

"Hey, Al," Max called, "bright boy wants to know what it's all about."

"Why don't you tell him?" Al's voice came from the kitchen.

"What do you think it's all about?"

"I don't know."

"What do you think?"

Max looked into the mirror all the time he was talking.

"I wouldn't say."

"Hey, Al, bright boy says he wouldn't say what he thinks it's all about."

"I can hear you, all right," Al said from the kitchen. He had propped
open the slit that dishes passed through into the kitchen with a
catsup bottle. "Listen, bright boy," he said from the kitchen to
George. "Stand a little further along the bar. You move a little to
the left, Max." He was like a photographer arranging for a group picture.

"Talk to me, bright boy," Max said. "What do you think's going to happen?"

George did not say anything.

"I'll tell you," Max said. "We're going to kill a Swede. Do you know a
big Swede named Ole Anderson?"

"Yes."

"He comes here to eat every night, don't he?"

"Sometimes he comes here."

"He comes here at six o'clock, don't he?"

"If he comes."

"We know all that, bright boy," Max said. "Talk about something else.
Ever go to the movies?"

"Once in a while."

"You ought to go to the movies more. The movies are fine for a bright
boy like you."

"What are you going to kill Ole Anderson for? What did he ever do to you?"

"He never had a chance to do anything to us. He never even seen us."

And he's only going to see us once," Al said from the kitchen:

"What are you going to kill him for, then?" George asked.

"We're killing him for a friend. Just to oblige a friend, bright boy."

"Shut up," said Al from the kitchen. "You talk too goddamn much."

"Well, I got to keep bright boy amused. Don't I, bright boy?"

"You talk too damn much," Al said. "The nigger and my bright boy are
amused by themselves. I got them tied up like a couple of girl friends
in the convent."

"I suppose you were in a convent."

"You never know."

"You were in a kosher convent. That's where you were."

George looked up at the clock.

"If anybody comes in you tell them the cook is off, and if they keep
after it, you tell them you'll go back and cook yourself. Do you get
that, bright boy?"

"All right," George said. "What you going to do with us afterward?"

"That'll depend," Max said. "That's one of those things you never know
at the time."

George looked up at the dock. It was a quarter past six. The door from
the street opened. A streetcar motorman came in.

"Hello, George," he said. "Can I get supper?"

"Sam's gone out," George said. "He'll be back in about half an hour."

"I'd better go up the street," the motorman said. George looked at the
clock. It was twenty minutes, past six.

"That was nice, bright boy," Max said. "You're a regular little
gentleman."

"He knew I'd blow his head off," Al said from the kitchen.

"No," said Max. "It ain't that. Bright boy is nice. He's a nice boy. I
like him."

At six-fifty-five George said: "He's not coming."

Two other people had been in the lunchroom. Once George had gone out
to the kitchen and made a ham-and-egg sandwich "to go" that a man
wanted to take with him. Inside the kitchen he saw Al, his derby hat
tipped back, sitting on a stool beside the wicket with the muzzle of a
sawed-off shotgun resting on the ledge. Nick and the cook were back to
back in the corner, a towel tied in each of their mouths. George had
cooked the sandwich, wrapped it up in oiled paper, put it in a bag,
brought it in, and the man had paid for it and gone out.

"Bright boy can do everything," Max said. "He can cook and everything.
You'd make some girl a nice wife, bright boy."

"Yes?" George said, "Your friend, Ole Anderson, isn't going to come."

"We'll give him ten minutes," Max said.

Max watched the mirror and the clock. The hands of the clock marked
seven o'clock, and then five minutes past seven.

"Come on, Al," said Max. "We better go. He's not coming."

"Better give him five minutes," Al said from the kitchen.

In the five minutes a man came in, and George explained that the cook
was sick.

"Why the hell don't you get another cook?" the man asked. "Aren't you
running a lunch-counter? " He went out.

"Come on, Al," Max said.

"What about the two bright boys and the nigger?"

"They're all right."

"You think so?"

"Sure. We're through with it."

"I don't like it," said Al. "It's sloppy. You talk too much."

"Oh, what the hell," said Max. "We got to keep amused, haven't we?"

"You talk too much, all the same," Al said. He came out from the
kitchen. The cut-off barrels of the shotgun made a slight bulge under
the waist of his too tight-fitting overcoat. He straightened his coat
with his gloved hands.

"So long, bright boy," he said to George. "You got a lot of luck."

"That's the truth," Max said. "You ought to play the races, bright boy."

The two of them went out the door. George watched them, through the
window, pass under the arc-light and across the street. In their tight
overcoats and derby hats they looked like a vaudeville team. George
went back through the swinging door into the kitchen and untied Nick
and the cook.

"I don't want any more of that," said Sam, the cook. "I don't want any
more of that."

Nick stood up. He had never had a towel in his mouth before.

"Say," he said. "What the hell?" He was trying to swagger it off.

"They were going to kill Ole Anderson," George said. "They were going
to shoot him when he came in to eat."

"Ole Anderson?"

"Sure."

The cook felt the corners of his mouth with his thumbs.

"They all gone?" he asked.

"Yeah," said George. "They're gone now."

"I don't like it," said the cook. "I don't like any of it at all"

"Listen," George said to Nick. "You better go see Ole Anderson."

"All right."

"You better not have anything to do with it at all," Sam, the cook,
said. "You better stay way out of it."

"Don't go if you don't want to," George said.

"Mixing up in this ain't going to get you anywhere," the cook said.
"You stay out of it."

"I'll go see him," Nick said to George. "Where does he live?"

The cook turned away.

"Little boys always know what they want to do," he said.

"He lives up at Hirsch's rooming-house, " George said to Nick.

"I'll go up there."

Outside the arc-light shone through the bare branches of a tree. Nick
walked up the street beside the car-tracks and turned at the next
arc-light down a side-street. Three houses up the street was Hirsch's
rooming-house. Nick walked up the two steps and pushed the bell. A
woman came to the door.

"Is Ole Anderson here?"

"Do you want to see him?"

"Yes, if he's in."

Nick followed the woman up a flight of stairs and back to the end of a
corridor. She knocked on the door.

"Who is it?"

"It's somebody to see you, Mr. Anderson," the woman said.

"It's Nick Adams."

"Come in."

Nick opened the door and went into the room. Ole Anderson was lying on
the bed with all his clothes on. He had been a heavyweight
prizefighter and he was too long for the bed. He lay with his head on
two pillows. He did not look at Nick.

"What was it?" he asked.

"I was up at Henry's," Nick said, "and two fellows came in and tied up
me and the cook, and they said they were going to kill you."

It sounded silly when he said it. Ole Anderson said nothing.

"They put us out in the kitchen," Nick went on. "They were going to
shoot you when you came in to supper."

Ole Anderson looked at the wall and did not say anything.

"George thought I better come and tell you about it."

"There isn't anything I can do about it," Ole Anderson said.

"I'll tell you what they were like."

"I don't want to know what they were like," Ole Anderson said. He
looked at the wall. "Thanks for coming to tell me about it."

"That's all right."

Nick looked at the big man lying on the bed.

"Don't you want me to go and see the police?"

"No," Ole Anderson said. "That wouldn't do any good."

"Isn't there something I could do?"

"No. There ain't anything to do."

"Maybe it was just a bluff."

"No. It ain't just a bluff."

Ole Anderson rolled over toward the wall.

"The only thing is," he said, talking toward the wall, "I just can't
make up my mind to go out. I been here all day."

"Couldn't you get out of town?"

"No," Ole Anderson said. "I'm through with all that running around."

He looked at the wall.

"There ain't anything to do now."

"Couldn't you fix it up some way?"

"No. I got in wrong." He talked in the same flat voice. "There ain't
anything to do. After a while I'll make up my mind to go out."

"I better go back and see George," Nick said.

"So long," said Ole Anderson. He did not look toward Nick. "Thanks for
coming around."

Nick went out. As he shut the door he saw Ole Anderson with all his
clothes on, lying on the bed looking at the wall.

"He's been in his room all day," the landlady said downstairs. "I
guess he don't feel well. I said to him: `Mr. Anderson, you ought to
go out and take a walk on a nice fall day like this,' but he didn't
feel like it."

"He doesn't want to go out."

"I'm sorry he don't feel well," the woman said. "He's an awfully nice
man. He was in the ring, you know."

"I know it."

"You'd never know it except from the way his face is," the woman said.

They stood talking just inside the street door. "He's just as gentle."

"Well, good night, Mrs. Hirsch,' Nick said.

"I'm not Mrs. Hirsch," the woman said. "She owns the place. I just
look after it for her. I'm Mrs. Bell."

"Well, good night, Mrs. Bell," Nick said.

"Good night," the woman said.

Nick walked up the dark street to the corner under the arc-light, and
then along the car-tracks to Henry's eating-house. George was inside,
back of the counter.

"Did you see Ole?"

"Yes," said Nick. "He's in his room and he won't go out."

The cook opened the door from the kitchen when he heard Nick's voice.

"I don't even listen to it," he said and shut the door.

"Did you tell him about it?" George asked.

"Sure. I told him but he knows what it's all about."

"What's he going to do?"

"Nothing."

"They'll kill him."

"I guess they will."

"He must have got mixed up in something in Chicago."

"I guess so," said Nick.

"It's a hell of a thing!"

"It's an awful thing," Nick said.

They did not say anything. George reached down for a towel and wiped
the counter.

"I wonder what he did?" Nick said.

"Double-crossed somebody. That's what they kill them for."

"I'm going to get out of this town," Nick said.

"Yes," said George. "That's a good thing to do."

"I can't stand to think about him waiting in the room and knowing he's
going to get it. It's too damned awful."

"Well," said George, "you better not think about it."

--- In penulislepas@ yahoogroups. com, "Arman" wrote:
>
> Lebih baik lagi kalau disertakan contoh/ilustrasinya ....
> Mungkin ada yg berkenan
> Thanks,

Cerpen

Kingkong Jatuh Cinta

ide ceritanya menarik, judul lumayan, tapi di depannya aduuuh bertele-tele banget... saya sudah mau teriak aja, mana silvianya?

dari opening tokoh utama harus cepat kelihatan, deskripsi tentang backgroundnya dll, bisa dibangun pelan2 hingga orang udah tahu kalau lelaki itulah yang berperan sebagai silvia. jadi, nggak bisa pembaca dikasih gambaran segitu lama, mungkin 3 lembar tapi masih nggak ngeh siapa nih silvia, apa masalahnya.

Mbak Shena, bisa baca novel saya KINGKONG JATUH CINTA, di sana referent tokoh2 dengan cepat ketahuan apa masalah dan urusannya bahkan sejak awal paragraf halaman pertama. Ayo, semangat. Berapa kali anda menulis, dan mesti lebih bagus ya.... baca banyak buku pelatihan penulisan. Baca juga banyak tips penulisan di www.kinoysan. multiply. com ada juga buku JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG, KOK!

AYO SEMANGAT, SAYA GREGETAN DENGAN IDE2 ANDA, TAPI BELUM DIGARAP DENGAN MAKSIMAL. JANGAN TERLALU CEPAT MENYERAH. SABAR, TEKUN, DAN TELITI DALAM MENULIS. JANGAN BURU2 PENGEN CEPET SELESAI.

KINOYSAN

Cerpen

ada huruf A besar dengan tanda itu maksudnya apa ya?

Judul NYANYIAN GELATIK aja sudah cukup.

Bahasanya menarik, tapi masalah yang dibahas terlalu banyak dan bias. Nggak lagi konsentrasi pada karakter utama dan permasalahan gelatik ini. Eksplorasi aja soal yang berkaitan dengan gelatik itu dengan tokoh2 lain, jadi lebih enak dan karena hanya cerpen, jangan terlalu banyak masalah ya...bingung. ..

Kinoysan

Cerpen

Mencintaimu

pemaparan cerita remaja ini nggak natural, kurang meremaja. Tapi alur udah lumayan runtut, karakter jelas, dialognya aja yang biasa banget. Coba pilih dialog-dialog yang nggak biasa, misalnya.

A: 'Aku mencintaimu, B.'
B: jawaban dialog yang umum akan dikatakan, 'Aku juga.'

Dan ini adalah dialog yang dari jadul sampe sekarang masih saja dipake oleh penulis2. Coba cari yang kreatif, misalnya B bilang, 'Aku tahu.'

Simpel aja, tapi bikin penasaran dan orang akan baca tulisan anda. Kata-kata capek deh, sumpe lo, dll. itu udah basi, jangan ikut2an. Bikin trend anda sendiri.

Kinoysan

Cerpen

Punya Cita-Cita, Apakah MIMPI atau NYATA?

by Y.S. Aji Soedarsono
5 Agustus 2008

Malam ini, ada SMS dari seorang klien. Dia menyatakan bahwa dengan membuat Dream Statement, dia merasa bahwa apa ya dia impikan atau cita-citakan tidaklah real, tidak nyata?

Saya jawab,"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Dia balas,"Gak usah dipikir juga emang begitu?"

Mengapa sang klien sampai merasa "emang gitu, .. gak real.."?

cerpen

Mengarang cerpen itu gampang! Benarkah?

Coba menjawab pertanyaan sederhana ini, aku sering menjadi bingung
dibuatnya. Seperti saat ini, duduk bertopang dahi, aku menghabiskan
waktu terpekur memikirkan jawabannya. Pening, kutatap 5 jari sebelah
tangan yang lain, dan bertanya, "Benarkah?"

Lalu tiba-tiba lima jari itu seperti hidup. Bergerak-gerak di luar
kendaliku seperti ingin bicara. Dan benar, sesaat kemudian Jempol di
tangan itu menegak dan bersuara,

"Sebagai ibu para jari, ijinkan aku bicara." Ia diam sesaat menarik
jeda, lalu menyambung ucapannya.

"Menurutku, benar. Mengarang cerpen itu gampang."

Kutatap sang jermpol dengan setengah rasa tak percaya.
"Gampang? Mengapa?"

"Seperti sosokku yang pendek, pada hakikatnya cerpen itu toh hanya
sebuah cerita yang pendek." Jawabnya santai.

"Tidak seperti novel, cerpen hanya berisi sepenggal peristiwa. Kau
bisa membuat cerpen tentang peristiwa yang hanya berlangsung sehari,
beberapa jam, atau bahkan yang hanya berlangsung beberapa menit.
Meskipun tentu saja, bisa pula satu cerpen berisi cerita yang
terentang dalam waktu lebih panjang."

"Berhari-hari? Setahun?" tanyaku menegaskan.

"Ya." Jawabnya.

"Tidak ada masalah dengan rentang waktu seperti itu. Karena dalam
kenyataannya sebuah konflik bisa berada dalam diri satu orang dalam
waktu yang panjang. Cerita cinta misalnya, bisa saja bercerita tentang
perasaan yang dipendam dan menemukan konklusi dalam sebuah peristiwa
yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Yang penting bukan rentang
waktunya tapi peristiwanya yang akan kau ceritakanlah yang akan berupa
kisah yang pendek."

"Karena pendek maka menjadi gampang? Sesederhana itu?"

Aku coba mendebat sang jempol yang bergoyang-goyang, seperti seorang
kakek di kursi ayun.

"Kau kira cerpen itu tidak sederhana? Bangunan cerpen itu sederhana
bung!" Goyangannya mulai berhenti. Tampaknya ia mulai serius.

"Kau hanya butuh dua hal pokok, tokoh dan konflik. Ramu keduanya dalam
satu jalinan cerita dan jadilah sebuah cerpen." Ia berkata dengan nada
begitu yakin.

* * *

Tokoh dan konflik.

Hanya dua? Sesederhana itu? Gila! Lalu mengapa membuat sebuah cerpen
bisa terasa begitu sulit? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Aku
memandang sang Jempol yang seperti menertawakan kebimbanganku.

"Cerpen itu pendek, dan karenanya tidak seperti cerita yang panjang,
kau bisa mengambil tokohmu empat, tiga, dua, atau bahkan satu saja.
Begitu pula tokohmu bisa siapa saja, dan bahkan apa saja. Sebutir
tomat, tongkat kayu atau koteka pun bisa menjadi tokoh dalam
cerpenmu." Kuduga ia tersenyum saat mengatakan itu. Tapi tentu saja
sebuah jempol tak bisa tersenyum.

"Bahkan tokohmu tidak harus pula bernama, tidak harus kau ceritakan
latar belakangnya siapa, berapa umurnya, darimana asalnya,
pendidikannya. Tokoh dalam cerpen bisa tetap kuat tanpa memerlukan
segala tetek bengek seperti yang diperlukan tokoh dalam sebuah novel."

"Masak sih?"

"Lha iya," katanya, "Perlu apa menceritakan tetek bengek tak penting,
kalau konflikmu hanya tentang seorang lelaki yang bangun pagi, dan
pusing dengan sebuah pertanyaan, mengarang cerpen itu gampang atau tidak?"

Aku merengut kecut. Sebal juga jempolku sendiri menyindir begitu kepadaku.

"Aku setuju dengan sang jempol." Tiba-tiba jari telunjukku mulai
angkat bicara. Kulirik si Jempol mulai mengatup seakan memberi giliran
sahabat terdekatnya berurai kata.

"Aku jari yang paling aktif. Dalam pengalamanku, aku tahu begitu
banyak peristiwa sederhana yang bisa diceritakan manusia dalam
aktivitasnya. " Telunjuk itu berkata dengan suara yang tegas.

"Kupikir karena itulah membuat cerpen itu seharusnya menjadi sesuatu
yang gampang. Mengapa memikirkan thema yang berat-berat kalau kau bisa
menceritakan beribu peristiwa yang pernah dilakukan jari telunjukmu?
Kau bisa membuat seribu cerpen dengannya, atau bahkan sepuluh ribu
cerpen karena nyatanya detik-detik yang kau lalui sejatinya selalu
menghadirkan rentetan konflik dan cerita tersendiri."

Kupikir ada benarnya telunjukku itu. Tapi kubiarkan dulu ia
melanjutkan kata-katanya.

"Konflikmu pun tidak harus terurai dalam bentuk yang rumit. Perasaan
yang sesaat baik itu senang, gembira, kesal, marah, cinta, bimbang,
atau yang tengah bertanya-tanya sepertimu sudah bisa menjadi sebuah
konflik. Fenomena kecil yang kau jalani sehari-hari, atau yang dialami
orang di sekitarmu, pasti banyak menyimpan kisah yang unik." Telunjuk
itu melanjutkan kata-katanya dengan bersemangat.

"Kalau bercerita thema besar?" Aku sendiri merasa itu pertanyaan
bodoh, tapi aku tak tahu lagi harus berkata apa untuk mendebatnya.

"Tentu saja tidak ada salahnya. Tapi soal itu tidak menjawab
pertanyaanmu kan?" Sial. Nada suara telunjuk itu terdengar seperti
mencemooh.

"Mengarang cerpen itu gampang. Itu yang harus kau yakini. Seperti kata
si Jempol tadi, yang kau butuhkan hanya dua hal pokok, tokoh dan
cerita. Dan keduanya terbentang begitu banyak di hadapanmu. Hakikat
cerpen juga hanyalah cerita dalam format yang pendek, sehingga itu
akan mempermudahmu saat membuatnya. Format yang pendek membuatmu
leluasa untuk bercerita tentang apa saja, yang sederhana-sederhana ,
yang singkat-singkat, yang kecil-kecil, dan membuatmu terbebas dari
aturan-aturan baku. Lupakan lima W-mu. Who, What, When, Where and Why
itu harusnya lau ganti menjadi 5 W yang baru, Wrong When Wright Won't
Write." Ia mengatakan kalimatnya dengan nada yang begitu yakin.

* * *

Tapi aku masih tidak dapat membimbing hatiku seyakin itu. Mataku
menatap jari jemariku mencari-cari jawaban yang lain. Dan tiba-tiba
kelingkingku bersuit nyaring.

"Sayangnya, membuat cerpen tak semudah itu, honey." Katanya dengan
genit. Kulirik sang telunjuk ingin melihat reaksinya. Ia kini saling
bertaut mengatup dengan sang jempol, seperti tengah berkasak-kusuk
berdua membhasa sanggahan si kelingking mungil..

"Dalam cerpen ada elemen seperti diriku. Kecil, mungil dan terkesan
tak berarti, tapi cobalah kau menggenggam tanpa menggunakan aku.
Genggamanmu tak akan kokoh apabila aku, jari yang terletak paling
dasar saat kau menegakkan telapak tanganmu itu, tidak kau ikut
sertakan." Suara kelingking mungil itu genit. Terkesan seperti nona
muda, kenes, tapi tegas.

"Begitupula dalam cerpen, ada hal-hal dasar yang harus kau sertakan
kalau kau mau cerpenmu menjadi kokoh."

"Hal dasar? Apalagi? Bukankah hal pokok hanya dua, tokoh dan cerita?"

Samar aku menangkap kelingkingku seperti mencibir. Mencibir?
Kugelengkan kepalaku. Tidak mungkin kelingking punya bibir.

"Bahasa." Jawabnya singkat. Tapi kata-kata selanjutnya tidak sesingkat
pada awalnya.

"Cerpen adalah seni yang dituliskan, dan itu menggunakan alat yang kau
sebut sebagai bahasa. Mungkin kau mengira, lalu apa yang sulit dengan
bahasa? Memang tidak sulit. Sehari-haripun kau berbahasa. Tapi menulis
cerpen bukan seperti kau bertukar kabar burung dengan tetangga."

"Menulis cerpen, engkau harus memperhatikan betul hal-hal dasar dalam
berbahasa. Penguasaan kata, kemampuan menyusunnya menjadi kalimat yang
benar secara kaidah, mungkin tak perlu mewah dalam keindahan tapi
paling tidak tepat dalam penyampaian pesan yang kau inginkan dalam
setiap kalimat. Pengarang akan hancur kalau menyusun katapun ia masih
amburadul." Nada suara kelingking itu tak lagi mungil. Ia seperti
wanita tua yang terus memberondongku dengan omelannya.

"Coba lihat Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer milikmu itu. Ada berapa
halaman di dalamnya? Seribu Tujuh Ratus Empat Puluh Sembilan! Tebak
berapa kata ada di dalamnya, kalau satu halaman punya 20 entri saja.
Tiga puluh empat ribu sembilan ratus delapan puluh kata. Berapa kata
yang kau kenal? Berapa yang kau kuasai benar? Yang kau tahu benar
maknanya apa, bagaimana penempatannya yang tepat, atau bagaimana beda
yang spesifik dengan kata-kata lain yang tampak seperti padanannya?
Setengahnyakah? Atau hanya sepersepuluhnya?

Kutekuk tubuh kelingkingku. Curiga, jangan-jangan ada tatto nama Gorys
Keraf di buku punggungnya. Rupanya ia tak suka dengan perlakuanku.
Merajuk ia terus menutup. Dan itu akhirnya memancing si jari manis
angkat bicara. Didahului dengan sebuah dehem, suaranya agak serak
berat saat berkata,

"Ehm... Maaf, aku harus setuju dengan sahabatku yang mungil. Maafkan
kekenesannya, tapi ia benar. Menulis cerpen tidaklah segampang yang
mungkin kau kira."

Aku menatap si jari manis. Mestinya ia bergelang cincin, tapi entah
cincin itu terbang kemana. Pegadaian mungkin. Lucunya ia menyinggung
hal itu dalam kalimatnya.

"Aku jari yang sering menjadi tempat orang meletakkan cincin ikatan."
Katanya perlahan.

"Saat kau memandang sebuah cincin tersemat di jari manis seorang
wanita, cincin itu memberikan sebuah kesan, dan sekaligus sebuah
pesan. Kesan ia sudah terikat, dan pesan kau jangan coba mengganggunya. "

"Begitupula dengan sebuah cerpen, ia harus memberikan kesan dan pesan.
Dan untuk bisa mengungkapkan itu, penulis cerpen mau tak mau harus
menguasai hal dasar yang dikatakan kelingking tadi."

Aku tertegun mendengar nada suara jari manis yang terkesan begitu
dewasa. Lebih enak menerimanya dibanding omelan kelingking mungil tadi.

"Benar apa yang dikatakan telunjuk, cerpenmu bisa bercerita apa saja.
Tapi sungguhpun begitu, tetap kau menulis cerpen bukanlah untuk dirimu
sendiri, tetapi untuk mereka yang di luar sana. Kau harus membuat
mereka terkesan dengan bahasamu, dengan gaya yang kau bentuk saat
merangkai kata demi kata. Tapi sekaligus kau harus mampu mengangkat
pesan yang menggelisahkan dirimu. Mungkin tidak seluruh pesan akan
terungkap, itu akan sangat tergantung dari kemampuan pembaca untuk
mengapresiasi, tapi paling tidak cerpenmu seharusnya mempunyai lapisan
terluar yang memberi satu pesan terbuka."

"Bagaimana kalau aku hanya ingin bersenda gurau?"

"Bahkan sebuah senda gurau." Jawabnya matang.

"Tapi bukankah menyedihkan kalau pesan humor yang kau selipkan hanya
menjadi lelucon basi dan tertangkap sebagai rasa menyebalkan? Merunut
paragraf demi paragraf, pesan demi pesan, dan meletakkan yang kuat
pada psosisinya yang benar akan membuat cerpenmu menjadi cerpen yang
berharga bagi pembaca. Sebaliknya, kekacauan yang kau buat akan
membuat pesanmu tercecer dan tumpang tindih satu dengan yang lainnya.
Dan cerpenmu hanya menjadi satu tulisan di antara jutaan sampah dunia."

"Jadi?"

"Membuat cerpen itu tidak gampang teman." Si jari manis berkata, lalu
mengakhirinya dengan anggukan sopan saat membungkuk menutup dirinya.

Tinggal aku tertegun semakin bingung.

Dua jari bersetuju, mengarang itu gampang, dan dua jari menolaknya.
Rasanya aku harus mencari jawaban aku pada jari yang tersisa. Yang
ganjil sering menawarkan kebenaran bukan?

Tapi jari tengah itu tak bicara apa-apa. Kutunggu lama, ia tetap diam
tak bersuara. Mengacung tegak di antara empat jari yang tertutup,
memberi pesan yang tegas tanpa kata-kata.

Alamak…!

Bogor, Agustus 2008
Sentaby,
DBaonk
Diberdayakan oleh Blogger.