Muh Sirul Haq
Kekuatan membangun Negara tidak hanya bertumpu pada lembaga yudikatif, legislative dan eksekutif, tapi kekuatan itu perlu ditopang oleh keberadaan media sebagai lembaga ke empat dalam membangun Negara apalagi Negara demokrasi yang dicita-cita kan bersama sekarang ini di era kepemimpinan SBY-JK (Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla). Kenapa media didudukkan sejajar dalam mengiringi pembangunan sebuah Negara di era demokrasi, itu didasari dengan keberadaan media atau pers sebagai kekuatan dalam penyampaian informasi dari lembaga Negara kepada pemegang kedaulatan Negara yakni rakyat. Kekuatan dalam penyampaian informasi Negara yang memiliki kebebasan dengan akses penuh ke berbagai lini pemerintahan, kekuatan mengkritisi lembaga-lembaga Negara tersebut dan terlebih lagi menjadi kekuatan pendobrak utama dalam pengungkapan berbagai kejanggalan dalam pengelolaan Negara yang menyimpang dari aturan seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai kejahatan yang dilakukan aparat negara.
Wartawan adalah Buruh
Diposting oleh sirulhaq
Sang Gadis Amurang
Diposting oleh sirulhaq
Muh Sirul Haq
Dia terduduk di pojok pub, sambil mengutak atik HP nya dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulut seksinya. Ditambah dengan balutan tank top putih ketat yang minim menambah gairah bagi pria yang melihatnya. Sesekali kepulan asap rokok itu keluar dari mulutnya, seakan tanpa ada pria hidung belang yang menatapnya tajam.
Tampak sepintas lalu aku pun memperhatikannya, laganya hidung belang lainnya. Mencari mangsa di deretan restroom menatap setiap wanita yang ada di dalam duduk berbaris sambil mengisap rokok dengan pakaian minim. Tak ada yang manis diantara deretan gadis seksi itu, dan lagi-lagi si gadis yang duduk di pojok pub itu yang jadi pilihan. Dengan gaya malasnya, dia dipanggil sang mami untuk masuk ke dalam dan duduk bersama yang lain. Dan akhirnya dengan wajah malasnya itu, dia menjadi pilihan kami.
Tanpa basa basi dia ikut bersama kami duduk di sofa, dan duduk diantara kami. Saya dan jefri pun mulai berkenalan dengan dia dan tanpa ada basa basi mulailah pertanyaan demi pertanyaan kami ungkapkan. Mulai dari nama hingga kenapa menjadi pelayan pub menjadi pilihannya. Dialogpun berjalan waktu demi waktu dan tak terasa 3 jam terlewati dan seakan sulit untuk dihentikan.
Namanya Linda, tinggal di Amurang umur 23 tahun. Dia menjadi gadis pelayan pub sudah berjalan 6 bulan yang dulunya pelaya di sebuah mall di Manado. Keberadaannya tidak diketahui orang tuanya, bersama dengan teman se profesinyasebanyak 30 gadis belia. Tanpa henti menemani sepinya malam sang hidung belang, dan gadis ini tanpa mengenal malu lagi mendekati sang mangsa, sang laki-laki hidung belang. Ya gadis Manado ini mendapatkan setengah dari biaya menemani kami, sekitar 90 ribu dan ini berarti linda hanya memperoleh 45 ribu aja. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan tapi itu pilihan hidup baginya. Saya sempat menanyakan cita-citanya, ya katanya mau jadi ibu yang baik. Sebuah kondisi kontras antara keinginan dan kenyataan hidup yang harus dilaluinya.
Ya kami bermain pancasila, mungkin dia tidak tau kalo pancasila itu sudah di luar kepalaku. Dan hadiah yang kudapat darinya yaitu pelukan, ciuman di pipi dan dahi. Tepat jam 1 kami bertiga keluar dari tempat tersebut, dengan menggaruk kocek kami senilai 200 ribu rupiah.
Dia terduduk di pojok pub, sambil mengutak atik HP nya dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulut seksinya. Ditambah dengan balutan tank top putih ketat yang minim menambah gairah bagi pria yang melihatnya. Sesekali kepulan asap rokok itu keluar dari mulutnya, seakan tanpa ada pria hidung belang yang menatapnya tajam.
Tampak sepintas lalu aku pun memperhatikannya, laganya hidung belang lainnya. Mencari mangsa di deretan restroom menatap setiap wanita yang ada di dalam duduk berbaris sambil mengisap rokok dengan pakaian minim. Tak ada yang manis diantara deretan gadis seksi itu, dan lagi-lagi si gadis yang duduk di pojok pub itu yang jadi pilihan. Dengan gaya malasnya, dia dipanggil sang mami untuk masuk ke dalam dan duduk bersama yang lain. Dan akhirnya dengan wajah malasnya itu, dia menjadi pilihan kami.
Tanpa basa basi dia ikut bersama kami duduk di sofa, dan duduk diantara kami. Saya dan jefri pun mulai berkenalan dengan dia dan tanpa ada basa basi mulailah pertanyaan demi pertanyaan kami ungkapkan. Mulai dari nama hingga kenapa menjadi pelayan pub menjadi pilihannya. Dialogpun berjalan waktu demi waktu dan tak terasa 3 jam terlewati dan seakan sulit untuk dihentikan.
Namanya Linda, tinggal di Amurang umur 23 tahun. Dia menjadi gadis pelayan pub sudah berjalan 6 bulan yang dulunya pelaya di sebuah mall di Manado. Keberadaannya tidak diketahui orang tuanya, bersama dengan teman se profesinyasebanyak 30 gadis belia. Tanpa henti menemani sepinya malam sang hidung belang, dan gadis ini tanpa mengenal malu lagi mendekati sang mangsa, sang laki-laki hidung belang. Ya gadis Manado ini mendapatkan setengah dari biaya menemani kami, sekitar 90 ribu dan ini berarti linda hanya memperoleh 45 ribu aja. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan tapi itu pilihan hidup baginya. Saya sempat menanyakan cita-citanya, ya katanya mau jadi ibu yang baik. Sebuah kondisi kontras antara keinginan dan kenyataan hidup yang harus dilaluinya.
Ya kami bermain pancasila, mungkin dia tidak tau kalo pancasila itu sudah di luar kepalaku. Dan hadiah yang kudapat darinya yaitu pelukan, ciuman di pipi dan dahi. Tepat jam 1 kami bertiga keluar dari tempat tersebut, dengan menggaruk kocek kami senilai 200 ribu rupiah.
PERUBAHAN
Diposting oleh sirulhaq
Muh Sirul Haq
yuhui....
hidup dalam perubahan zaman
tak ada keabadian.....
yang ada hanya cinta dan persahabatan yang abadi
begitu pula dengan ilmu
tak ada keabadian
yang ada hanya pencarian dan rasa penasaran saja
terkadang kita berfikir
kita tak berbuat apa-apa selain menyerah.....
kesunyian jiwa
dalam hati yang gundah
rindu akan perubahan
namun berubahkah diri ini
sebab tak ada yang berubah
selain kesadaran kita
dan akan berbuat lebih baik lagi////
aku dan kau bukan siapa2
kita hanya terhubung lewat pikiran dan ingatan
dan kita tak selamanya ada
karena keberadaan kita berlalu lintas
terkadang hanya mampir untuk sekedar menegur
dan kesepian adalah tujuan keabadian kita
m sirul haq
eka prahasianti wrote:
yuhui...
+64211864336
ini nox eka...
wah eka tunggu yaa kabarnya!!
btw sudah maq nonton ayat2 cinta?
kabar2i dulu soal perkembangan politik di mks n indo...
supaya pintar2ka sedikit kodong hohohoohhooh
dahanmi dulu nah
nanti di lanjut,
ekalone
huhu
yuhui....
hidup dalam perubahan zaman
tak ada keabadian.....
yang ada hanya cinta dan persahabatan yang abadi
begitu pula dengan ilmu
tak ada keabadian
yang ada hanya pencarian dan rasa penasaran saja
terkadang kita berfikir
kita tak berbuat apa-apa selain menyerah.....
kesunyian jiwa
dalam hati yang gundah
rindu akan perubahan
namun berubahkah diri ini
sebab tak ada yang berubah
selain kesadaran kita
dan akan berbuat lebih baik lagi////
aku dan kau bukan siapa2
kita hanya terhubung lewat pikiran dan ingatan
dan kita tak selamanya ada
karena keberadaan kita berlalu lintas
terkadang hanya mampir untuk sekedar menegur
dan kesepian adalah tujuan keabadian kita
m sirul haq
eka prahasianti
yuhui...
+64211864336
ini nox eka...
wah eka tunggu yaa kabarnya!!
btw sudah maq nonton ayat2 cinta?
kabar2i dulu soal perkembangan politik di mks n indo...
supaya pintar2ka sedikit kodong hohohoohhooh
dahanmi dulu nah
nanti di lanjut,
ekalone
huhu
Warna-Warni Demokrasi di Jeneponto
Diposting oleh sirulhaq
Demokrasi dalam wacana konstektualitas diukur dalam suatu konsep kewilayahan, dapat dikaitkan kondisi Kabupaten Jeneponto sekarang ini. Apalagi Jeneponto sekarang ini lagi hangat-hangatnya menghadapi guliran pilkada, dengan pertarungan berbagai kendaraan politik, simpul-simpul politik akar rumput dan pertarungan wacana yang beragam. Semua itu membuktikan Jeneponto siap menjadi pertarungan berbagai kepentingan politik.
Pertarungan politik yang paling kental, tak lain partai politik sebagai kendaraan riil bagi siapa saja yang ingin maju. Mulai dari partai yang paling kuat jaringan hingga ke akar rumput, kekuatan kader, pendanaan, dan kekuatan primordial kekuasaan. Penguasaan pengetahuan tak dapat pula dielakkan, berupa penggunaan lembaga survey dan tim kampanye yang solid dan mapan memetakan kondisi politik di Jeneponto. Sehingga untuk membaca siapa yang menang tidak terlalu sulit dan tidak perlu di konflikkan.
Terkadang, konflik menjadi saluran nyata politik praktis dalam memenangkan pemilihan. Terutama konflik pada akar rumput yang sengaja dibangun untuk memecah suara, atau untuk melihat seberapa jauh kekuatan lawan. Konflik pada elit politik pun bisa terbuka lebar terjadi, terutama pada perebutan pencalonan yang bisa berimbas pada simpatisan calon. Sehingga pemetaan analisis konflik perlu dilakukan setiap elemen termasuk masyarakat bawah.
Rakyat cenderung hanya sebagai objek bukan pemegang kedaulatan. Telah menjadi rahasia umum, rakyat menjadi bulan-bulanan kepentingan kekuasaan yang ingin merebut kekuasaan ataupun yang ingin mempertahankan kekuasaan. Rakyat dieksploitasi hanya untuk kepentingan meraup suara, tak lebih. Selain itu, jadi saluran buangan slogan-slogan kampanye yang belum tentu riil adanya. Mungkin propaganda slogan kampanye hanya simbol belaka bagi rakyat.
Propaganda para calon bupati pun, harus dipertanyakan kebenaran dan realisasinya. Banyak propaganda calon hanya slogan dan belum terbukti adanya. Mulai dari propaganda memajukan Jeneponto, melakukan perubahan, pendidikan dan kesehatan gratis, hingga upaya merasa dekat dengan rakyat. Padahal kenyataannya, rakyat didekati dan diimingi sesuatu tak lebih hanya pemanis bibir saja. Sehingga propaganda hanya jadi jualan politik belaka, tak ada kepentingan rakyat yang diperhatikan secara nyata.
Rakyat, memiliki andil dan kemauan riil terutama dalam menyentuh hak dasar dan pelayanan publik yang terealisasi. Buktinya, kepentingan rakyat yang disuarakan hanya jadi bahan jualan semata, sementara rakyat tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Apalagi sampai turut serta dilibatkan dalam proses pelaksanaan kebijakan, cenderung rakyat hanya menjadi penonton saja. Passifnya partisipasi rakyat ini, tak terlepas dari political will pemerintah yang memang menutup akses masyarakat umum.
Akses masyarakat hanya terbuka pada pencoblosan calon, tetapi tidak pada pencoblosan realisasi program. Akses masyarakat, dibuka dalam satu gerbong saja. Yakni, gerbong pemilihan tapi tidak meluas pada kebebasan menentukan program apa yang mereka butuhkan dan pengontrolan program agar terealisasi secara mapan dan transparan. Sehingga demokrasi yang coba digulirkan, hanya berkutat pada kalangan elit tapi tidak menyentuh akar rumput.
Harapan, mewujudkan demokrasi di Jeneponto yang penuh warna. Cenderung hanya terwujud dalam bendera-bendera kampanye dan atribut para calon semata. Tapi tidak beragam melihat kebutuhan masyarakat, sehingga yang terlihat hanya satu warna kepentingan. Merealisasikan menjadi penguasa Jeneponto, tapi melupakan kebutuhan beragam masyarakat yang menuntut kesejahteraan. Kita tinggal menunggu saja, apakah warna-warni Demokrasi di Jeneponto dapat terealisasi, insyaallah!
M Sirul Haq
Pertarungan politik yang paling kental, tak lain partai politik sebagai kendaraan riil bagi siapa saja yang ingin maju. Mulai dari partai yang paling kuat jaringan hingga ke akar rumput, kekuatan kader, pendanaan, dan kekuatan primordial kekuasaan. Penguasaan pengetahuan tak dapat pula dielakkan, berupa penggunaan lembaga survey dan tim kampanye yang solid dan mapan memetakan kondisi politik di Jeneponto. Sehingga untuk membaca siapa yang menang tidak terlalu sulit dan tidak perlu di konflikkan.
Terkadang, konflik menjadi saluran nyata politik praktis dalam memenangkan pemilihan. Terutama konflik pada akar rumput yang sengaja dibangun untuk memecah suara, atau untuk melihat seberapa jauh kekuatan lawan. Konflik pada elit politik pun bisa terbuka lebar terjadi, terutama pada perebutan pencalonan yang bisa berimbas pada simpatisan calon. Sehingga pemetaan analisis konflik perlu dilakukan setiap elemen termasuk masyarakat bawah.
Rakyat cenderung hanya sebagai objek bukan pemegang kedaulatan. Telah menjadi rahasia umum, rakyat menjadi bulan-bulanan kepentingan kekuasaan yang ingin merebut kekuasaan ataupun yang ingin mempertahankan kekuasaan. Rakyat dieksploitasi hanya untuk kepentingan meraup suara, tak lebih. Selain itu, jadi saluran buangan slogan-slogan kampanye yang belum tentu riil adanya. Mungkin propaganda slogan kampanye hanya simbol belaka bagi rakyat.
Propaganda para calon bupati pun, harus dipertanyakan kebenaran dan realisasinya. Banyak propaganda calon hanya slogan dan belum terbukti adanya. Mulai dari propaganda memajukan Jeneponto, melakukan perubahan, pendidikan dan kesehatan gratis, hingga upaya merasa dekat dengan rakyat. Padahal kenyataannya, rakyat didekati dan diimingi sesuatu tak lebih hanya pemanis bibir saja. Sehingga propaganda hanya jadi jualan politik belaka, tak ada kepentingan rakyat yang diperhatikan secara nyata.
Rakyat, memiliki andil dan kemauan riil terutama dalam menyentuh hak dasar dan pelayanan publik yang terealisasi. Buktinya, kepentingan rakyat yang disuarakan hanya jadi bahan jualan semata, sementara rakyat tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Apalagi sampai turut serta dilibatkan dalam proses pelaksanaan kebijakan, cenderung rakyat hanya menjadi penonton saja. Passifnya partisipasi rakyat ini, tak terlepas dari political will pemerintah yang memang menutup akses masyarakat umum.
Akses masyarakat hanya terbuka pada pencoblosan calon, tetapi tidak pada pencoblosan realisasi program. Akses masyarakat, dibuka dalam satu gerbong saja. Yakni, gerbong pemilihan tapi tidak meluas pada kebebasan menentukan program apa yang mereka butuhkan dan pengontrolan program agar terealisasi secara mapan dan transparan. Sehingga demokrasi yang coba digulirkan, hanya berkutat pada kalangan elit tapi tidak menyentuh akar rumput.
Harapan, mewujudkan demokrasi di Jeneponto yang penuh warna. Cenderung hanya terwujud dalam bendera-bendera kampanye dan atribut para calon semata. Tapi tidak beragam melihat kebutuhan masyarakat, sehingga yang terlihat hanya satu warna kepentingan. Merealisasikan menjadi penguasa Jeneponto, tapi melupakan kebutuhan beragam masyarakat yang menuntut kesejahteraan. Kita tinggal menunggu saja, apakah warna-warni Demokrasi di Jeneponto dapat terealisasi, insyaallah!
M Sirul Haq
Bugis, Demokratis Sebelum Eropa
Diposting oleh sirulhaq
“Amid all the nation of the East, the Bugis alone have arrived at the threshold of recognized right, and have alone emancipated themselves from the fetters of despotism”
(Brooke, Narrative of Events, 1848:65:66 dalam The Bugis, 1996: 180).
Artinya:
“Di antara semua negara di Timur, hanya orang Bugis satu-satunya yang telah sampai pada tingkat pengakuan hak-hak warga negara, dan satu-satunya bangsa yang bisa membebaskan diri dalam belenggu kedzaliman”
“The women ...are consulted by the men on all publik affairs, and frequently raised to the throne, and that too when the monarchy is elective, ...at public festival, women appear among the men; and those invested with authority sit in their councils when affairs of state are discussid, pssessing, it is often allege, even more than their due share in the deliberation”
(Crawfurd, History: 1820:74 dalam The Bugis 1996:164).
Artinya:
“Perempuan... dimintai pendapat oleh laki-laki dalam semua urusan pemerintahan, dan kerap kali diangkat menjadi raja, padahal pengangkatan raja dilakukan lewat proses pemilihan...Pada acara-acara kerajaan, perempuan juga hadir di tengah kaum pria, duduk dalam sidang yang membahas masalah-masalah kenegaraan, bahkan berhak memberi pertimbangan.
“All of the offices, including even that of Aru Matoah, are open to women, and they actually fill the important posts of Government, four out of the six great chiefs of Wajo being at present females,. These ladies appear in public like the men, ride, rule, and visit even foreigners, without the knowledge or consent of their husbands”
(Brooke, Narrative of Events, 1984:75 dalam The Bugis)
“Semua jabatan kerajaan termasuk Arung Matoa, terbuka bagi perempuan, mereka benar-benar mengisi posisi penting dalam pemerintahan, empat dari enam pembesar utama Wajo adalah perempuan. Mereka tampil di muka umum layaknya kaum pria, menunggang kuda, memerintah, dan juga mengunjungi orang asing tanpa harus sepengetahuan atau meminta izin suaminya.
”.... yang paling bermanfaat adalah perkenalan saya dengan Aroe Pantjana, sekarang seorang janda yang umurnya 40 tahun. Dia sungguh-sungguh wanita berpengetahuan sastra, yang mengarang segala surat penting bagi ayahnya,.....dia sekarang sedang sibuk menulis sejarah Tanete untuk saya”
(Brooke, Narrative of Events, 1848:65:66 dalam The Bugis, 1996: 180).
Artinya:
“Di antara semua negara di Timur, hanya orang Bugis satu-satunya yang telah sampai pada tingkat pengakuan hak-hak warga negara, dan satu-satunya bangsa yang bisa membebaskan diri dalam belenggu kedzaliman”
“The women ...are consulted by the men on all publik affairs, and frequently raised to the throne, and that too when the monarchy is elective, ...at public festival, women appear among the men; and those invested with authority sit in their councils when affairs of state are discussid, pssessing, it is often allege, even more than their due share in the deliberation”
(Crawfurd, History: 1820:74 dalam The Bugis 1996:164).
Artinya:
“Perempuan... dimintai pendapat oleh laki-laki dalam semua urusan pemerintahan, dan kerap kali diangkat menjadi raja, padahal pengangkatan raja dilakukan lewat proses pemilihan...Pada acara-acara kerajaan, perempuan juga hadir di tengah kaum pria, duduk dalam sidang yang membahas masalah-masalah kenegaraan, bahkan berhak memberi pertimbangan.
“All of the offices, including even that of Aru Matoah, are open to women, and they actually fill the important posts of Government, four out of the six great chiefs of Wajo being at present females,. These ladies appear in public like the men, ride, rule, and visit even foreigners, without the knowledge or consent of their husbands”
(Brooke, Narrative of Events, 1984:75 dalam The Bugis)
“Semua jabatan kerajaan termasuk Arung Matoa, terbuka bagi perempuan, mereka benar-benar mengisi posisi penting dalam pemerintahan, empat dari enam pembesar utama Wajo adalah perempuan. Mereka tampil di muka umum layaknya kaum pria, menunggang kuda, memerintah, dan juga mengunjungi orang asing tanpa harus sepengetahuan atau meminta izin suaminya.
”.... yang paling bermanfaat adalah perkenalan saya dengan Aroe Pantjana, sekarang seorang janda yang umurnya 40 tahun. Dia sungguh-sungguh wanita berpengetahuan sastra, yang mengarang segala surat penting bagi ayahnya,.....dia sekarang sedang sibuk menulis sejarah Tanete untuk saya”
BEASISWA AMERIKA
Diposting oleh sirulhaq
Subject: New Scholarship: Brickfish "Hoop Heroes Best Basketball Moves Challenge" Scholarship
New Scholarship
Hi Muhammad,
FastWeb found a new scholarship for you. You qualify for:
Brickfish "Hoop Heroes Best Basketball Moves Challenge" Scholarship
Award Amount: $500
The Brickfish "Hoop Heroes Best Basketball Moves Challenge" Scholarship is open to students who are at least 14 years of age or older. To be eligible for this award, you must submit a video no more than one minute in length or a photo showing off your best original basketball moves.
Login to FastWeb
Featured Scholarships
Decision 2008 Essay Contest
Submit an essay answering questions regarding the 2008 Presidential Election.
Create-a-Greeting Card Scholarship Contest
Design a holiday card, birthday card or all-occasion greeting card.
Gaia Community Scholarship
The Gaia Community Scholarship is available to students aspiring to be the change they wish to see in the world, live authentically and make a difference. You must answer the questions listed on the sponsor's website, one in under 25 words and two in under 250 words per question.
Tell Your Friends About FastWeb
FastWeb identified this scholarship for you using the information you provided in your profile.
Take a few minutes to update your profile today and improve your scholarship matches!
Update your profile
Add webmaster@fastweb.com to your address book to ensure delivery of your scholarship matches.
To manage your FastWeb email preferences or unsubscribe from these emails, visit: http://www.fastweb.com/sp/unsub/awards/CVIY4BM1RVU6
Forgot your FastWeb password? Visit: http://www.fastweb.com/fastweb/help/getpassword
New Scholarship
Hi Muhammad,
FastWeb found a new scholarship for you. You qualify for:
Brickfish "Hoop Heroes Best Basketball Moves Challenge" Scholarship
Award Amount: $500
The Brickfish "Hoop Heroes Best Basketball Moves Challenge" Scholarship is open to students who are at least 14 years of age or older. To be eligible for this award, you must submit a video no more than one minute in length or a photo showing off your best original basketball moves.
Login to FastWeb
Featured Scholarships
Decision 2008 Essay Contest
Submit an essay answering questions regarding the 2008 Presidential Election.
Create-a-Greeting Card Scholarship Contest
Design a holiday card, birthday card or all-occasion greeting card.
Gaia Community Scholarship
The Gaia Community Scholarship is available to students aspiring to be the change they wish to see in the world, live authentically and make a difference. You must answer the questions listed on the sponsor's website, one in under 25 words and two in under 250 words per question.
Tell Your Friends About FastWeb
FastWeb identified this scholarship for you using the information you provided in your profile.
Take a few minutes to update your profile today and improve your scholarship matches!
Update your profile
Add webmaster@fastweb.com to your address book to ensure delivery of your scholarship matches.
To manage your FastWeb email preferences or unsubscribe from these emails, visit: http://www.fastweb.com/sp/unsub/awards/CVIY4BM1RVU6
Forgot your FastWeb password? Visit: http://www.fastweb.com/fastweb/help/getpassword
ODE CINTA KEKASIH SEJATI
Dikeluasan langit dan
bumi
Disemburat senja
merenda malam
Kaulah penyejukku,
penentram jiwaku
Yang senantiasa labil
ini
Bergelora
Mengembara
Berpetualang
Ke lautan luas tanpa
batas
Ke arena yang tak kau
mengerti, tak kau gumuli dan pahami
Mas………
Cinta sejatiku takkan
pernah padam untukmu
Kusimpan, kujaga
Kubawa sampai maut
memisahkan
Mas…. dibawah kendali
liarku
Kau tetap matahariku
Penentram gulita hatiku
dalam galau gulanaku
Yang tak pernah jemu
menunggu malam-malamku
Yang senantiasa
mengguratkan semarak kata
Mengukir sajak,
puisi, prosa, cerpen, dan keindahan sastra
Menjalin persahabatan
luas tanpa batas
Kemanapun kuterbang,
melanglang buana
Mencari secercah ruas
penghilang jemu
Kau tetap menjadi
tempat kembaliku
Pelabuhan terakhirku,
muara kasih hidupku
Dalam dekapmu aku
merasa aman, nyaman dan tentram
Dalam dekapmu aku
tahu bahwa cintamu untukku adalah segalanya
Bagai sumber air mengalir
yang tak pernah mati
Ibarat oase gurun
disaat aku merasa kerontang
Dengan kesabaran yang
tak pernah habis menyelimuti kehangatan jiwamu.
Kutatapi tidur
lelapmu melepas lelah…
Duh, rasa iba
menjalari seluruh sum-sum tulangku yang menggigil
Alangkah indahnya
pengertian antara kita
Meski kutahu kau
telah “terlalu” banyak mengalah
Demi kebahagiaanku.
Sungguh, aku gemetar mengingatnya
Mas…maafkan jika aku telah berkhianat
Maafkan aku jika
telah menelikungkan hati
Pada sesuatu yang
baru saja kutekuni kembali
Menulis, sastra, puisi,
sajak, cerpen,
Teman-teman di dunia
sastra…
Mas….airmataku
menggenangi sudut-sudut hatiku
Dalam kehangatan
kasih yang tak jemu kau beri
Mengarungi perjalanan
hidup bersama
Melewati pengalaman indah kita
Surat cintaku ini abadi untukmu
Selamanya…
Dalam kekokohan
kristal cinta yang tak mungkin retak
Izinkan aku menikmati
apa yang kutempuh saat ini
Izinkan aku meraih
mimpi mimpiku
I love you…from the bottom of my heart
2 Agustus 2008, 09.21
WIB
bumi
Disemburat senja
merenda malam
Kaulah penyejukku,
penentram jiwaku
Yang senantiasa labil
ini
Bergelora
Mengembara
Berpetualang
Ke lautan luas tanpa
batas
Ke arena yang tak kau
mengerti, tak kau gumuli dan pahami
Mas………
Cinta sejatiku takkan
pernah padam untukmu
Kusimpan, kujaga
Kubawa sampai maut
memisahkan
Mas…. dibawah kendali
liarku
Kau tetap matahariku
Penentram gulita hatiku
dalam galau gulanaku
Yang tak pernah jemu
menunggu malam-malamku
Yang senantiasa
mengguratkan semarak kata
Mengukir sajak,
puisi, prosa, cerpen, dan keindahan sastra
Menjalin persahabatan
luas tanpa batas
Kemanapun kuterbang,
melanglang buana
Mencari secercah ruas
penghilang jemu
Kau tetap menjadi
tempat kembaliku
Pelabuhan terakhirku,
muara kasih hidupku
Dalam dekapmu aku
merasa aman, nyaman dan tentram
Dalam dekapmu aku
tahu bahwa cintamu untukku adalah segalanya
Bagai sumber air mengalir
yang tak pernah mati
Ibarat oase gurun
disaat aku merasa kerontang
Dengan kesabaran yang
tak pernah habis menyelimuti kehangatan jiwamu.
Kutatapi tidur
lelapmu melepas lelah…
Duh, rasa iba
menjalari seluruh sum-sum tulangku yang menggigil
Alangkah indahnya
pengertian antara kita
Meski kutahu kau
telah “terlalu” banyak mengalah
Demi kebahagiaanku.
Sungguh, aku gemetar mengingatnya
Mas…maafkan jika aku telah berkhianat
Maafkan aku jika
telah menelikungkan hati
Pada sesuatu yang
baru saja kutekuni kembali
Menulis, sastra, puisi,
sajak, cerpen,
Teman-teman di dunia
sastra…
Mas….airmataku
menggenangi sudut-sudut hatiku
Dalam kehangatan
kasih yang tak jemu kau beri
Mengarungi perjalanan
hidup bersama
Melewati pengalaman indah kita
Surat cintaku ini abadi untukmu
Selamanya…
Dalam kekokohan
kristal cinta yang tak mungkin retak
Izinkan aku menikmati
apa yang kutempuh saat ini
Izinkan aku meraih
mimpi mimpiku
I love you…from the bottom of my heart
2 Agustus 2008, 09.21
WIB
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.